DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

Fashion Report

Busana Pengantin Sederhana Sarat Makna

By  | 

tas-era-soekamto-ipmi-trendshow-2015-2643

Lihat Koleksi →

Terispirasi dari filosofi modern dan filosofi Jawa, Era Soekamto menyajikan busana pengantin sederhana namun sarat dengan nilai.

11:11 Memayu Hayuning Bawono menjadi tema yang diangkat oleh Era Soekamto untuk koleksi Couture 2015. Koleksi ini menampilkan 24 pilihan gaun pengantin Indonesia, merupakan percampuran Jawa dan internasional.

Memanyu hayuning bawono merupakan filsafat masyarakat Jawa, artinya memperindah keindahan dunia. Manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisik dan spiritualnya. 11:11, merupakan konsep sinkronitas. Beberapa filsuf meyakini bahwa melihat 11:11 pada jam merupakan tanda keberuntungan. Namun sebagian meyakini bahwa 11:11 merupakan sinyal kehadiran roh.

Dengan mengambil tempat di area white cube, Bazaar Fashion Festival 2014, Era Soekamto membuat dekorasi yang unik. Ruangan yang serba putih dihiasi dengan pohon yang kering di sudutnya. Visualisasi langit jingga dengan video mapping dan penambahan efek asap. Hal ini sejalan dengan konsep bawana di masyarakat Jawa. Bawana merupakan tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup setelah mati.

So, the soul as the universe, a story about love, infinity love, God, sepenggal puisi di layar mengawali fashion show koleksi Couture 2015 Era Soekamto kali ini. Model pembuka berjalan mengenakan busana kebaya kutu baru putih dengan payet silver dan penambahan cape bebahan tulle. Selanjutnya hadir cape dress berpotongan kebaya putih dengan detail kerah ruffle ala Victorian.

Sederet busana kebaya dengan penambahan cape serta pengaplikasian konsep kain wiron menggunakan batik dan tenun dengan warna monokrom. Juga pengaplikasian detail mutiara dan kristal dengan motif vintage victorian, di atas kebaya dengan warna pucat seperti putih, off white, abu–abu, dan nude membuat koleksi tampak indah dan sakral.

Dengan warna yang cinderung pucat, serta pengaplikasian detail kristal dan mutiara yang sederhana, membuat tehnik draping yang dekonstruktif menjadi point utama pada koleksi ini. Berlatarkan musik Eropa klasik, fashion show ini ditutup oleh busana pengantin berupa gaun putih menjuntai dengan luaran berpotongan kebaya yang diberi detail kristal pada bagian krah dan dada.

Busana pengantin rancangan Era Soekamto ini terlihat lebih sederhana bila dibandingkan dengan busana pengantin kebanyakan. Namun hal ini sejalan dengan tema Memayu Hayuning Bawono yang mengandung pelajaran tentang mengendalikan hawa nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *