DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

From The Pit

Catatan Selepas Jakarta Fashion Week 2015 (2): Fashion KW dan Plagiarisme

By  | 
Priyo Oktaviano, Jakarta Fashion Week 2015

Priyo Oktaviano, Jakarta Fashion Week 2015

Saat memutuskan membuat catatan selepas Jakarta Fashion Week 2015 (JFW 2015), mulanya perhatian saya lebih tertuju pada soal seberapa besar peristiwa tersebut memberi pengaruh pada perkembangan industri fashion Indonesia. Itu sebabnya dalam tulisan sebelumnya (Catatan Selepas Jakarta Fashion Week 2015) saya akhiri dengan pertanyaan: “dari 2.600 lebih look yang tampil di JFW 2015, berapa banyak yang berhasil menggaet buyer ritel (bukan perorangan), berapa desainer/label yang berhasil membuat kesepakatan bisnis dengan mereka; serta seberapa besar skala bisnisnya.”

Pertanyaan itu penting, karena fashion week yang saya pahami adalah peristiwa bisnis di industri fashion. Bukan kemeriahan sebatas pameran baju tanpa membawa implikasi pada soal keuntungan jual beli pakaian beserta aksesorisnya. Singkatnya, fashion week adalah arena pemasaran produk fashion. Sayang, sampai tulisan ini dibuat saya belum berhasil menemukan satu pemberitaan pun yang bisa dijadikan sumber jawaban atas pertanyaan di atas. Perhatian saya justru teralihkan oleh dua hal menarik terkait JFW 2015.

Pertama, tentang pernyataan Svida Alisjahbana (CEO Femina Group) dalam konferensi pers pembukaan JFW 2015, 01 November 2015. Dia mengatakan bahwa JFW menciptakan trend fashion dan ikut mendorong perkembangan industri fashion Indonesia. Hal itu antara lain bisa dilihat dari banyaknya produk “KW-an” (tiruan/palsu) dari koleksi-koleksi yang tampil di JFW (lihat transkrip rekamannya. Mohon dikoreksi bila saya tidak tepat menangkap isi pesannya). Pernyataan itu mengagetkan sekaligus mengundang pertanyaan besar. Apakah itu bisa disebut keberhasilan, atau justru kemunduran?

Kedua, munculnya isu dugaan plagiarisme yang dilakukan Priyo Oktaviano, salah seorang desainer Dewi Fashion Knights (DFK), terhadap karya Prabal Gurung koleksi ready-to-wear Fall 2014 yang dirilis pada Februari 2014 lalu. Meski Majalah Dewi (selanjutnya saya tulis Dewi) tidak memberikan penjelasan yang mencukupi atas isu tersebut, pada 11 November 2014, melalui situs resminya Dewi mengumumkan telah menerima pengunduran diri Priyo Oktaviano sebagai salah satu desainer DFK 2014 (lihat isi pengumumannya). Dinyatakan pula bahwa “Kami (Dewi-ed) menghormati dan menghargai keputusan tersebut untuk kebaikan industri fashion Indonesia.”

Kedua peristiwa itu memang terpisah dan tak saling berhubungan. Menariknya, ada satu isu yang mempertemukan keduanya, yaitu soal plagiarisme dan hak cipta. Saya mendapat kesan, dalam dua kejadian itu soal plagiarisme dan hak cipta tidak dipandang sebagai persoalan genting yang harus ditanggapi serius. Padahal, dalam konteks memajukan industri fashion Indonesia hal itu merupakan salah satu masalah mendesak yang harus ditangani.

Fashion KW sebuah Keberhasilan?

Mengukur keberhasilan memajukan industri fashion Indonesia bukanlah perkara mudah. Maraknya pagelaran bertajuk “fashion” tidak bisa dijadikan sebagai ukuran. Apalagi sudah merasa puas dengan itu. Keberhasilan memajukan industri fashion pun tidak bisa ditakar hanya dari banyaknya desainer/label yang menghasilkan sekian banyak karya. Dalam konteks industri, pertanyaan akan selalu bermuara pada, apakah karya-karya tersebut mampu diubah menjadi uang sehingga signifikan secara ekonomi. Artinya, apakah karya-karya tersebut berkualitas sekaligus laku dijual secara massal? Jika ya, apakah para desainer/label memiliki kemampuan bisnis untuk membaca dan memenuhi tuntutan pasar dalam logika industri? Pertanyaan akan terus berlanjut sampai pada titik seorang desainer/label mampu memainkan “irama musik” industri yang signifikan secara ekonomi. Kemampuannya bukan lagi bermain di arena layanan pesan perorangan, tatapi ribuan hingga jutaan pelanggan.

Dalam satu kesempatan, seorang perajin batik organik yang terpilih masuk ke buyers room pernah bertanya kepada saya. Apa yang harus saya lakukan jika karya saya diminati buyer sementara saya belum sanggup memenuhi permintaannya? Cerita serupa datang juga dari seorang desainer muda. Kala ada buyer yang meminati karyanya gagal mencapai kesepakan karena tak sanggup menjamin dapat memenuhi permintaan buyer. Itu adalah sebagian kecil dari sekian banyak persoalan klasik yang melingkupi dunia fashion Indonesia. Persoalan penting sekaligus genting di balik kesan glamor sebuah fashion show.

Tentu bukan hal mudah menangani rumitnya persoalan tersebut. Bukan perkara yang bisa dipecahkan dalam waktu lima sampai sepuluh tahun. Paris-Prancis misalnya. Keberhasilan kota itu meraih predikat kota fashion dunia setelah melalui perjalanan panjang sejak era Charles Fredrick Worth (1850-an). Worth seperti kita tahu, tidak hanya berpikir dan bekerja untuk menghasilkan karya fashion berkualitas, dia pun ikut terlibat mendirikan Chambre Syndicale (asosiasi perdagangan) yang mengemban misi mengembangkan industri fashion Prancis. Salah satu perannya adalah mengatur legalitas haute couture (Dylan Essertier, A Brief Story of Fashion Week).

Tidak berlebihan Indonesia punya mimpi setara Prancis, dan Jakarta setara Paris selama kita menyadari bahwa untuk meraih itu perlu kerja keras dan kesungguhan banyak pihak. Sekalipun perjalanan masih panjang, setidaknya kita sudah punya kesadaran bahwa upaya memajukan industri fashion Indonesia tak bisa diraih dengan cara bluffing di media tentang apa yang kita kerjakan dan hasilkan.

Bicara bagaimana usaha memajukan industri fashion Indonesia, saya punya catatan menarik untuk dibagi. Kejadiannya berlangsung saat tanya jawab dalam konferensi pers JFW 2015 (1 November 2014). Kala itu ada seorang wartawan (Kabar Indo) yang menyampaikan pertanyaan cukup menggelitik. Intinya dia bertanya tentang peran pemerintah dalam memfasilitasi para pelaku UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di pasar Tanah Abang yang secara bisnis sangat potensial. Selain ekspansif, juga massif. Pertanyaan itu sebenarnya diarahkan pada Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta yang turut hadir di acara tersebut. Namun, sebelum wartawan itu selesai berbicara, Svida Alisjahbana memotong. “Saya mempunyai jawaban yang tepat dengan mewakili Pak Arie. Saya mempunyai jawaban yang tepat untuk Anda,” kata dia.

Dia memulai paparannya dengan menjelaskan pengaruh Milan dan Paris Fashion Week terhadap industri fashion di dunia, yang dia istilahkan dengan trickle down. Meski istilah itu kurang tepat, saya bisa menangkap maksudnya. Intinya, trend pakaian yang muncul di Milan dan Paris Fashion Week menjadi rujukan para produsen fast fashion seperti Zara dan H&M untuk membuat pakaian serupa dengan kualitas dan harga yang jauh lebih rendah, hingga para produsen barang KW di Cina untuk membuat tiruannya.

Dalam konteks JFW, dia menjelaskan bahwa JFW berhasil membawa trend yang berdampak pada perkembangan industri fashion Indonesia. Lantas dia pun menyinggung Dewi Koleksiana (koleksi-koleksi pakaian pilihan Dewi).

“Kalau Anda tadi ngomong Tanah Abang dan Thamrin, dan sebagainya, kagetnya saya, indahnya melihat ini (Jakarta Fashion Week-ed), dan saya yakin seluruh grosir-grosir fashion di seluruh Indonesia, Koleksiana itu ada di stall tersebut. Udah lusuh. Lalu mereka bicara: ‘ini loh, ini gayanya Itang (Itang Yunasz-ed), tapi KW-an’. Maaf ya, Itang di sini. Tapi Itang pun menyadari, bahwa dia melahirkan trend di Jakarta Fashion Week. Dan akhirnya akan membuat trend di seluruh Indonesia. Kalau kita ke Tanah Abang, itu yang terjadi. Itu dari fashion yang di sini (Jakarta Fashion Week-ed), yang memang harganya jutaan, itu akan menjadi KW yang dari harga 200 ribu sampai 1 juta,” papar Svida.

“Apa yang membanggakan di sini?” sambungnya. “Ekonomi bergulir. Industri garmen pun, dari yang kelas kakap sampai kelas KW yang artinya bikin sendiri, sistem mandiri, berjalan. Itu indahnya Jakarta Fashion Week,” kata dia mengakhiri paparannya.

Paparan Svida cukup mengagetkan. Bukan hanya karena dia tidak menjawab pertanyaan, juga karena menyebutkan fakta banyaknya barang KW sebagai bagian dari langkah maju industri fashion Indonesia. Mungkin betul bahwa produsen barang KW bisa menyerap tenaga kerja, tetapi menempatkan bisnis tiruan/pemalsuan sebagai salah satu ukuran keberhasilan memajukan industri fashion Indonesia sungguh absurd.

Pertama, jika yang hendak dikemukakan adalah peran JFW dalam memajukan industri fashion Indonesia, bisa memulainya dengan penjelasan paling sederhana. Tinggal menunjukkan data akurat kesepakatan bisnis antara desainer/label pakaian dengan para buyer (bukan pembeli satuan) yang terjadi di JFW. Berapa jumlah uang yang dipastikan akan bergulir dari kesepakatan tersebut, sehingga signifikan secara ekonomi (dalam lingkup Indonesia). Dari sekian banyak look yang tampil di setiap JFW, berapa item pakaian yang berhasil menarik minat para buyer untuk memasarkannya. Bagaimana perkembangannya dalam setiap pelaksanaan JFW sejak 2008. Dalam konteks itu, tidak perlu bicara dulu besarannya, ada dan mampu memaparkan data-data itu saja sudah sebuah kemajuan.

Kedua, menjadikan barang KW-an dari koleksi-koleksi yang tampil di JFW sebagai ukuran keberhasilan memajukan industri fashion Indonesia sungguh menyesatkan. Usaha memproduksi barang KW adalah pelanggaran terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang harus diberantas. Dan upaya membantu penyelenggara negara memberantasnya harus menjadi bagian dalam memajukan industri fashion Indonesia. Jika tidak, untuk apa capek-capek membuat fashion week jika puas berakhir di barang KW dan bangga karenanya.

Plagiarisme Sebatas “Konon”

Masih di seputar perhelatan JFW 2015. Belum reda rasa kaget saya mendengar pernyataan Svida Alisjahbana, sehari setelah JFW 2015 digelar, kembali saya dikagetkan oleh dugaan pelanggaran HAKI. Beredar informasi Priyo Oktaviano melakukan penjiplakan.

Seperti kita ketahui, pergelaran rancangan karya Priyo Oktaviano di JFW 2015 pada 7 November 2014 malam (kurang lebih pukul 19.30 WIB) merupakan bagian dari persembahan Dewi (bertajuk Dewi Fashion Knights/DFK) dalam memberikan dukungan terhadap fashion Indonesia. Dalam situs resmi DFK disebutkan bahwa “DFK tak hanya bertujuan merayakan para talenta mode lokal yang telah membuktikan eksistensinya,” juga “turut memberikan kesempatan bagi generasi muda berbakat untuk membuktikan diri” (lihat About Dewi Fashion Knights).

Designer Indonesia yang berhasil terpilih menjadi DFK adalah mereka yang dinilai berprestasi. Priyo adalah salah satunya. Tak hanya sekali. Penampilan Priyo sebagai ksatria fashion di pagelaran JFW 2015 adalah yang keenam kalinya.

Tanpa diduga, di saat banyak media masih sibuk memberitakan kemeriahan JFW 2015, beredar informasi adanya dugaan plagiarisme yang dilakukan Priyo Oktaviano (8 November 2014) terhadap karya Prabal Gurung. Perbincangan pun marak mewarnai halaman-halaman media sosial. Berbagai komentar muncul. Dari yang terkaget-kaget hingga yang mencemooh.

Pergunjingan di seputar itu terus berkembang, meski belum ada berita resmi menyangkut masalah itu. Informasi tentang dugaan plagiarisme baru muncul di beberapa media setelah Dewi pada 12 November 2014 melalui situs resminya (dan Facebook Page-nya) menyampaikan informasi tentang pengunduran diri Priyo Oktaviano dari DFK sehari sebelumnya. Dalam informasi berjudul Perkembangan Terbaru Dewi Fashion Knights 2014 disebutkan bahwa “pada 11 November 2014, Dewi menerima pengunduran diri Priyo Oktaviano sebagai salah satu desainer DFK 2014. Kami menghormati dan menghargai keputusan tersebut untuk kebaikan industri fashion Indonesia.” Selain keterangan itu, tak ada penjelasan resmi tentang alasan Priyo mengundurkan diri dari DFK maupun alasan Dewi menerima pengunduran diri tersebut. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada informasi lanjutan yang secara resmi dikeluarkan oleh Dewi.

Saya dan mungkin banyak orang lain di luar sana jadi bertanya-tanya, mengapa Dewi sebagai pihak yang memayungi DFK tidak (atau belum?) segera memberi penjelasan terbuka? Apakah pengunduran diri Priyo dari DFK dapat diartikan sebagai pengakuan tidak langsung bahwa dirinya menjiplak karya Gurung? Apakah sikap Dewi menerima pengunduran diri Priyo bisa diterjemahkan bahwa memang benar Priyo melakukan penjiplakan?

Serba belum jelas hingga muncul pernyataan dari Dewi menanggapi komentar saya terhadap informasi pengunduran diri Priyo di Facebook Page Dewi (12 November 2014). Berikut petikan komentar saya (ditulis miring):

Jika hal ini (benar) terkait dengan soal beberapa rancangan Priyo Oktaviano mirip (atau copas?) Prabal Gurung Fall 2014, kok rasanya tidak adil Majalah Dewi menerima pengunduran diri Priyo Oktaviano dengan menyebutkan “untuk kebaikan industri fashion Indonesia”. Bukankah setiap rancangan yang masuk ke DFK dikurasi/diuji kelayakannya? Tak selayaknya beban masalah itu hanya ditanggung oleh Priyo Oktaviano. Menurut saya, terlepas dari Priyo Oktaviano mengundurkan diri atau tidak, tim kurasi DFK-lah yang seharusnya bertanggungjawab.

Selang sehari komentar saya ditanggapi oleh majalah Dewi (13 November 2014). Berikut petikannya (ditulis miring):

Dalam dunia kreatif dan intelektual, plagiarisme merupakan sebuah kejahatan. Kita semua sudah mengetahui hal ini. Yang bertanggung jawab terhadap perbuatan itu adalah pelakunya. Dalam dunia jurnalisme misalnya, ketika jurnalis atau penulis melakukan plagiarisme jarang sekali atau tidak serta-merta tindakan tersebut langsung diketahui media yang memuat karya-karyanya. Setelah mengetahuinya, media yang bersangkutan memiliki tanggung jawab untuk memberikan sanksi dengan tidak memuat lagi tulisan atau karya sang jurnalis atau penulis tadi. Menurut pendapat saya, berdasarkan pengetahuan, wawasan dan pengalaman saya selama bekerja di bidang jurnalisme dan kreatif, tindakan yang dilakukan Majalah Dewi sudah tepat dan merupakan tanggung jawab yang sudah seharusnya dilakukan untuk menghargai hukum dan hak cipta, juga menghormati dunia kreatif serta intelektual.

Plagiarisme menyangkut mentalitas. Biasanya, ketika seseorang melakukannya, maka karya-karya sebelumnya juga akan diperiksa. Sebab dia pasti melakukannya tidak hanya sekali. Dan sayangnya, semua kasus plagiarisme di dunia membuktikan bahwa ketika seseorang melakukan plagiarisme, dia cenderung mengulanginya lagi dan tidak pernah berhenti.

Saya setuju atas tanggapan tersebut, bahwa plagiarisme adalah kejahatan. Dan yang seharusnya bertanggungjawab (diberi sanksi) adalah pelakunya. Itu sudah jelas, tak perlu diperdebatkan lagi. Pendapat saya yang menyebutkan bahwa “tim kurasi DFK-lah yang seharusnya bertanggungjawab” bukan berarti bahwa sanksi plagiarisme ditimpakan kepada mereka. Tanggungjawab yang saya maksud adalah: jika benar Priyo Oktaviano terbukti melakukan penjiplakan, maka Dewi selaku pihak yang memilih dan mengusung Priyo Oktaviano harus berbesar hati mengakui secara ksatria bahwa salah satu desainer pilihannya telah melakukan penjiplakan dan memberi sanksi atas tindakan tersebut. Dengan begitu menjadi jelas, bahwa sikap menerima pengunduran diri Priyo dari DFK memang didasari alasan plagiarisme.

Sampai pada titik bahwa plagiarisme adalah kejahatan, saya bisa menangkap sikap Dewi, meski hal itu belum diaktualisasikan pada tindakan nyata menangani dugaan penjiplakan yang dilakukan Priyo Oktaviano. Namun, kembali menjadi kabur saat saya membaca revisi (tambahan kalimat) komentar majalah Dewi atas komentar saya di atas (lihat screen shot perubahannya). Berikut petikannya (ditulis miring):

Di luar pendapat saya sebagai pribadi di sini, Dewi, Femina Group dan JFW secara umum menentang plagiarisme.

Tambahan komentar itu membuat sikap Dewi yang semula mulai jelas kembali membingungkan dan kabur. Komentar tambahan itu menunjukkan bahwa Dewi, termasuk Femina Group dan JFW bersikap ambigu. Di satu sisi menentang plagiarisme, tetapi di sisi lain (secara tersirat) tidak menyepakati paparan utuh komentar administrator resmi Facebook Page Dewi. Padahal menurut saya, seluruh isi komentar tersebut tidak bertentangan secara substansi. Justru sebaliknya, kian menguatkan pijakan berpikir kita mengapa harus menentang plagiarisme.

Sungguh sayang hal itu terjadi di saat saya dan mungkin banyak orang menunggu-nunggu sikap tegas Dewi dalam menangani tindakan tak terpuji salah satu ksatrianya. Wajar bila kredibiltas Dewi, termasuk Femina Group dan JFW yang konon bertekad memajukan industri fashion Indonesia mulai dipertanyakan orang. Logis pula bila kemudian muncul pendapat, bagaimana Dewi, Femina Group dan JFW mampu berperan mendorong kemajuan industri fashion Indonesia yang sarat persoalan pelik jika menangani satu orang bermasalah saja tak berani lantang bersuara dan bersikap tegas?

Industri fashion Indonesia ibarat bayi yang baru belajar melangkah. Setapak demi setapak. Suka atau tidak, perjalanan dan rintangan yang harus dilalui pun teramat panjang. Akan sangat bermakna bila di langkah pertama belajar berjalan itu dimulai dengan sikap tegas menghadapi satu rintangan bernama plagiarisme. Sehingga “setting fashion future” Indonesia pun kelak bisa berkilau.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

Lampiran 1

Transkrip pernyataan wartawan Kabar Indo (Arul) dan Svida Alisjahbana dalam konferensi pers Jakarta Fashion Week 2015, 01 November 2014.

Arul (Kabar Indo):

Saya ingin meninggalkan Senayan City sebagai malnya yang sangat berkelas. Coba kita mengarah, pak Arie, ke mal UKM yang di Tanah Abar. Apa kabar dengan mal tersebut? Karena, kalau kita berbicara fashion, itu tentu pasar. Bu Svida tentu akan sepakat dengan saya bagaimana teman-teman di Indonesia Fashion Forward itu butuh pasar untuk bisa menempatkan produknya dan bisa massif, karena tentu ini kelasnya itu tidak hanya butik dan yang lain, tapi bagaimana bidang bapak di Pari bisa memfasilitasi beberapa pasar kita yang sangat potensial, pak. Tanah Abang dan Pasar Pagi Mangga Dua itu sekarang sudah bisa berhubungan dengan Malaysia, Brunei dan yang lain…

Svida Alisjahbana (CEO Femina Group):

Saya mempunyai jawaban yang tepat dengan mewakili Pak Arie. Saya mempunyai jawaban yang tepat untuk anda. Karena ini adalah… Seperti fashion week dunia lain. Milan Fashion week, Paris Fashion Week, itu adalah yang paling atas, yang terbaik dari kota tersebut. Itu akan trickle down. Masuk ke Zara, masuk ke H&M, masuk ke yang murah-murah, bahkan sampai ke KW-KW yang di Cina.

Yang sudah dirasakan dari Jakarta Fashion Week ini… Memang ini Jakarta Fashion Week adalah tempatnya untuk memperagakan karya bangsa yang terbaik. Tetapi, kami pun mengerti, jadi bangsa yang terbaik adalah menjadi role model bagi seluruh fashion Indonesia. Oleh sebab itu, dalam media planning dari Femina Group, kami lalu mengeluarkan yang disebut Dewi Koleksiana.

Kalau Anda tadi ngomong Tanah Abang dan Thamrin dan sebagainya, kagetnya saya, indahnya melihat ini (Jakarta FashionWeek-ed), dan saya yakin seluruh grosir-grosir fashion di seluruh Indonesia, Koleksiana itu ada di stall tersebut. Udah lusuh. Lalu mereka bicara adalah: ‘ini loh, ini gayanya Itang (Itang Yunasz-ed), tapi KW-an’. Maaf ya Itang di sini. Tapi Itang pun menyadari, bahwa dia melahirkan trend di Jakarta Fashion Week. Dan akhirnya akan membuat trend di seluruh Indonesia.

Kalau kita ke Tanah Abang, itu yang terjadi. Itu dari fashion yang di sini (Jakarta Fashion Week-ed), yang memang harganya jutaan, itu akan menjadi KW yang dari harga 200 ribu sampai 1 juta.

Apa yang membanggakan di sini? Ekonomi bergulir. Industri garmen pun, dari yang kelas kakap yang sampai kelas KW yang artinya bikin sendiri, sistem mandiri, berjalan. Itu indahnya Jakarta Fashion Week.”

Lampiran 2

Screen shot Komentar Awal dan Revisi/Tambahan Komentar Majalah Dewi

dewi-priyo-case-compare

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *