DKNY Hybrid Watch Collection

Fashion Report

Breaking Good!, Kolaborasi Desainer dan Pengusaha Garmen

By  | 

desainer-garmen

Indonesia Fashion Week (IFW) 2014, bukan hanya unjuk kreativitas dalam pagelaran busana tapi juga mengedepankan sisi bisnisnya. Salah satu kendala dunia fesyen, masing-masing berjalan sendiri-sendiri.  Desainer berkutat dengan kreativitasnya dan kerap tidak mempertimbangkan sisi bisnis. Sehingga karyanya tak sampai ke konsumen. Sementara pengusaha garmen, desainnya tidak menarik karena tidak ada yang mendesain dengan bagus. “IFW menghubungkan pengusaha dengan desainer,” kata Dina Midiani, direktur IFW.

Pengusaha yang tergabung dalam APGAI (Asosiasi Pengusaha Garmen Indonesia) bekerjasama dengan desainer untuk menciptakan karya yang dipamerkan dalam ajang Fashion Show IFW 2014, 23 Februari 2014 dengan tema Breaking Good!.  Kolaborasi yang mengubah pandangan selama ini bahwa desainer hanya mementingkan art dan pengusaha hanya mementingkan bisnis. “Sebelumnya kita sudah memilih ‘DNA’ dari masing-masing brand disesuaikan dengan desainer, lalu ketemulah kolaborasi ini,” tambah Dina. Mereka adalah The Executive, Hammer, Color Box, dan Coconut Island.

Walau sudah disamakan, tetap saja butuh proses kerjasama dalam menciptakan desain. Misalnya Deden Siswanto dengan desain lekat dengan gaya ekletik mendesain untuk Hammer yang kasual. “Ini pertama kali saya kolaborasi dengan industri garmen. Saya harus membuat kolaborasi antara art dan kasual,” kata Deden. Lahirlah tema Edwardian, busana yang dibuat kasual tapi dengan detail art khas Deden.

Tantangan yang sama juga dihadapi Putu Aliki saat mendesain untuk Coconut Island. Brand yang biasanya menampilkan busana berkarakter vintage urbane ini mengajak Putu dengan karakter desain edgy. “Tapi kami punya kesamaan, sama-sama suka streetwear,” kata Putu. Baginya, bergabung dengan industri garmen lokal baru pertama kali, sebelumnya pernah bergabung dengan industri kain. Perpaduan karakter Coconut Island dengan sentuhan Putu Aliki menghadirkan Ganesh. Dewa yang dipuja umat Hindu menjadi inspirasi desain. Hanya saja tema ini dibawa menjadi bentuk yang wearable dengan memberikan sentuhan unsur grafis khas Putu Aliki.

Sementara itu, ada juga Color Box yang menggandeng Number 1 untuk mendesain koleksi Free and Leave The Box. Number 1 dari LPTB Susan Budihardjo ini menghadirkan busana ready to wear untuk remaja. Mengangkat sisi romantis dari dunia remaja dengan busana streetwear yang wearable.

Selain itu, kolaborasi yang unik terjalin antara The Executive dan Hannie Hananto. Brand yang terkenal dengan desain busana kerja ini mengajak Hannie yang kerap mendesain hijab. “Awalnya terkejut juga, kan The Executive biasanya mendesain busana kerja. Ternyata memang mengeluarkan hijab tapi tetap khas The Executive,” kata Hannie. Ia menggunakan ciri khas The Executive yang city looks, warna monokromatik, lantas diterapkan dalam desain busana muslim.

Teks: Titik K./ Foto: Bayu Raditya Pratama

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *