DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Designer

Dari IFDC ke Hongkong Fashion Week 2014

By  | 
sisca-phang-9535

Sisca Phang

Lihat Koleksi Sisca Phang di IFW 2014 →

Menjadi pemenang Indonesia Fashion Design Competition (IFDC), salah satu cara ikut ke Hongkong Fashion Week. Seperti Sisca Pang, pemenang pertama IFDC 2013.

IFDC merupakan kompetisi desainer busana muda yang diselenggarakan oleh Indonesia Fashion Week (IFW) dan disponsori oleh Dulux. Saat ditemui tim The Actual Style, di sebuah kafe di Jakarta Selatan, Sisca sedang mempersiapkan desainnya untuk Hongkong Fashion Week 2014. Dengan balutan busana kasual, sepatu boots dan senyum malu-malu, Sisca menceritakan kisahnya.

Kemenangannya dalam IFDC diraih atas kreasi tenun ikat Nusa Tenggara Barat. Ragam hiasan,  aksesoris dan motif tenun ikat Nusa Tenggara Barat mengilhami Sisca dalam desainnya kala itu. Keindahan siluet penari caci dan suasana resort-pun ia wujudkan dalam busana yang indah dan iapun menang. Dari 10 desain yang ia ajukan, 6 desain disetujui untuk direalisasikan. Keenam desain itu kemudian dipamerkan di IFW 2013 lalu.

“Aku mendapat hadiah akomodasi serta booth di Hongkong Fashion week 2014. Selain itu juga mendapatkan coaching dari pihak IFW. Jadi nanti di sana aku mewakili deputi muda dari Indonesia” ujar Sisca.

Evening Dress yang Ready To Wear

Sebelum ke Hongkong, Sisca mendapatkan pembekalan dari IFW. Bukan hanya soal desain, tapi juga soal perspektif bisnis. Misalnya, ternyata busana ready to wear (siap pakai) tidak hanya bisa kita jual ke deptstore namun bisa langsung ke buyer. Busana ready to wear punya peluang pasar yang besar dibandingkan couture.

Sedangkan untuk model busana, evening dresses lebih punya pasar di Hongkong. Karenanya Sisca memilih desain evening dresses yang ready to wear untuk dibawa ke Hongkong. Indonesia punya kelebihan di detail dan handmade. Kelebihan ini yang akan dimunculkan dalam desainnya.

Selain itu, busana ini harus bisa diproduksi massal. Itulah yang menjadi tantangan bagi Sisca.

“Bagaimana bikin baju pesta tapi itu bisa diproduksi massal. Kalau couture itu kan dia lebih personal ya. Tapi itu belum tentu bisa diproduksi massal,” kata alumni ASRIDE (Akademi Seni Rupa dan Desain) “Iswi”, Jakarta.  Sebagai desainer, menggabungkan antara desain dan bisnis merupakan tantangan tersendiri.

Hasilnya, Sisca menyiapkan kurang lebih 20 -25 desain evening dresses untuk Hongkong Fashion Week yang digelar 11 Januari 2014.  Bahannya, Sisca menggabungkan keindahan kain Baron dari Jepara dengan Songket dari Padang. Keistimewaan dari koleksi ini dari segi cutting dan pola. Tak ingin gaun kreasinya tampak sederhana. Sisca memberikan banyak potongan pada setiap garis desainnya. Ia ingin mewujudkan gaun pesta yang modern namun tetap elegan.

Beberapa tantangan pun ia alami dalam proses pembuatannya. Soal minat, ia lebih suka mendesain street wear, tapi disarankan mendesain evening dresses. Namun Hongkong Fashion Week memberinya semangat yang luar biasa untuk mewujudkan desainnya.

Teks: Desi Dwi Jayanti / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *