DKNY Spring 2017 Collection

From The Pit

Brand Fashion, Saatnya Menepis Ilusi

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Beberapa bulan lalu saya dimintai pendapat oleh seorang pemilik brand baru (sebut saja Deta) yang berniat menggelar fashion show di sebuah ajang fashion cukup besar di Jakarta. Menanggapi itu, pertanyaan saya adalah, apa yang kamu harapkan dari sana? Apakah sudah mempertimbangkan untung ruginya secara bisnis? Biaya untuk menggelar fashion show di ajang tersebut tidak sedikit. Untuk satu slot fashion show berdurasi tidak lebih dari 30 menit dibandrol 285 juta rupiah. Jumlah yang menurut ukuran saya sangat besar, meski menurut satu sumber masih bisa ditawar. Belum termasuk tetek-bengek biaya lain yang kerap luput dari perhitungan, serta curahan pikiran dan tenaga yang harus dikeluarkan.

Tekad Deta tampaknya sudah cukup bulat. Dengan sigap dia menanggapi pertanyaan saya. Dia yakin bahwa keikutsertaannya di ajang tersebut dapat memberi peluang memperoleh sorotan pers. Setidaknya masuk dalam pemberitaan dan publikasi yang dijanjian penyelenggara acara. Soal biaya yang besar, dia menyiasatinya dengan menggaet dua brand lain untuk ikut tampil. Dengan begitu, biaya yang harus dikeluarkan jadi lebih ringan. Tak hanya itu. Dia pun mondar-mandir menyebar proposal mencari dukungan sponsor ke beberapa perusahaan.

Keinginan Deta menggelar fashion show kian menarik perhatian saya saat dia katakan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah “buang uang demi branding.Wow,” pikir saya kaget. Uang kok dibuang? Bukankah branding justru untuk mengundang uang? Rumus sederhananya adalah “menabur untuk menuai”. Menabur tidak sama dengan membuang. Menabur adalah menanam untuk meraih lebih. Buruk-buruknya, apa yang ditabur harus bisa kembali utuh tak kurang sepeser pun. Itulah bisnis!

Dalam kekagetan, saya mencoba mengajukan beberapa pandangan. Pertama, siapa yang bisa menjamin fashion show sebuah brand akan mendapatkan sorotan pers secara khusus? Kalau hanya disebut dalam pemberitaan, apalah artinya? Tidak sebanding dengan biaya, tenaga dan pikiran yang dikeluarkan. Apalagi jika ajang tersebut diikuti pula oleh brand-brand/desainer yang sudah lebih dikenal pers dan masyarakat. Soal bagus atau tidak, pers akan lebih bersemangat untuk menyoroti brand/desainer yang sudah dikenal orang. Selain pers di Indonesia cenderung bernyanyi koor dalam soal fashion. Apalagi bila pemilik brand-nya seorang selebritas. Hampir bisa dipastikan pemberitaannya akan selalu “manis”.

Sangat sedikit jurnalis yang cukup punya tenaga dan pengetahuan untuk menelisik brand/desainer yang punya harapan ke depan. Jika brand kita biasa-biasa saja, apalagi baru muncul, kecil kemungkinan akan mendapatkan perhatian. Bahkan, kalaupun memiliki keunggulan, tidak berarti dengan sendirinya akan mengundang sorotan, karena tidak semua jurnalis fashion memahami fashion sekalipun berpredikat fashion editor. Seperti menghadapi angin, kita tidak punya kendali akan berhembus kemana perhatian pers. Karena itu, jangan pernah menyimpan harapan tinggi-tinggi. Disorot, ya syukur, tidak disorot, ya relakan tanpa penyesalan. Tinggal kita bertanya lagi pada diri kita, apakah mau menghadapi kondisi seperti itu?

Kedua, fashion show hanyalah salah satu saluran dari sekian banyak saluran pemasaran. Sama halnya dengan publikasi pers. Bukan satu-satunya! Menurut saya, akan lebih baik jika kita berhitung cermat, lalu mengambil langkah cerdik. Apakah biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah fashion show sebanding dengan keuntungan yang akan diraih?

Lebih jauh lagi, jika koleksi yang digelar adalah ready to wear, apakah tidak sebaiknya uang yang kita punya dialokasikan untuk biaya produksi dan pemasaran yang lebih efisien tapi cukup mengenai sasaran? Kalaupun kita cukup punya energi, bukankah sebaiknya dicurahkan untuk membereskan urusan produksi yang menjadi kewajiban pokok sebuah brand daripada habis terkuras hanya untuk “membujuk rayu” calon sponsor?

Cara berpikir seperti itu yang tampaknya belum dipahami oleh banyak brand/desainer fashion di Indonesia, yang baru maupun lama. Cara pikir yang melompat jauh, karena tidak memahami dasar-dasar bisnis fashion. Padahal di era digital seperti sekarang, ada begitu banyak saluran pemasaran yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari yang gratisan hingga yang berbayar. Dan jika kita bicara media sebagai saluran pemasaran, saat ini kita tengah hidup di era new media yang memungkinkan kita mengkreasi konten pemasaran tanpa bergantung pada otoritas para editor di majalah cetak (old media). Ada begitu banyak saluran pemasaran di depan mata, mengapa tidak dimanfaatkan sedemikian rupa? Old media memang tidak mungkin ditinggalkan sepenuhnya, tapi jangan sampai kita lupa pada era di mana kita berada. Era yang memungkinkan setiap orang bisa dengan merdeka membuat konten pemasaran dan menyalurkannya secara merdeka pula. Jadi, mengapa tidak mulai mencoba sebelum Anda benar-benar tenggelam dalam ilusi seperti Deta?!

Teks dan foto: Sadikin Gani

1 Comment

  1. Gadis Sukandar

    29/03/2016 at 2:18 PM

    Siang mas..

    perkenalkan saya Gadis dari NAVA store, jakarta. saya suka sekali baca tulisan mas, objektif banget.. dan pastinya suka sama hasil fotografinya dong..
    mas, saya mau tanya.. apa mas bersedia datang ke toko saya, meliput… untuk dimuat di blog mas.. mas boleh cek web saya http://www.nava-id.com , saya akan senang sekali kalau mas bersedia. Toko saya di Ruko Bintarop Persada, Tanah Kusir, Jakarta selatan. Silakan hibungi saya anytime di 087-888888-011 (Gadis) atau via email.

    Terima kasih banyak untuk waktunya ya mas.

    Gadis Sukandar

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *