DKNY Spring 2017 Collection

Stylist

Ajeng Dewi Swastiari

By  | 
Ajeng Dewi Swastiari

Ajeng Dewi Swastiari

Saya menggambarkan perempuan satu ini seperti danau. Tenang dan cenderung diam. Itu kesan pertama saat melihatnya di sebuah acara fashion show tahun 2013. Mengenakan kacamata hitam dan berbusana serba hitam bergaya maskulin. Berdiri di pintu masuk panggung fashion show sambil sesekali memeriksa telepon selulernya. Tampaknya dia tengah menunggu seseorang.

Cukup lama saya perhatikan hingga akhirnya memutuskan menghampirinya untuk mengambil beberapa gambar dia. Klak klik klak klik. Tak lama setelah itu dia beranjak. Bersama seseorang yang cukup dikenal publik musik Indonesia, Titi Dwijayanti (Titi DJ).

Setahun kemudian saya melihat lagi kehadirannya. Masih dengan busana serba hitam. Bedanya, kini dia berjalan di atas runway Jakarta Fashion Week. Hadir sebagai stylist fashion show-nya Stephanus Hami.

Perempuan berkulit sawo matang yang belakangan saya ketahui bernama Ajeng Dewi Swastiari itu kini duduk di hadapan saya dengan segelas iced cappuchino. Mengenakan kemeja putih dilapisi blazer hitam dengan bawahan dan sepatu yang juga hitam. Potongan rabutnya masih tetap pendek. Tak banyak berubah dari potongan rambut saat pertama kali saya melihatnya.

Janji bertemu dengannya tentu bukan hendak mengkonfirmasi berita yang beredar di media infotainment tentang “kedekatannya” dengan seorang penyanyi terkenal. Tapi untuk menelisik bidang pekerjaan yang dijalaninya, fashion stylist.

Istilah fashion stylist sudah cukup akrab di telinga kita. Tapi, bagaimana orang bisa tertarik menekuninya, apa latar belakangnya, siapa yang dilayaninya, dan bagaimana cara kerjanya masih menjadi pertanyaan, setidaknya bagi saya.

Bukan Tukang Penyedia Baju

Bagi Ajeng, meski bukan satu-satunya faktor penentu, kegemarannya menggambar sejak kecil ikut memengaruhi pilihannya mengambil jurusan fashion stylist/illustrator di Lassale Collage, Jakarta (2005). Sebelumnya sempat belajar di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Padjadjaran, Jatinangor (2004). Namun, karena merasa kurang cocok, dia hanya mampu bertahan kurang lebih setahun.

Tampaknya pilihan belajar fashion stylist/illustrator memang sesuai dengan minatnya. Terbukti, Ajeng sanggup menyelesaikan sekolahnya dan bekerja di bidang itu. Bahkan sejak dia masih kuliah.

Namun, kata dia, menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah secara konsisten ke dalam pekerjaan tak semudah yang dibayangkan. Di pengalaman pertama dia bekerja sempat berselisih dengan produser pembuat iklan tentang deskripsi pekerjaan yang seharusnya dilakukan seorang stylist.Well, ini lapangan. Apa yang terjadi nggak seperti apa yang kamu pelajari di sekolah,” kenang Ajeng menuturkan kata-kata si produser.

Tidak jarang seorang stylist diperlakukan sebatas tukang penyedia baju yang harus selalu tunduk pada keininan klien. Padahal, selain bertukar pikiran, ada tahapan dan proses yang harus dilakukan seorang stylist. Mulai dari membuat konsep, menyusun thematic board, hingga budgeting. Ajeng mencontohkan bagaimana kerja seorang stylist untuk para musisi yang akan manggung. Bukan hanya katakter para musisinya yang harus dia kenali dan momen acaranya, juga detil konsep pertunjukkan hingga pergantian waktu setiap segmen pertunjukannya.

Masa-masa awal dia menjalani pekerjaan sebagai stylist memang banyak mengalami kekagetan. Lebih-lebih saat idealismenya sebagai seorang stylist harus berkompromi dengan tuntutan klien. Namun, kata Ajeng, seiring dengan bertambahnya pengalaman dan orang mulai bisa melihat kapasitas dia, posisi tawar di hadapan klien pun meningkat. “Dengan posisi aku sekarang, mereka minta, karena aku adalah aku,” jelasnya.

Capaian menjadi seorang stylist yang bisa didengar dan memiliki kedudukan sejajar dengan klien tidak diperoleh begitu saja. Selain keseriusan dan konsistensi menjalani bidang pekerjaan tersebut, juga network yang baik. Berkaca pada pengalaman Ajeng, pertemanannya dengan Titi DJ menjadi jembatan pembuka menjalani pekerjaan sebagai stylist untuk kalangan selebritas di dunia hiburan. Dan kini, bukan hanya Titik DJ, beberapa penyanyi dan selebritas lain, seperti Afgan, Rosa, Sherina, Andien, Bunga Citra Lestari, dan Dira Sugandi juga pernah ditanganinya. Belakangan, Ajeng pun mulai mengambil peran sebagai styilist untuk fashion show. Tri Handoko dan Stephanus Hami adalah dua desainer yang pernah berkolaborasi dengannya.

Photo by Sadikin Gani

Ajeng Dewi Swastiari

Hitam Redam Hingar Bingar

Hari sudah berada di puncak siang. Obrolan kami jeda sejenak saat menyadari masing-masing gelas kopi kami sudah kosong. Saatnya memesan gelas kopi kedua.

Obrolan dilanjutkan lagi. Kini saya tergoda untuk mendegar pendapat dia tentang gaya berpakaian orang-orang di Jakarta.

Menurut Ajeng, untuk soal style, Jakarta bisa dibilang maju. Terutama dalam mengadopsi perkembangan style. Sangat cepat. Di lingkungan dia bekerja dan kawan-kawan sepermainannya merupakan orang-orang yang first adapter dalam soal gaya. Namun, kata dia, Jakarta tidak memiliki iklim yang cocok. Gaya apapun yang ingin ditampilkan ujung-ujungnya tetap gaya musim panas (summer). Meski begitu, kata dia, untuk soal kecocokan gaya dengan iklim Jakarta bergantung ke masing-masing orang. “Aku sendiri tipe orang yang ke luar, kemana-mana selalu bajunya kayak winter. ‘Jeng, Jakarta panas banget’, terserah. Terserah baju gua tertutup terus, nggak tahu kenapa,” paparnya.

Tentang gaya perpakaian Ajeng yang selalu didominasi warna hitam bergaya maskulin, dia mengatakan, “Tempat ini, Jakarta, dunia ini udah terlalu out loud di beberapa hal. Di pattern-nya cukup ditenangkan. Orang mau melihat out loud tenang-tenang aja.” Karena itu, dia menghindari mengenakan pakaian ber-pattern warna-warni. “Dan menurut aku, semua perempuan bagus mengenakan baju item. Karena netral banget. Muka pasti jadi kelihatan lebih glowing. Itu pasti,” tambahnya.

Kini, meski baru sebagian kecil saya menelisik sosok Ajeng, tampaknya tidak terlalu salah saat kesan pertama saya melihat sosoknya seperti danau. Melalui pilihan gayanya yang kerap dibalut warna hitam dia memang hendak memberi satu suasana yang bisa meredam out loud Jakarta yang sudah sesak dengan hingar bingar dan bling-bling penuh warna. Ya, suasana yang tenang dan tidak hingar-bingar.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *