DKNY Fall 2017 Collection

From The Pit

Catatan Selepas Jakarta Fashion Week 2015

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Ilustrasi: Karya Oscar Lawalata di Jakarta Fashion Week 2015

Jakarta Fashion Week 2015 (JFW 2015) baru saja berakhir (07 November 2014). Konon, peristiwa yang sudah diselenggarakan sejak 2008 iitu merupakan pekan mode tahunan terbesar di Indonesia, dan paling berpengaruh di Asia Tenggara (lihat halaman About JFW). Meski belum jelas tolok ukurnya, untuk sementara bolehlah kita merasa senang, karena Indonesia tak hanya layak jadi tempat pemasaran, juga mampu membuat karya yang pantas diberi penghargaan. Seperti diakui oleh JFW sendiri, bahwa perhelatannya “telah di diakui oleh para profesional di industri mode, seperti jurnalis, buyer, fotografer, stylist bahkan model-model internasional” (lihat Ibid). Ini pengakuan serius yang tidak sembarangan. Semoga.

Sebagai orang yang terlibat dalam liputan JFW 2015, waktu-waktu saya memang lebih banyak dihabiskan di pit fotografer. Namun, tidak berarti perhatian saya hanya tertuju pada pengambilan gambar di runway. Saya pun berusaha pasang mata dan telinga untuk mengkonfirmasi apakah pemahaman saya tentang “fashion week” bisa ditemukan di JFW 2015.

Sepengetahuan saya, fashion week adalah peristiwa bisnis di industri fashion (lihat Menengok Sejarah Fashion Week di Dunia). Ajang para desainer mempresentasikan karyanya ke hadapan para jurnalis (kepentingan publikasi dan pembentukan opini); para buyers (kepentingan pemasaran), dan belakangan para fashion blogger berpengaruh. Perhelatan fashion week menempati posisi penting dalam industri fashion. Bisa dibilang merupakan wahana ujian bagi para desainer untuk menakar seberapa mampu dia membuat karya berkualitas yang berpotensi laku dijual.

Kita ambil contoh London Fashion Week (LFW). British Fashion Council (BFC) sebagai penyelenggara LFW membuat ketentuan cukup berat bagi setiap desainer yang ingin mempresentasikan karyanya di LFW (lihat halaman Aplikasi LFW). Dia harus membuat pakaian ready-to-wear, sudah menjalani bisnis fashion minimal 3 tahun, dan memiliki paling sedikit 6 stockist (tempat penjualan), yang salah satunya harus di ritel Inggris. Selain itu, harus juga mengantongi dua referensi. Disarankan berasal dari seorang jurnalis dan buyer, karena mereka dianggap penilai yang relevan. Jika seorang desainer mampu memenuhi persyaratan tersebut, barulah karyanya akan ditinjau oleh tim juri yang terdiri dari penulis opini fashion, media, buyer, dan perwakilan BFC.

Bagaimana dengan desainer yang belum memenuhi syarat? Tak perlu khawatir. Karena BFC memiliki program dukungan bisnis—Newgen—untuk para desainer di kategori itu. Namun demikian, tidak setiap desainer bisa begitu saja mengikuti program tersebut. Mereka tetap akan dihadapkan pada uji kelayakan. Antara lain sudah menjalani bisnis fashion berbasis di Inggris tidak lebih dari 3 tahun, dan memiliki minimal dua stockist lokal (lihat Newgen).

Seni dan Bisnis

Bicara fashion orang cenderung berpikir pada aspek desain/seni. Tentu itu penting. Namun, dalam konteks fashion week yang sebenarnya, kedua aspek itu diperlakukan setara. Nilai seni harus berbanding lurus dengan kepentingan bisnis/komersial. Sebagus apapun karya seorang desainer jika tak laku dijual tak punya arti apa-apa. Sebaliknya, sebuah karya yang diminati publik tanpa dibarengi kemampuan untuk memenuhinya juga tak bernilai apa-apa. Peran utama fashion week adalah menjembatani agar kedua aspek itu berjalan sinergis. Tujuan utamanya menggerakan industri fashion.

Bicara industri fashion adalah bicara bisnis fashion dalam skala massal. Baik jumlah maupun sebarannya. Karena itu, BFC sebagai contoh, membuat ketentuan ketat bagi para desainer yang ingin menampilkan karyanya di LFW. Mampu membuat pakaian rady-to-wear, sudah menjalani bisnis lebih dari tiga tahun (secara konsisten mengeluarkan koleksi sesuai musim), dan memiliki setidaknya enam tempat penjualan. Dengan begitu, setiap desainer yang karyanya diminati buyer sudah siap memenuhi permintaan mereka.

Logika Show di Fashion Week

Bagi seorang desainer yang cukup punya uang, menggelar fashion show bukanlah hal yang sulit selama dia mau. Terlepas dari apakah baju-baju yang diperagakannya berkualitas atau tidak, laku atau tidak, atau hanya laku di lingkungan kecil pertemanannya, selama ada uang, dia bisa menggelar fashion show. Tak ada larangan untuk itu. Tapi, di ajang fashion week yang sebenarnya rumus itu tidak berlaku. Uang tidak menjadi segalanya. Karya yang bernilai jual adalah pertimbangan utama seorang desainer layak menggelar show-nya di fashion week.

Kebaruan dan konsistensi mengeluarkan koleksi setiap musim juga menjadi penentu bisa tidaknya seorang desainer tampil di fashion week. Logikanya, bukan membuat koleksi untuk tampil di fashion week, tetapi menjadikan fashion week sebagai ajang untuk memasarakan koleksi yang dibuat rutin seorang desainer. Intinya, berkarya dulu baru ber-fashion week, bukan membuat koleksi untuk tampil di fashion week. Jika logika ini dipakai, tak akan pernah ada kejadian pakaian yang pernah diperagakan di panggung lain muncul lagi di runway fashion week. Atau, muncul sekali di fashion week lantas menghilang.

Menakar Keberhasilan Fashion Week

Kembali ke JFW 2015 yang baru saja berlalu, tercatat ada 70 fashion show digelar di ajang ini. 2.600 lebih look yang diperagakan oleh lebih dari 230 model, dan melibatkan lebih dari 220 desainer dalam dan luar negeri. Ajang ini pun konon dihadiri para buyer mancanagara (Korea, Jepang, Singapura, dan Malaysia) (lihat Jakarta Fashion Week 2015 akan Dihadiri International Buyers). Perhelatannya kian meriah karena dihadiri banyak tamu, mulai dari kalangan orang biasa, pecinta fashion, hingga kaum sosialita dan selebritas.

Sebagai sebuah peristiwa, JFW 2015 cukup menarik dan mengudang banyak puji. Namun, tidak cukup sampai di situ. Sederet pertanyaan menunggu di depan. Keberhasilan sebuah perhelatan fashion week bukan terletak pada seberapa meriah dan hebohnya acara tersebut muncul di media dan jejaring sosial, seberapa banyak selebritas yang bertandang dan hal-hal artifisial lainnya, tapi seberapa signifikan mendorong perkembangan industri fashion.

Pertanyaan sederhana yang sangat saya nantikan jawabannya adalah: dari 2.600 lebih look yang tampil di JFW 2015, berapa banyak yang berhasil menggaet buyer, berapa desainer/brand yang berhasil membuat kesepakatan bisnis dengan mereka; serta seberapa besar skala bisnisnya. Saya sangat berharap dapat memperoleh jawaban akurat yang memuaskan. Semoga.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *