DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Report

“Borneo Off Beat”, Membawa Sulam ke Kalimantan

By  | 

Photo by Ria Penta

Bila Kalimantan terkenal dengan manik-manik, kali ini Lenny Agustin menghadirkan busana bermotif khas Kalimantan itu dengan teknik sulam.

Motif tradisional merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Lebih jauh lagi, motif merupakan lambang untuk berkomunikasi. Motif tersebut bisa kita temukan di ukiran, kain, dan kerajinan lain. Mengambil motif untuk diaplikasikan ke media lain merupakan salah satu ide kreatif menampilkan kekhasan Indonesia.

Kali ini, Lenny bekerjasama dengan YSI (Yayasan Sulam Indonesia) dan PT. Antam menyajikan motif Kalimantan dengan teknik sulam dalam busana ready to wear di fashion show Indonesia Fashion Week 2015, 28 Februari. Bertema “Borneo Off Beat”, Lenny menampilkan kekayaan Kalimantan dengan cara yang beda.

Off Beat adalah keluar dari jalur. Jadi kalau Kalimantan itu manik-manik seperti tas saya ini. Tapi kali ini motif-motif Kalimantan diaplikasikan dengan teknik sulam,” kata Lenny sambil menunjukkan tas manik-maniknya. Di situlah desainer busana berperan. Menyajikan kekayaan tradisional menjadi lebih kreatif dalam busana yang siap pakai.

Bagi Lita Jonathans (YSI), ide membawa sulam ke Kalimantan Barat, khususnya Pontianak merupakan tantangan tersendiri. “Di Kalimantan sama sekali tidak ada sulam. Bahkan di daerah juga tidak ada sulaman,” kata Lita. YSI ingin mencoba membuka wawasan baru di Pontianak tentang sulam.

Lita memilih teknik needle weaving atau weaving embroidery untuk menyajikan motif-motif Kalimantan dalam bentuk sulaman. Needle weaving merupakan teknik menyulam dengan menghitung (counted embroidery) di setiap tusukannya. Bila salah satu tusukan saja, harus dibongkar.

Teknik ini lumayan sulit dibanding freestyle embroidery karena harus menghitung. Ada dua alasan mengajari teknik ini kepada penyulam pemula. Menurut Lita, alasan pertama karena motif-motifnya bisa berkaitan dengan chemistry budaya di Pontianak. Kedua, penyulam harus fokus. Bila sudah menguasai counted embroidery, maka ketika akan menyulam teknik lain akan lebih mudah.

Hasilnya, kain yang sekilas mirip dengan tenun. Karena sulaman diaplikasikan ke seluruh permukaan bahan. Untuk mewujudkan dalam bentuk busana pun merupakan tantangan tersendiri. Biasanya desainer membuat dari kain yang tersedia. Khusus untuk sulaman ini, Lenny membuat pola busana terlebih dahulu. Kemudian baru disulam, sehingga motifnya bisa pas, sesuai dengan desain busana yang dikehendaki.

Siluet yang dihadirkan dalam Borneo off Beat kebanyakan merupakan siluet longgar. Dress, blouse longgar, celana pendek, jaket, dan rompi dihadirkan dalam fashion show. Wearable lebih simpel, kesan yang ditampilkan dari 20-an koleksi busana. Cutting sederhana ingin menonjolkan sulaman. Teknik blocking sulaman yang justru bermain. Bulat, kotak, dan bentuk bangun yang disulam dengan rapi merupakan daya tariknya. Desain cheerfull dan colourfull sebagai ciri khas Lenny selama ini tampak jelas di keseluruhan busana.

Teks: Titik Kartitiani / Foto: Ria Penta

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *