DKNY Spring 2017 Collection

Model

Chloe, Puisi di Sepanjang Runway

By  | 
chloe-8782

Chloe

Gemerlap runway membawa imej bahwa peraganya pun punya kehidupan glamor. Tidak semuanya demikian. Kesederhaan dan kerja keras para model ada di balik gemerlap itu. Di luar runway, ia menjadi diri sendiri. Salah satunya Chloe.

Claudia Virginia, dikenal sebagai Chloe, punya karakter kuat di runway. Penampilan ini menarik The Actual Style untuk mengenalnya lebih dekat. Siang itu, Bulan November 2013, Chloe datang berbalut long sleeve warna putih bermotif jangkar kapal, celana jeans, dan high sport shoes. Di punggungnya bertengger backpack warna hitam dengan black cap tergantung di tas itu. Outfit khas anak muda tomboy dengan senyum malu-malu.

“Kalau menurut aku di fesyen nggak harus feminin. Kalau kita menjadi feminin tapi dibuat-dibuat, itu malah tidak enak. Basic aku tomboy,” kata Chloe. Tampil sesuai dengan karakternya menjadikan Chloe tampak nyaman di runway. Menurutnya, model itu untuk menjadi dikenal harus punya karakter. Apa adanya itulah yang ditampilkan perempuan kelahiran tahun 1991 ini.

Hanya saja, sebagai layaknya aktris, runway adalah panggung. Peraganya bisa memerankan apa saja sesuai skenario. Bila model, harus bisa membawakan busana apa saja sesuai dengan kemauan desainer busana. Model seperti hanger, tempat busana tergantung dan dilihat oleh penonton runway. Chloe yang tomboy pun harus bisa membawakan busana feminin. “Feminin kalau buat aku lebih ke perempuan, halus. Mungkin dari body gesture aku harus ubah,” ujarnya. Karenanya, dengan kekhasan karakternya, Chloe bisa menjadi sangat berbeda jika di runway. Semua itu ia pelajari dengan otodidak. Tanpa kursus atau sekolah model. Ia belajar dari foto, majalah, dan juga video runway. Atau belajar dari model idolanya. Salah satunya Erika Linder, supermodel di Milan.

Sesaat Sebelum Tampil di Runway

“Sebenarnya jadi model nggak sengaja. Dari kecil tomboy. Gedenya nggak kebayang jadi model,” kenang perempuan asal Manado ini. Bermula dari kakaknya ikut pemilihan model se-Sulawesi Utara di Manado, 5 tahun silam. Lantas Chloe diikutsertakan. Di luar dugaan, Chloe memenangkan pemilihan itu. Dari sanalah karir dimulai. Beberapa kali tampil di Manado, kemudian ia putuskan pindah ke Jakarta.

Sejak 2 tahun tahun, Chloe menjadi model profesional. Ia pun harus menjaga tubuhnya, sebagai salah satu syarat utama menjadi model. Mempertahankan ukuran tubuh ideal. Chloe yang tingginya 174cm, beratnya tak boleh lebih dari 50kg. “Yang aku lakukan hanya olah raga saja sih. Trus mengurangi makan. Karena aku suka makan, ini tantangan berat,” jelasnya sambil tertawa. Selebihnya, tak ada perawatan khusus.

Selain tubuh, kedisiplinan waktu menjadi tuntutan seorang model. Kita hanya melihat seorang model yang tampil di runway pada jadwal yang ditentukan. Tampilnya pun hanya beberapa menit. Tapi ternyata, persiapan panjang untuk beberapa menit jalan di catwalk. Chloe menceritakan, bila ada fashion show pukul 13.00, maka ia harus sudah ada di lokasi pukul 05.00 atau bahkan pukul 04.00.

“Kalau show-nya di mal, kita harus GR (gladi resik) jam tujuh pagi sampai jam sepuluh pas pengunjung belum banyak,” jelasnya. Setelah GR, ia harus fitting, kemudian make up. Tampilah ia pukul 13.00.

Lain halnya bila event besar macam Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week. Ia harus siap tampil sampai 4 kali sehari. Itu artinya harus 4 kali GR dan 4 kali ganti make up. “Hanya bisa tidur di sela-sela kelompok lain GR,” katanya.

Selain persiapan fisik, persiapan mental juga perlu dimiliki seorang model. Bukan saja mental untuk tampil di depan umum, tapi juga mental untuk membawakan busana yang dirasa sulit. “Kalau dapat baju yang duyung, itu bikin down. Kalau kepanjangan nggak bisa diangkat,” kenangnya. Karena busana model ini pula ia pernah jatuh di runway. Sakitnya tak seberapa, tapi malunya berkepanjangan. Baginya, jatuh juga bagian dari show. Karenanya, mental harus bagus agar tetap berusaha berdiri, dan berjalan lagi.

Kini desain busana lebih banyak ready to wear. Lebih mudah dibawakan oleh model. “Paling suka kalau membawakan bajunya Bin House. Karena bisa jadi diri sendiri,” tambahnya. Fashion show Bin House selalu ada tema. Setiap model diminta menjadi dirinya sendiri. Dikolaborasi dengan lagu, dan musik menjadikan fashion show Bin House sebagai favoritnya. Kalau desainer busana, Priyo Oktaviano favoritnya. Itu cerita Chloe di dunia fesyen. Di luar, ia punya cerita lainnya.

Beberapa penampilan Chloe di beberapa ajang peragaan fesyen

Sambal Roa dan Puisi

“Aku suka masak. Kalau aku lagi nggak ada kerjaan, aku beli bahan-bahan di swalayan. Trus masak,” katanya. Sebagai putri dari Manado, sambel roa termasuk salah satu resep yang kerap ia bikin. Selain memasak, Chloe suka olah raga. Basket, badminton, dan renang menjadi hobi sekaligus sarana mempertahankan ukuran tubuhnya.

Di luar model, Chloe adalah mahasiswi semester 7 Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. “Tapi sekarang lagi cuti, mau urus lagi,” tambahnya. Sebagai mahasiswi, ia pernah aktif di bidang komunikasi di kampusnya. Menjadi tim yang datang ke SMU untuk menjelaskan tentang Usakti. Memberi informasi bila ada yang tertarik untuk masuk ke universitas tersebut.

Hobi lainnya adalah menulis puisi. “Dulu banyak loh puisi yang aku tulis,” kenangnya sambil tertawa. Menulis puisi bisa kapan saja. Bahkan saat ulangan di kelas, ia bisa membawa pulang puisi karyanya. Semua hobi itu menyatu dalam dirinya, Chloe yang menjadi apanya.

Teks: Titik Kartitiani / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *