Alexander Wang

Fashion Report

Bird Paradise di Mata Sutanto Danuwidjaja

By  | 

sutanto-5303

Lihat Koleksi →

Keindahan ragam jenis burung rekat di 24 gaun coctail  karyanya. Saat diperagakan, kita akan mengingat betapa keindahan burung itu teramat rapuh, suatu hari bisa tidak ada lagi.

Kenapa burung? Itu pertanyaan yang dilontarkan usai fashion show. Awalnya, Sutanto susah menjawab. Karena inspirasi kadang datang begitu saja, tanpa alasan, tanpa bisa dijelaskan. Sampai kemudian ia mengingat, sebuah momen saat di Cina. “ Di bandara, saya melihat gambar burung hong dengan bulu yang indah sekali. Keindahan warna bulu itu mengingatkan saya dengan burung-burung di Indonesia,” ujarnya. Burung-burung di Indonesia yang kehilangan rumah dan punah menginspirasi Sutanto untuk menorehkannya dalam desain. Agar orang mengingat, banyak burung yang punah di Indonesia bila habitatnya tidak terjaga.

Saat membuat desain, ia mengandalkan imaginasi warna-warni burung dari negeri Cina. Warna bulu merak,mandarin duck, dan kombinasi dari warna-warna menyala burung Mandarin lainnya. Yang menarik adalah soal detail dari gaun ini. “Detail saya bikin 3 dimensi,” katanya. Menggunakan bahan tile, tafeta dan sutra bermotif dengan bordir yang ditumpuk sehingga menjadi tiga dimensi. Bahkan, ranting dan daun juga digunakan dalam desain ini.

Selain itu, warna-warna yang disajikan menggunakan teknik air brush sehingga seperti lukisan. Karenanya, warna solid seperti biru, merah, kuning, hijau, putih, hitam dan perpaduan warna lainnya bisa dihadirkan di sini dengan indah. Teknik laser cutting juga digunakan untuk menghadirkan detail yang rapi.

Semua itu diramu menjadi gaun semi pesta dalam bentuk siluet, simpel, dan body fit. Semua warna dan bentuk itu membuat perempuan yang memakainya merasa percaya diri dan ‘tertantang’ untuk memakai.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *