DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Report

A Midsummer Night’s Dream Sebastian Gunawan: Dramatisasi Drama

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Lihat Koleksi →

Cerita klasik karya Shakespare menjadi sumber inspirasi koleksi couture Sebastian Gunawan kali ini.

A Midsummer Night’s Dream merupakan sebuah cerita sandiwara komedi klasik yang ditulis William Shakespare sekitar tahun 1590-an. Kisah ini adalah roman percintaan manusia yang melibatkan dunia peri dengan unsur komedi. Terinspirasi oleh itu, Sebastian Gunawan membawa kita ke dalam sebuah panggung yang ditata menyerupai hutan cantik tempat tinggal para peri, khusus untuk menampilkan 80 koleksi busana couture rancangannya.

Kain Motif Kelopak Bunga

Suara kicau burung serta alunan lagu Loving You dari Minnie Riperton membuka fashion show Sebastian Gunawan. Hadir sebagai pembuka model mengenakan cape dress dengan detail berpotongan uneven hem berbahan chiffon. Dilanjutkan dengan model yang mengenakan mini dress berbahan chiffon dengan detail embroidery.

Hadir juga strapless dress berbahan jacquard dengan detail ruffles ciri khas dari Sebastian Gunawan. Material bermotif bunga pun hadir kembali dengan potongan cape dress, off-shoulders, sabrina, hingga ball gown. Jika melihat koleksi Sebastian Gunawan beberapa tahun terakhir, kain taffeta motif kelopak bunga kerap digunakan dalam koleksi couture-nya. Sekilas tampak seperti kain yang sama tapi dengan warna yang berbeda.

Craftsmanship tak harus Dramatis

Sederet busana berbahan taffeta, jacquard, chiffon, sutra, hingga organza hadir dalam siluet busana klasik dan feminim. Kesan modern pun hadir dalam beberapa busana berpotongan celana. Namun, dalam koleksi ball gown terasa ada yang janggal. Penggunaan crinoline yang terlalu melebar ke samping membuat beberapa busana terlihat seperti bentuk perahu terbalik.

Sebagai couturier versi Asian Couture Federation, Sebastian Gunawan tampak berusaha menegaskan unsur craftsmanship dalam setiap busananya. Namun sayang, dalam beberapa busana usaha itu malah berlebihan dan tampak ganjil. Berbeda dengan kencenderungan couturier dunia yang menghadirkan rancangannya kian wearable.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Tulisan terkait: Couture dan Ready to Wear, Mana yang Lebih Bagus?

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *