DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Business

Catatan Kecil dari Fashionlink, Jakarta Fashion Week

By  | 

img_1318-3

Dunia mode tak selamanya dunia glamor. Di balik gemerlap fashion show, ada kerja keras para desainer dan penjahit menghasilkan selembar busana. Lebih dari itu, harapan akan transaksi bisnis dari busana yang ditampilkan.

Buyer’s Room, demikian tempat sebuah harapan akan transaksi bisnis terwujud. Lima tahun kemudian diubah namanya menjadi Fashionlink, sebuah area terpusat tempat para calon pembeli yang diundang dari mancanegara dapat melihat-lihat, menilik, dan berinteraksi secara dekat dengan desainer atau pemilik brand. Tidak hanya itu, para buyer atau retailer profesional yang diundang khusus oleh Jakarta Fashion Week ini tentunya juga diharapkan dapat memboyong koleksi-koleksi busana dari si desainer atau brand yang ada di Fashionlink ke pasar global. Kesuksesan pengadaan Buyer’s Room di tahun pertama yang diamini pula oleh beberapa desainer memicu Jakarta Fashion Week untuk kembali mengadakannya kembali di tahun-tahun berikutnya.

Perubahan nama juga memberi perubahan akses. Bila di tahun-tahun awal area ini merupakan daerah terlarang bagi pengunjung biasa atau pembeli individual, sejak dua tahun lalu Fashionlink sudah terdiri atas dua kategori. Pertama, Fashionlink Showroom yang berlangsung pada dua hari pertama dan ditujukan khusus untuk buyer atau retailer internasional. Kedua, Fashionlink Market yang terbuka bagi siapa saja, termasuk pengunjung biasa, buyer atau retailer lokal, dan pembeli individual yang memang memburu koleksi desainer atau brand mode Indonesia.

Di tengah riuh perhelatan Jakarta Fashion Week dan padatnya jadwal peliputan, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Fashionlink yang dihelat di The Hall Senayan City. Dahi saya berkerut melihat keadaan di sekitar area Fashionlink yang tidak terlalu ramai, malah cenderung sepi, terutama di area dalam The Hall yang diperuntukan bagi para desainer dan brand mode terpilih. Mengapa sepi sekali, benarkah ada buyer atau retailer yang datang ke sini? Apakah para desainer, berhasil menjual karyanya di Fashionlink?

Di Balik Sepinya Fahion Link

“Memang benar, tidak ada penjualan dengan nilai transaksi sampai puluhan juta rupiah, tapi ya memang mendatangkan buyer untuk membeli itu bukan perkara mudah,” kata Sapto Djojokartiko, desainer pertama yang saya temui. Sapto pernah memasarkan koleksi busananya secara eksklusif di departement store Harvey Nicols saat membuka cabangnya di Jakarta beberapa tahun lalu. Rancangannya kerap memadukan unsur tradisi dalam nuansa ultra feminin, klasik, romantis sekaligus tegas.

Sapto menerangkan bahwa kesan sepinya Fashionlink bukan menjadi halangan baginya untuk tetap berpartisipasi. Menurutnya, dengan diadakannya Fashionlink, Jakarta Fashion Week telah berusaha untuk membuka kemungkinan meluaskan bisnis mode di Indonesia ke skala global dan melatih para desainer untuk tidak hanya sekadar merancang busana tetapi juga berpikir ke arah bisnis yang lebih dalam.

Fashionlink memacu desainer untuk tidak hanya berpikir tentang merancang koleksi yang “wah”, tapi juga bagaimana mengemas, mempresentasikannya di stan dan langsung kepada calon buyer, dan menyesuaikan koleksinya dengan pasar,” tambahnya. Bagi Sapto, desainer tak mestinya berhenti pada membuat busana avant-garde, pemberitaan media sangat bagus tapi bisnisnya tidak berjalan. Selain berkarya yang terbaik, sisi bisnis harus diperhatikan, karena itu Fashionlink sangat penting.

Soal pentingnya Fashionlink ini juga diungkapkan oleh Sean & Sheila yang dibangun oleh lengkapnya Sean Loh dan Sheila Agatha, keduanya alumni Raffles Design Institute Singapore lulus tahun 2012.

img_1330-2

Sean Loh dan Sheila Agatha

“Kami ikut Fashionlink sejak dua tahun lalu, awalnya karena memang ada kewajiban dari Indonesia Fashion Forward, tapi kini kami berpikir bahwa acara seperti Fashionlink ini penting untuk melatih kami dalam berbisnis,” kata Sean. Ia tak bayangkan ada puluhan buyer datang. Ada yang datang, belasan, tidak semuanya akan membeli. Sisi lainnya, meski tak banyak buyer yag datang, tetapi mereka perhatian sekali.  Kadang ada sesi one on one dengan desainer, dan mereka memberi masukan yang sangat membantu desainer dalam mengembangkan brand. Sebagai gambaran, Sean & Sheila dan merengkuh penghargaan Harper’s Bazaar Asia New Generation Award untuk dua wilayah regional, Malaysia dan Indonesia.

Inilah sisi tidak glamornya dari fashion, mereka berjuang sangat keras. Sheila dengan luwes mengungkapkan pikirannya tentang salah kaprah pemikiran masyarakat awam tentang dunia mode karena faktor pemberitaan media. Media massa menurutnya terlalu banyak mengungkapkan tentang kemudahan-kemudahan dan sisi glamor dari dunia mode, padahal kenyataan di lapangan tidak seperti itu.

Ada banyak desainer mode, termasuk mereka berdua yang harus bekerja mati-matian tidak hanya demi eksistensi dan konsistensi tetapi juga demi bisnisnya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapakan. Jika merancang busana tidak mereka lakukan setiap hari, tapi berupaya untuk melakukan penjualan dan pematangan strategi bisnis mereka lakukan tanpa henti atas dasar kesadaran bahwa segi bisnis merupakan salah satu aspek terpenting di dunia mode. Investasi pun dilakukan, salah satunya dengan mengikuti Fashionlink.

“Tapi, Fashionlink not bad loh. Today not bad at all, ada saja buyer individual yang datang ke stan kami dan membeli koleksi kami,” tambah Sheila. Pembeli-pembeli yang datang memang ingin mencari koleksi desainer-desainer yang mereka sudah tahu namanya karena melihat fashion show atau mendapatkan informasi dari media dan lain sebagainya. Mereka ini pembeli yang terdidik tentang fashion, dan mereka juga senang karena mayoritas desainer yang membuka stan di Fashionlink memberikan penawaran spesial.

Kisah Yosafat Tentang Pahitnya Paris

Lain lagi komentar Yosafat Dwi Kurniawan. “Jangan dipikir saya langsung senang dan lega saat ada buyer yang membeli koleksi saya. Wah saya malah deg-degan sekali karena bebannya juga sangat besar,” kata Yosafat, generasi pertama program Indonesia Fashion Forward. Ia merasakan asam garam program Buyer’s Room hingga berubah nama menjadi Fashionlink. Sudah lima tahun berturut-turut ia terlibat di dalamnya, membuka stan koleksi busana dan berinteraksi langsung dengan calon-calon pembeli alias buyer mancanegara. Koleksinya pun pernah diboyong beberapa buyer ke berbagai belahan dunia, tapi baginya hal tersebut tidak hanya menjadi pencapaian, namun juga beban yang tidak terelakan.

Yosafat Dwi Kurniawan

Yosafat Dwi Kurniawan

Dari pengalaman itu, ketika ada yang membeli ia justru bertanya-tanya, apakah koleksi berikutnya akan dibeli juga atau tidak? Kedua, apakah koleksinya bisa bersaing atau “jualan” di sana (tujuan distribusi produk oleh buyer)?

Desainer mode berkacamata ini lantas mengingat kisahnya saat menjejakan kaki di Paris Fashion Week pada tahun 2013 silam. Kepergian Yosafat ke Paris Fashion Week membawa misi tersendiri, ia akan membuka stan di sana. Dengan penuh percaya diri akan koleksinya yang paling mutakhir kala itu, Yosafat membawa ekspetasi tinggi akan Paris Fashion Week. Ia yakin benar bila koleksinya saat itu akan terlihat berbeda yang menjadi angin segar dimata para buyer internasonal. Hal ini didasarkan puji-pujian publik dan keyakinan yang diberikan mentornya di program Indonesia Fashion Forward. Ia tidak pernah menyangka Paris akan mematahkan hatinya dan berubah menjadi kota yang tidak ia sukai.

I believe this is a movement. Fashionlink bagus untuk latihan, biar nggak nangis di bawah Menara Eiffel seperti saya,” kenangnya getir. Pengalaman di Paris kemudian menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Yosafat. Dari sana ia belajar tentang bisnis mode yang penuh perjuangan dan melalui serangkaian proses panjang. Salah satu proses yang ia lalui adalah melatih diri mempersiapkan persaingan global di ajang Fashionlink Jakarta Fashion Week. Ia percaya bahwa Fashionlink merupakan salah satu sarana pembelajaran terbaik bagi desainer mode, terutama desainer muda sebelum memberanikan diri melangkah ke pasar global, itu sebabnya ia tidak pernah lelah mengikuti Fashionlink sejak awal diselenggarakan.

Perbincangan dengan keempat desainer mode tadi seperti oase yang menyegarkan rasa penasaran dari pertanyaan-pertanyaan yang berkelindan seputar Fashionlink Jakarta Fashion Week. Dari perbincangan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa kondisi di Fashionlink bukan hal yang aneh bagi mereka yang bergelut di bisnis mode karena lumrah terjadi di berbagai ajang serupa lainnya. Fashionlink justru membuka kemungkinan-kemungkinan dan memupuk potongan-potongan harapan berkembangnya bisnis mode Indonesia ke pasar global. Bagi saya salah satu yang terpenting, Fashionlink menepis imajinasi glamor dunia mode dengan realitas lapangan yang berisi perjuangan dan kerja keras tanpa henti para desainer dan brand mode dalam mempertahankan bisnisnya agar periuk nasi tetap dapat terisi.

Teks dan Foto: Armadina Az

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *