DKNY Hybrid Watch Collection

Fashion Report

Edgy Philosophy, dari Pembalap hingga Batik Madura

By  | 
edgy

Kiri ke kanan: rancangan Lenny Agustin, Sapto Djokokartiko, Gabriel Lage, Priyo Oktaviano

Di puncak fashion show, suara deru sepeda motor menggetarkan runway. Layar menampilkan roda beradu dengan aspal, suasana balapan yang menaikkan adrenalin. Kemudian layar terbelah, model berjalan dengan ritme cepat. Koleksi Priyo Oktaviano keluar satu per satu menghentak runway. Masih dengan suasana ajang balapan motor, pada model pun dilengkapi dengan helm untuk memeragakan beberapa koleksi bertema Hero yang ditampilkan dalam tema besar Edgy Philosophy, di Indonesia Fashion Week (IFW) 2014, 22 Februari 2014.

Kemegahan karya yang menjadi ciri khas karya couture Priyo ditampilkan dengan bentuk yang menonjolkan siluet pemakainya.  Warna hitam dan emas menjadi warna pilihan untuk busana untuk laki-laki dan perempuan. Busana laki-laki tampil sangat maskulin. Sementara, untuk busana perempuan terlihat maskulin tapi tetap menampilkan kelembutan dari siluet yang menampakkan lekuk tubuh. Sulaman benang emas membungkus seluruh busana, merupakan ciri khas koleksi couture Priyo Oktaviano. Sentuhan tangan khas tenun Indonesia, kuat sekali di seluruh motifnya.

Sebelumnya, suasana kelembutan hadir di runway malam itu. Gabriel Lage, desainer dari Argentina menampilkan koleksi gaun-gaun feminin dan romantis. Gaun yang didominasi warna krem berkilauan itu ingin menampilkan kisah romantis dari pemakainnya. Rupa-rupa rasa dalam hubungan romansa ditampilkan di gaun tersebut. Passion, jelousy, dan love.

Masih dengan kisah cinta, Sapto Djojokartiko menerjemahkan Edgy Philosophy dengan Poseido. Busana yang ditampilkan ingin menampilkan kesan romantis, misterius, dan sensual.  Kata Sapto, Poseido terinspirasi dari drama musikal Spanyol, El Amor Brujo oleh Carlos Saura. Salah satu tokoh perempuannya bernama Candela yang selalu dihantui oleh mendiang suaminya. Saat Candela ini menari flamenggo dalam Fire Dance Ritual atau Danza Ritual del Fuego, maka aura sensual, misterius, dan dinamis ini ditangkap oleh Sapto dalam koleksinya.

Gaun dengan rimpel dan bordir merupakan teknik Sapto untuk bermain-bermain dengan tekstur. Misalnya menjadikan bordir yang dijahit menyerupai renda. Untuk busana couture, permainan tersebut dibikin detail dan kompleks. Sedangkan ready to wear, dengan teknik yang sama, dibikin lebih simpel. Sapto memisahkan antara  couture dan ready to wear yang menjadi signature character Sapto. Kali ini menampilkan warna merah dan hitam.

Sebagai pembuka dari Edgy Philosophy, busana Lenny Agustin yang tampil ceria. Warna-warni sebagaimana ciri khas Lenny. Menurut Lenny, ia ingin menerjemahkan kembali edgy dalam unsur lokal. Kali ini, banyak menggunakan batik madura yang disajikan dalam koleksi bertema Radin. Tema ini berarti suci, bersih, dan rapi. Bahan batik dipadu dengan plastik, merupakan petualangan berbusana yang ‘ruh’nya diinspirasi dari cara perempuan asal Madura Berbusana: petualang. Dalam arti, mereka kerap mengenakan kain dengan hanya diikat atau dengan  sarung model pendek.

Koleksi lengkap fashion show Edgy Philosophy:

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

1 Comment

  1. Ara

    26/02/2014 at 3:37 PM

    I beg to differ, it’s ‘runway’ not ‘runaway’.
    and please, philosophy not phylosophy. jealousy not jeloussy.
    great article tho.

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *