DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Designer

Fesyen Tempatnya Bernapas dan Hidup

By  | 
didi-budiarjo-5829

Didi Budiarjo

Ia mengidolakan Cristobal Balenciaga. Ia mengagumi kemampuan Balenciaga  yang bisa mendesain, memotong, menjahit, hingga menggelarnya dalam fashion show. Bukan berarti ia harus menjadi desainer Spanyol itu. Ia tetap menjadi Didi Budiardjo.

Bangunan bercat putih arsitektur Belanda itu menyambut  tim The Actual Style saat berkunjung ke studio Didi Budiardjo di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Desainer busana yang sudah berkarya selama 25 tahun untuk menghasilkan kreasi elegan dan romantis. Paling tidak busana itu yang kerap dipesan para klien-nya, walau Didi sendiri tidak pernah mendefinisikan desainnya seperti apa. Kliennya yang menilai. Yang jelas, dari gaun yang elegan dan romantis, karyanya dimulai.

Kala itu, tahun 1989. Era desainer muda tercipta dari lomba. Baik yang menang maupun yang kalah, lomba merupakan awal untuk mempublikasikan karyanya. Tak terkecuali Didi. Ia tengah mengikuti akhir pendidikannya di Lembaga Tata Busana Susan Budiharjo saat ada lomba Asian Young Designer. “Saya coba ikut, kemudian saya jadi juara dan dikirim ke Singapura,” kenang laki-laki kelahiran Malang, Jawa Timur. Penghargaan itu yang menjadi langkah awal Didi untuk menjadi desainer busana.

Bermula dari Cinta pada Seni

Detail ia mengingat moment itu. Termasuk desain yang membawa kemenangan untuknya. Judulnya Relung, Gelung, Krah. Sepotong evening dress berbahan taveta yang dihiasi dengan sulam benang emas. “Waktu itu cukup susah. Saya mendapat informasi bahwa benang sulam emas hanya ada di Klaten. Kita mencoba membuat itu,” ujarnya. Tak sia-sia upaya untuk menemukan hal yang tak biasa kala itu. Desain evening dress dengan sulaman benang emas menarik perhatian juri. Ia mendapatkan poin tertinggi dan menjadi juara. Kemudian, busana gaun dengan sulaman dan sentuhan kerajinan tangan menjadi daya tarik bagi desain karyanya.

Awalnya, Didi tidak pernah terbayang untuk menjadi desainer busana. Setelah lulus SMA, saat teman-teman seangkatannya menetapkan masuk universitas, Didi berpikiran lain. “Saya pikir pendidikan formal bukan untuk saya,” kenangnya. Pendidikan formal maksudnya masuk universitas kemudian menjadi dokter, arsitek, dan lain-lain.  Beberapa orang menyarankan Didi untuk masuk dunia fesyen karena Didi bisa menggambar. Tapi ia tahu, untuk menjadi desainer busana  tidak cukup hanya punya kemampuan bisa menggambar saja. Harus punya pengalaman luas. Waktu itu yang terpikir Didi bekerja di bidang yang berhubungan dengan art.  Apakah art curator di museum atau bidang lain yang berhubungan dengan seni.

Ternyata LPTB (Lembaga Pengajaran Tata Busana) Susan Budihardjo kemudian menjadi pilihan Didi untuk berkreasi di bidang seni. Di sanalah pintu karirnya terbuka sebagai perancang busana saat memenangkan salah satu kompetisi. Selama 25 tahun kemudian, ia semakin menyatu dalam dunia itu. Dunia yang ternyata membutuhkan beragam pengetahuan agar idenya tak pernah kering. Pengetahuan yang tertata rapi di koleksi buku-bukunya

Imajinasi dari Seribu Buku

“Saya punya seribu buku dari resep masakan, biografi, sejarah.  Semuanya menginspirasi saya,” ujarnya. Perbincangan beralih ke buku, saat kami menyinggung Catatan Harian Soe Hok Gie yang menjadi salah satu buku favoritnya. Selain Soe Hoek Gie, Didi juga suka dengan Ong Hok Ham. Sejarah menjadi inspirasi sebagaimana ia suka buku Flowering Lotus. Sebuah buku yang berisi tentang penggambaran Jawa tahun 30-an. Buku itu memengaruhi Didi mengimajinasikan Jawa pada tahun itu, saat ada pendudukan Belanda. Baginya menjadi nutrisi jika mood-nya ingin berkarya tentang desain busana bertema masa silam.

Pengetahuan yang terlihat jauh dengan dunia fesyen, tapi justru itu menginspirasi dirinya. Memang, 70% dari seribuan buku yang ia koleksi seputar fesyen. Sisanya adalah buku sejarah, biografi, dan buku-buku lain yang selalu ia sempatkan untuk membaca, sesibuk apapun. Baginya, dengan membaca membuka pintu untuk berimajinasi. Lain dengan film kita dituntun mengikuti alur. Dengan buku, imajinasi yang hadir tak terbatas. Itulah yang membuatnya tak pernah kehabisan ide.

Ragam pengetahuan di kepala itulah yang menjadikan Didi selalu punya energi. Selama 25 tahun berkarya, ia  belum pernah merasa menyerah. Selalu bangun pagi, dan setiap pagi selalu punya energi yang luar biasa untuk memulai hari dengan fesyen. Karena menurutnya, ketertarikan seorang deainer tidak melulu soal fesyen tapi harus tertarik dengan yang lain.

“Sebetulnya pekerjaan fesyen tidak melulu yang glamour. Lebih banyak yang kerja keras,” kata Didi.  Proses mewujudkan ide menjadi rancangan busana, kemudian merealisasikan menjadi busana lantas melenggang di catwalk bukan perjalanan singkat. Ia menunjukkan kepada kami, salah satu gaun rancangannya diselesaikan 2,5 bulan. Gaun pengantin yang ditaburi dengan payet dan potongan yang dibuat dengan penuh perhitungan.

Didi menyebutkan, bahwa pekerjaan untuk fesyen adalah pekerjaan tim. Setiap proyek busana seperti orkestra. Ada konduktor, ada pemain flute, ada piano, semua ada di situ. Kalau konduktornya tidak bisa mengoordinasi dengan baik maka musik tidak akan harmoni. Artinya pekerjaan pembuatan busana itu akan berantakan. Bisa jadi berhasil, hanya hasilnya tidak akan optimal. Proses merealisasikan ide itulah yang ditekankan oleh Didi. Setelah realisasi, tentunya proses bagaimana karya itu sampai ke pengguna. Ada proses bisnis di sini yang menjadikan seorang desainer busana bisa hidup dan bertahan.

Bisnis fesyen bagi Didi

“Saya bukan orang yang pandai mengelola manajemen keuangan,” akunya. Pada akhirnya jika mau bertahan, harus punya menajemen keuangan yang baik. Selain itu, peluang bisnis fesyen di Indonesia sangat terbuka lebar. Sebagai contoh, dalam hal desain busana resmi. Orang Indonesia punya kebiasaan mengundang banyak orang dalam acara pernikahan. Untuk tamu penting, undangan 6.000 orang sudah biasa. Bandingkan dengan Donald Trump yang hanya mengundang tak lebih dari 300 orang untuk pesta perkawinan putrinya. Artinya, tentu saja orang ingin tampil megah di hadapan ribuan orang sebagai tuan rumah maupun sebagai undangan. Di sinilah peran desainer busana untuk menghadirkan penampilan ini. Tentu saja, jumlah penduduk yang besar juga menjadi potensi pasar yang tak bisa dianggap remeh.

Ada dua hal yang harus dimiliki seorang desainer busana bila ingin bertahan di bisnis fesyen. Pertama,  harus kerja keras dan tangguh. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa untuk merealisasikan ide hingga menjadi busana butuh proses yang panjang.  Kedua, harus tahu target pasarnya. Sekarang banyak desainer incubatorium project di department store. Mereka harus tahu pricing point, pemilihan model, dan selalu memantau perkembangannya.

Lantas bila memilih made to order maka harus tahu resikonya. Karena menyita waktu, dan orang menuntut pelayanan lebih. Hal itu harus disadari saat memilih segmen ini. Karenanya, harus meninggakat kemampuan dan aktif mengikuti perkembangan fesyen Indonesia dan dunia.

Belum lagi soal kecepatan informasi melalu internet dan media sosial. Kata Didi, deisaner harus hidup 6 bulan lebih cepat dari orang biasa. Ia mencontohkan, tahun 70-an di Malang, ia masih bisa melihat orang mengenakan busana era tahun 1950 dan tidak merasa ketinggalan jaman. Tapi sekarang bila melakukan hal yang sama, akan merasa kontras sekali.

Menyinggung soal perkembangan, maka pembicaraan kami ke fashion week yang akhir-akhir ini mulai marak diadakan. Menurut Didi, hal ini berpengaruh positif pada perkembangan fesyen di Indonesia. Karena orang awam makin tahu ada komutias fesyen seperti itu. Ini yang mempercepat kemajuan fesyen di Indonesia.

Hanya saja, fashion week di Indonesia masih embrio. Bila dibandingkan dengan negara lain, memang capaiannya masih jauh. Soal desainer busana misalnya, belum ada regulasi yang jelas. Bila di luar negeri regulasinya punya koleksi tetap minimal untuk setahun yaitu spring/summer dan autum/winter. Yang kedua punya workshop dan show room yang  jelas. Di sini belum ada aturan itu, makanya siapapun bisa jadi desianer dan menganggap diri desainer.

Sekarang belum melihat banyak desainer bertemu buyer. Di Hongkong Fashion Week, buyer akan datang ntuk membeli barang desainer. Lantas desainer akan membuat pesanan setelah order diterima. Tapi di sini masih belum secepat ini karena memang fashion week masih awal. Bagaimana menyikapi, tergantung desanernya. Untuk menyelesaikan pesanan dengan baik butuh komitmen.

Mereka yang ulet itulah yang akan bertahan. Barangkali, seperti keuletan Didi selama 25 tahun ini.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *