DKNY Spring 2017 Collection

IFF

Barat dan Timur dalam Ragam Penafsiran

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Rancangan Rinda Salmun

Acara fashion tahunan yang digelar oleh MNC Channel, I Fashion Festival (IFF) 2014 ditutup pada tanggal 17 Desember 2014 di Kempinski Hotel Indonesia. Seperti 2 hari sebelumnya, fashion show pada acara penutupan ini terdiri dari 2 slot yang menginterpertasikan tema East Meet West. Slot pertama menampilkan desainer luar negeri yaitu Melinda Looi (Malaysia), Soknan (Kamboja), Charles Chua (Filipina), dan Espen Salsberg (Norwegia).

Espen Salsberg, desainer Norwegia yang tinggal di Bali ini menampilkan gaun feminin sebagaimana ciri khas desainnya. Soknan, Charles Chua dan Melinda Loi menampilkan busana ready to wear Spring/Summer 2015. Desainer Malaysia ini bekerjasama dengan pelukis dari Brasil, Andre Mendes untuk memberi corak dalam busananya. Motif berdasarkan dua lukisan dari Andre yang dicetak dengan teknik digital printing di bahan sifon, tafeta, organza, dan kulit. Aksesoris berupa lace, embroidery, dan patchwork menjadikan karya ini punya detail menarik. Selain itu, ditambah pekerjaan tangan berupa embelishment manik-manik dan kristal.

Tafsiran Desainer Indonesia

Sedangkan desainer Indonesia tampil pada slot kedua yaitu Hengki Kawilarang, Rafi Ridwan, Rinda Salmun, Soko Wiyanto, Number 1 by LPTP Susan Budihardjo, dan ditutup dengan Ivan Gunawan. Rafi Ridwan menarik perhatian karena dia desainer termuda (kelahiran tahun 2002). Kali ini menampilkan koleksi dengan tema The Colors of My Soul. Ia bermain-main warna dengan bahan yang akhir-akhir ini sering ia gunakan, tenun ikat Bima. Warna oranye, merah, hijau, dan kuning bagi Rafi berarti semangat dan mimpi yang kuat untuk menjalani hidup. Sedangkan warna biru dan ungu yang ditampilkan menggambarkan keteguhan dan kesabaran Rafi dalam melewati rintangan. Warna-warna ini tersaji dengan teknik tie die (jumputan), batik pesisir, dan tenun ikat Bima. Busana dengan modern cutting dan tambahan draperry serta ruffles dengan potongan asimetris, mengolah bahan-bahan dengan pewarnaan tradisional tampil modern.

Kekayaan tradisional juga ditampilkan oleh Hengki Kawilarang dengan tema Passion Ivy. Menurut Hengki, ia menafsirkan East Meet West yang menjadi tema utama IFF 2014, dengan penggunaan bahan modern dipertemukan bahan tradisional. Organza, brokat, tulle, damask, dan jaquard yang mewakili bahan-bahan dari negeri Barat dipertemukan dengan bordir hasil karya perajin Jogja. Busana yang ditampilkan terinspirasi dari keagungan Queen Elizabeth yang membuat cemburu para perempuan pada jamannya.

Masih tentang perempun, Rinda Salmun ingin menampilkan lekuk tubuh berempuan dengan anggun dalam balutan cocktail dress dan busana kerja. Terinspirasi dari keindahan laut Bunaken (Ambon), Rinda membuat koleksi Spring/Summer 2015 dengan palet warna biru. Juga warna-warna pastel seperti warna koral dasar laut. Selain itu, corak busana berupa bentuk makhluk laut dan koral yang surealis terinspirasi dari artwork karya Dale Chihuly (seniman Amerika). Bahannya berupa lace brocade, gabardine, crape silk, duchess silk, dan jersey. Aksen embelishment dan tambahan bahan kulit menjadi daya tarik dari koleksi ini.

Lain lagi tafsiran Number 1 by Susan Budihardjo. Mempertemukan Barat dan Timur dalam tema Vernacular (bahasa daerah). Mengedepankan inspirasi kreasi busana yang menambahkan unsur tradisional pada busana berpotongan modern. Kata fashion, style, number 1, east, dan west ditulis dalam aksara Jawa dengan digital printing. Bahan-bahan yang beragam memberikan efek beda. Duchess silk yang tebal menghasilkan efek cetak yang terang dan mengilap. Organza yang tipis menerawang memberikan efek samar. Sedangkan jacquard dan denim memberikan efek matte. Bahan-bahan tersebut menjadi busana dengan potongan longgar dan lurus. Beberapa detail unik ditambahkan untuk menarik perhatian misalnya membalikkan kerah ke belakang blus. Tujuannya untuk menekankan kesan maskulin dan edgy pada koleksi yang disajikan. Ada pula terusan yang dipadu dengan flowy long jacket transparan memberi kesan feminin dan elegan.

Sebagai penutup, Kedjora karya Ivan Gunawan. Sebetulnya tema ini sudah hadir di Jakarta Fashion Week 2015. Ivan menambahkan beberapa koleksi dengan tema serupa. Inspirasi Ivan dari perasaan cinta yang menggebu tapi tertahan. Ia membayangkan sebuah perasaan yang bertolak belakang. Karenanya, dalam satu busana dia menghadirkan sesuatu yang berlawanan. Misalnya busana yang menggunakan bordir bunga yang terkesan romantis di atas bahan hitam yang berkesan dingin. Tema ini mewarnai 14 koleksi busana laki-laki dan perempuan yang tampil malam itu. Berupa gaun pendek, two pieces, gaun 7/8, long dress, jumpsuit, jaket bomber, hingga gaun dengan jubah.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *