DKNY Fall 2017 Collection

From The Pit

Catatan dari Pit Fotografer

By  | 

pit-fotografer-8320

Pit fotografer adalah bagian penting dalam sebuah peragaan busana. Perlu upaya serius dalam pengelolaannya. Adanya aturan yang jelas dan tegas dari penyelenggara, serta kedisiplinan dari para fotografer adalah keharusan yang tak bisa ditawar-tawar.

05 Desember 2013, pukul 20.00 WIB. Saya sudah menempati pit fotografer Bazaar Fashion Concerto 2013. Bertempat di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC). Tak perlu berebut tempat atau dulu-duluan datang untuk mendapatkan posisi memotret. Dari sekian banyak peristiwa peragaan busana yang saya hadiri, baru kali ini menemukan pit fotografer yang diatur dengan baik. Pihak penyelenggara sudah mengkapling tempat untuk setiap fotografer/media terdaftar. Sehingga orang tak bisa mengklaim tempat seenaknya. Kita pun tak perlu berebut tempat dengan fotografer lain, termasuk fotografer “selundupan” atau yang menyelundupkan diri.
Pengalaman baik ini sungguh melegakan, karena soal tata-tertib di pit fotografer masih belum menjadi perhatian utama banyak penyelenggara fashion show di Jakarta.

Informasi tentang Pit Fotografer

Dalam sebuah pagelaran busana seperti fashion week, fotografer memiliki peran penting selain desainer, buyer dan fashion editor yang menjadi aktor utamanya. Peran itu tak berubah meski format media sudah mengalami perubahan—cetak ke digital. Fotografer tetap penting!

Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya jika catatan seorang fashion editor tanpa disertai foto busana yang di-review-nya. Sebaliknya, sebuah foto malah mungkin bisa bercerita banyak sekalipun hanya disertai dengan keterangan pendek.

Dalam konteks fashion week di Indonesia, terlepas dari perannya yang masih sebatas showcase, seperti pernah diungkapkan Didi Budiardjo, salah seorang designer ternama Indonesia, peran fotografer tak bisa diabaikan karenanya. Pit fotografer sebagai ruang kerja dalam peristiwa peragaan busana harus dikelola dengan baik, sehingga mampu menciptakan rasa aman dan nyaman selama para fotografer bekerja. Selain tentu saja pit-nya itu sendiri harus dirancang dengan baik. Disesuaikan dengan jumlah fotografer yang akan meliput.

Panjang dan lebar sebuah pit harus disesuaikan dengan runway dan posisi tempat duduk undangan. Jangan sampai fotografer yang mendapatkan tempat paling pinggir di barisan depan tak bisa mengambil gambar dengan baik karena terhalang tempat duduk undangan. Demikian pula soal jarak dari pit ke ujung runway. Jangan terlalu dekat, atau sebaliknya. Jangkauan lensa 70mm untuk mendapatkan pose seluruh tubuh model bisa dijadikan sebagai dasar perhitungan jarak dari pit ke ujung runway/titik model berpose.

Fotografer itu Penting, tapi…

Keberadaan fotografer jelas penting dalam sebuah peragaan busana. Begitu pun media yang mempublikasikannya. Namun demikian, pihak penyelenggara tetap harus membuat aturan dan tata tertib yang jelas dan tegas, termasuk sanksinya. Jangan karena butuh publikasi, menjadi abai terhadap keteraturan.

Apa yang saya alami dalam peliputan Bazaar Fashion Concerto 2013 bisa dijadikan pelajaran. Pihak penyelenggara sudah menandai pit fotografer berdasarkan nama medianya. Sebelum itu mereka pun sudah melakukan konfirmasi media apa saja yang akan datang meliput dan berapa jumlahnya. Setiap media diberi jatah satu tempat di pit. Reporter dan fotografer tambahan ditempatkan di tribun. ID pers untuk fotografer yang ditempatkan di pit diberi tanda khusus. Berbeda dengan ID pers yang ditempatkan di tribun.

Dalam surat konfirmasi pihak penyelenggara memberikan keterangan berapa jarak dari pit dan tribun ke panggung untuk menyesuaikan lensa yang selayaknya dibawa oleh fotografer. Tak hanya itu, sejam menjelang acara dimulai, penyelenggara membawa para fotografer menyurvei tempat. Saya merasakan sebuah keteraturan yang selama ini belum saya temui di beberapa ajang peragaan busana lain di Jakarta.

Hal lain yang juga penting untuk diperhatikan oleh penyelenggara pagelaran busana adalah pembatasan jumlah fotografer dan seleksi media, serta prosedurnya. Sebaiknya fotografer yang mengambil gambar di pit diprioritaskan bagi media yang benar-benar fokus ke soal fesyen.

Terkait dengan itu adalah prosedur peliputan. Pihak penyelenggara harus tegas. Jika sudah memberlakukan jadwal waktu registrasi peliputan, tak ada alasan untuk memberi ijin masuk fotografer yang belum mendaftar dan menyatakan kepastian hadir. Ketegasan dari pihak penyelenggara bisa memberi pelajaran bagi fotografer/awak media yang tidak disiplin dan tidak taat prosedur.

Ada satu pengalaman. Penyelenggara mewajibkan setiap fotografer melakukan pendaftaran online dalam rentang waktu yang sudah ditentukan. Dalam praktiknya, itu dilanggar sendiri oleh pihak penyelenggara dan menjadi sia-sia, karena siapapun yang membawa ID Pers (media fesyen maupun bukan) dan belum melakukan pendaftaran bisa masuk. Sebaliknya, yang sudah terkonfirmasi dan mendapat ijin peliputan justru terkendala karena tidak membawa ID Pers.

Konfirmasi dan pemberian ijin ini penting diberlakukan dan ditaati, karena kapasitas pit terbatas. Jika itu bisa dilakukan jauh-jauh hari, akan memberikan kenyamanan baik bagi para fotografer maupun pihak penyelenggara peragaan busana. Tidak ada kompromi bagi fotografer yang tidak mentaati prosedur. Dengan begitu akan terhindar pula dari hadirnya pehobi fotografi “selundupan” dan “penumpang gelap” yang hasil fotonya hanya berakhir di hard disk komputer.

Mudah-mudahan catatan kecil ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *