DKNY Fall 2017 Collection

Stories

Batik, Kebersamaan dalam Selembar Kain

By  | 

batik-inkaKecintaan pada batik, mengalir begitu saja. Tumpukan kain batik milik almarhum nenek yang biasa saya panggil Nini, adalah pemandangan lazim di lemari ibunda. Saya anggap hal biasa, lazim, tak ada yang istimewa.  Meski helaian kain kuno itu merenggut perhatian secara halus, seiring dengan berjalannya waktu. Saat kuliah, dengan bangga kain batik itu dikenakan saat acara istimewa, lengkap dengan kebaya milik almarhum nenek. Mungkin sejak itulah, batik mulai menempati tempat di hati, meski tanpa disadari.

Pekerjaan sebagai wartawan, membuat diri ini mengenal batik dengan lebih jauh.  Tak jarang, penugasan liputan membuat saya beberapa kali bersentuhan langsung dengan para pengrajin batik.  Melihat bagaimana helaian kain tanpa warna, menjelma menjadi kain aneka warna, dan aneka pola. Dan ternyata, semua dibuat oleh tangan terampil para pengrajin . Bagaimana ada banyak waktu dihabiskan, untuk menghasilkan batik sebagai maha karya. Perlahan, batik bukan lagi menjadi helaian kain tanpa makna dan tanpa cerita.

Inilah wujud kecintaan begitu banyak manusia, yang telah ada sejak berabad silam. Menjadi bagian budaya yang mengakar sejak lama. Dalam tradisi yang mengakar kuat di bumi Nusantara.

Ketika melihat para perajin bekerja, simpul pemahaman saya mulai terbuka. Bahwa satu lembar kain, tidak datang dari satu orang saja. Batik bukanlah karya satu individu. Ada banyak tangan dan kepala untuk selembar kain.

Bahkan ketika kain masih dibuat tangan, ada tangan terampil mereka yang memintal dan menenun benang. Kain pun berpindah tangan, dan dimulailah proses panjang dari mulai membuat pola, mencanting , hingga mencelup warna. Pekerjaan belum selesai. Jangan lupakan proses menutup bagian kain dengan malam, untuk mengatur warna yang diinginkan pada pola. Begitu seterusnya, yang tentu saja tidak hanya dikerjakan satu orang semata.

Pun dengan batik cap. Meski menggunakan alat dari lempengan tembaga, jangan bayangkan ini adalah pekerjaan sederhana. Potongan tembaga yang telah dibentuk sesuai pola, membutuhkan ketelitian luar biasa untuk menghasilkan pola cantik di sehelai kain. Pembuatan pola dengan lempengan tembaga sekaligus proses pewarnaan, seluruhnya menggunakan tangan terampil para pengrajin. Satu millimeter saja berbeda, akan menghasilkan pola yang tidak penuh dan indah dipandang mata.

Inilah pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kecintaan, penuh ketekunan oleh para pengrajin batik. Selembar kain batik seolah menjadi saksi bisu semangat kebersamaan individu yang membuatnya. Ada banyak  curahan tenaga, pikiran dan hati yang tertuang didalamnya.

Ada kisah yang menggerakkan sendi kehidupan banyak individu dalam selembar kain. Inilah tradisi tangan, mata dan telinga yang diturunkan turun temurun dari satu generasi kepada generasi berikutnya dengan bahasa tutur.

Untukku, kini batik tidak hanya sehelai kain tanpa makna.  Menghargai tradisi, mencintai Indonesia dengan cara sederhana melalui batik, akan bergantung kepada kita semua. Untuk menghormati dan menghargai tradisi yang mengakar kuat sejak begitu lama. Agar batik bisa hidup seribu tahun lagi.

Teks: Inka Prawirasasra / Foto: Reno Permana

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *