DKNY Fall 2017 Collection

Jakarta Kongkow Fashion

Couture dan Ready to Wear, Mana yang Lebih Bagus?

By  | 
Photo by Gusti Hafizh Aldi Darwis

Kiri ke Kanan: Catherine Moya, Patricia Sandjaja, Nina Nikicio, Auguste Soesastro

Untuk kali ke-2, Jakarta Kongkow Fashion (JKF), sebuah acara bincang-bincang santai yang diselenggarakan The Actul Style dan The Edit Post, kembali diadakan pada tanggal 26 Maret di Artotel, Jakarta. Tema agenda rutin kali ini membahas Couture dan Ready To Wear dalam Dunia Fashion Indonesia. Menghadirkan pembicara Auguste Soesastro (fashion designer, pendiri label Kraton), Nina Nikicio (fashion designer, pendiri label Nikicio), dan Patricia Sandjaja (pendiri sekolah fashion, Phalie Studio).

“Jakarta Kongkow Fashion, sebagaimana juga The Actual Style, lahir dari kegelisahan kami di dunia fashion,” kata Sadikin Gani, founder The Actual Style dan inisiator JKF. Acara yang dihadiri fashion designer, pemilik label, dan juga blogger ini memberi gambaran bahwa istilah couture dan ready to wear kerap disalahartikan. Sebagaimana yang dikatakan Auguste, seolah-olah couture harus berwujud sebuah rancangan “ajaib”, seperti busana kostum. Padahal couture bisa juga busana dikenakan sehari-hari, tidak harus festival. “Contoh couture ya Chanel Couture. Itu couture. Dan rancangannya ya tidak ajaib,” kata Auguste. Busana couture merupakan busana yang keseluruhan prosesnya dikerjakan dengan tangan (handmade).

“Saya sebagai pengajar juga fashion designer ingin meluruskan, kalau mengaku haute couture itu bukan sembarangan,” kata Ichwan Toha menambahkan. Kata Ichwan, untuk bisa disebut haute couture harus mendapatkan pengakuan The Chambre Syndicate de la Haute, komisi couture di Paris. Pernyataan Ichwan ini karena melihat beberapa desainer atau bahkan label dengan mudahnya mengklaim atau malah menggunakan istilah haute couture untuk karyanya.

Klaim tersebut didasarkan pada imej bahwa haute couture merupakan adibusana, sebuah pencapaian yang lebih bergengsi dibanding ready to wear. Padahal untuk bergerak di lini ready to wear pun membutuhkan kemampuan yang tak kalah menantang. “Saya butuh waktu 5 tahun hanya untuk supply chain,” kata Nina Nikicio. Karena untuk membuka lini ready to wear membutuhkan partner dari hulu ke hilir.

Couture dan ready to wear itu sama-sama menarik, sama-sama menguntungkan, dan sama-sama menantang. Ini seperti memberikan pilihan antara kue keju dan kue coklat yang sama-sama enak,’ kata Patricia Sandjaja. Yang penting adalah bagaimana membekali para calon desainer dengan pemahaman yang tepat mengenai couture dan ready to wear. Juga strategi untuk masuk ke industri fashion di Indonesia.

Acara ini ditutup dengan tiup lilin sebagai tanda grand launching The Edit Post. Tabloid bulanan yang membahas tentang lifestyle, khususnya tentang style dan label busana.

Teks: Titik Kartitiani / Foto: Gusti Hafizh Aldi Darwis

Jakarta Kongkow Fashion #2 terselenggara berkat dukungan:

supported

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *