DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Issue

Demokratisasi Fashion, Mungkinkah?

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Internet dan Keterbukaan

Sebelum teknologi internet berkembang, praktis hanya majalah fashion dan gaya hidup (format cetak) satu-satunya sumber bacaan untuk memperoleh informasi seputar fashion dan gaya berpakaian. Aktor utama yang menjadi rujukan tidak pernah bergeser dari kalangan selebritas. Terutama bintang film, penyanyi dan model.

Kini, era dominasi majalah cetak hampir bisa dikatakan sudah tamat. Untuk memperoleh informasi trend, how to, fashion show brand-brand kelas dunia cukup dengan membuka browser. Informasi dalam bentuk teks, gambar, juga video (multimedia) bisa kita nikmati di sana. Tak hanya itu. Selain format informasi yang kian beragam, juga tak mengenal batas ruang dan waktu untuk mengaksesnya. Kecepatan, kemudahan, kebaruan dan keluasan informasi di internet kian memperkecil peran majalah cetak.

Internet terus berkembang dan teknologi web kian diperkaya fungsinya. Lahirlah web 2.0 yang memungkinkan interaksi (dua arah) antara penyedia informasi dan pengguna, serta antarpengguna. Pembaca bukan lagi subjek pasif yang hanya bisa menerima limpahan informasi, juga aktif mengomentari dan memproduksi informasi.

Banyak orang menerjemahkan gejala tersebu sebagai ‘demokratisasi dalam fashion’. Merujuk Rachel K. Ward (Democratization of Fashion, 2011), hal itu ditandai dengan “the decrease of fashion authorities and increase of media and many voices. Penilaian ‘benar’ dan ‘salah’ dalam fashion tidak lagi berada di tangan para editor fashion. Otoritas untuk itu kian meluas. Munculnya fenomena fashion blogger yang mampu menandingi editor fashion menjadi bukti bahwa rujukan tentang fashion dan gaya berbusana tidak lagi dimonopoli majalah fashion. Dan maraknya fenomena street style/street star yang menyaingi eksistensi jajaran top-model dan kaum selebritas menjadi penanda bahwa subjek fashion icon tidak lagi didominasi para model dan kalangan selebritas.

Sampai pada titik bahwa melalui internet setiap orang punya kesempatan bersuara dan memproduksi informasi, kita bisa katakan bahwa dominasi kebenaran yang diproduksi majalah fashion kian melemah dan terus menurun otoritasnya.

Agak lama saya memikirkan kembali perkembangan tersebut. Semudah itukah dominasi majalah fashion tergusur, dan demokratisasi pun terjadi? Bukankah hubungan simbiosis-mutualisme korporasi media dan brand-brand fashion sudah sangat kuat dan nyaris tak bisa diruntuhkan?

Lebih Dekat Melihat Fashion Blogger

Tidak bisa dipungkiri bahwa fashion blogger mempunyai kekuatan mempengaruhi publik. Jika tidak, tak mungkin ritel fashion sekelas Net-a-Porter mau melibatkan para blogger untuk menggenjot kampanye dan pemasarannya. Secara kuantitas, jumlah mereka pun banyak. Tahun 2012 ada lebih dari 80 juta blog. 43 juta di antaranya adalah blog fashion (Tansy E. Hoskins, Stitched Up: The Anti-Capitalist Book of Fashion, 2014, hal. 42). Dengan modal kamera, komputer, mampu membaca dan menulis dalam bahasa Inggris, punya web, memiliki taste dan keahlian memadupadankan baju, Anda sudah bisa menjadi seorang fashion blogger. Akan lebih sempurna lagi jika memiliki jaringan sosial yang luas.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah kekuatan fashion blogger mempengaruhi publik bisa diterjemahkan sebagai penanda lahirnya era kemerdekaan dalam fashion dan rontoknya otoritas majalah fashion?

Tidak sesederhana itu. Kekuatan besar yang menjadi pemain utama di industri fashion, yakni media dan brand-brand fashion global tidak pernah kehilangan cara untuk mempertahankan otoritasnya. Jika tidak, kelangsungan hidup mereka terancam mati.

Sederhanyanya begini. Media berkepentingan untuk memperoleh keuntungan dari iklan brand-brand fashion. Agar itu tercapai, media harus memiliki kemampuan mengendalikan arah selera pasar. Dia harus mampu membuat publik mengamini apa yang dia katakan. Jika A adalah kebenaran, maka publik pun harus mengatakan A sebagai kebenaran. Dengan begitu brand-brand fashion memiliki jaminan produknya akan diterima pasar, sehingga tidak ragu untuk memasang iklan sebanyak dan sebesar apapun biayanya. Hasilnya, media dan brand fashion sama-sama meraih keuntungan dan saling menopang kelangsungan hidup mereka.

Munculnya fenomena fashion blogger tidak lantas dianggap sebagai rival. Korporasi media dan brand fashion justru menjadikan itu sebagai peluang baru untuk memperoleh keuntungan. Scott Schuman, pendiri blog The Sartorialist misalnya. Eksistensinya sebagai salah satu blog fashion terpopuler di dunia tidak dengan sendirinya terjadi (secara alamiah). Seperti dicatat Hoskins (ibid, hal. 43-44), The Sartorialist jauh dari bisa dikatakan independen, karena keberadaannya mendapatkan dukungan promosi dari Condé Nast, sebuah korporasi media yang membawahi majalah Vogue, Glamour, Vanity Fair, Allure, GQ dan lain-lain. Demikian pula dengan Style Bubble yang dikelola Susanna Lau, tidak lepas dari dukungan majalah Glamour. Menurut Hoskin, fashion blogger lebih sebagai public relation-nya perusahaan. Biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan pun jauh lebih efisien dengan raihan keuntungan yang lebih besar dibanding bila menggunakan jasa public relation konvensional.

Fenomena fashion blogger memang luar biasa. Peran mereka pun tidak bisa diremehkan. Namun, kekuatan mereka untuk mempengaruhi publik tidak berarti mereka memiliki kekuatan untuk mengendalikan industri fashion. Seperti dicatat Hoskins (Ibid, hal. 42), “the power to influence the industry is not the same as the power to control the industry.” Apakah kemerdekaan dan demokratisasi dalam fashion tengah berlangsung, silakan anda maknai sendiri.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *