Alexander Wang

Fashion Report

Era Soekamto, Inner Beauty Terpancar dari Kesederhanaan

By  | 

era-4453

Lihat Koleksi →

Christophorus Columbus bukan penemu pertama Benua Amerika, tapi Kerajaan Cina pada tahun 1421. Berselang 592 tahun kemudian, temuan sejarah menginspirasi desain busana untuk menampilkan kecantikan perempuan dari kesederhanaannya.

Bukan pada baju yang dikenakan, tapi pada perempuan yang mengenakan. Demikian sebuah desain bekerja. Kesederhanaan desain yang ditampilkan Era Soekamto bermaksud untuk menampilkan inner beautyperempuan yang memakainya. Inspirasi desain untuk mewujudkan kesederhanaan ini datang dari fakta sejarah yang mengejutkan.

Sebuah buku berjudul 1421karya Gavin Menzies yang menyatakan bahwa Kerajaan Cina lebih dulu menemukan Benua Amerika dalam penjelajahannya. “Tahun 1421 merupkan perjalanan Kerajaan Cina menemukan Benua Amerika,  71 tahun sebelum Columbus menemukan Amerika,” kata Era. Angka tahun tersebut  digunakan untuk konsep desain kali ini.

Menurut Era, saat Kerajaan Cina melakuka ekspedisi, terjadilah silang budaya antara Cina dan Majapahit. Dalam penjelajahan selanjutnya, pertukaran budaya itu terbawa ke Eropa tanpa sengaja sehingga menghasilkan budaya renaissance. Perkawinan segitiga antar tiga budaya besar yang terwakili oleh budaya Nusantara (Majapahit-Jawa), Cina dan Eropa (renaissance) ini yang mewarnai desain busana karyanya kali ini. Sebuah desain yang terlihat ringan, modern, dan ready to wear.

“Kekuatan desain justru saat desain itu dipakai. Aura perempuan itu keluar. Perempuan merasa cantik dan inner beauty-nya keluar dengan bentuk desain yang sederhana,” tambah Era mengenai tujuan desainnya.

Kita bisa melihat pengaruh budaya cina bergabung dengan manis dengan budaya jawa terwujud dalam kenaya kutubaru, kebaya kartini, dan kebaya panjang. Sedangkan pengaruh renaissance terlihat di corak dekoratif dengan stilasi tumbuhan yang melengkung dan melingkar. Garis lengkung hadir saat awal erarenaissance.

Sedangkan warna dominasi warna krem, abu-abu, turquoserustic gold (emas usang/berkarat), rustic silver.Soal ornamen, Era tidak banyak menggunakan di desain kali ini. Beberapa menggunakan aksen batuan dan sedikit payet. Struktur tampil dengan pecah pola, darping, dan moulage yang diperlembut dengan bahan yang feminin. Tampil diperkaya dengan aksesoris karya Rinaldy A. Yunardi dan sepatu ciptaan Marista Santividya.

Batik adalah Komunikasi Visual

Selain desain yang dominan putih, Era tetap tak lepas untuk menampilkan batik.  Era mengatakan bahwa batik merupakan komunikasi visual untuk menyampaikan banyak hal. Termasuk kekayaan corak batik kuno yang dihadirkan kembali. Masih merupakan perpaduan antara budaya Cina dan Jawa, lahirlah corak megamendung, vas cino, dan corak naga.

“Kita harus menampilkan batik-batik ‘pakem’ itu. Biar orang tahu betul soal batik. Tidak buru-buru mengembangkan tapi tidak tahu esensinya,” ujar creative director Iwan Tirta ini. Memang, kali ini ia menampilkan brand Era Soekamto, tapi sebagai penerus Iwan Tirta, Era tetap menarih perhatian pada corak batik kuno. Ia tetap merawat ketakjuban pada motif ini dan menggunakannya dalam desain agar batik motif kuno tetap ada. Kadang, ia terlalu sayang untuk memotong. Saat dikenakan dibiarkan sebagai lembaran namun tetap menjadi desain ready to wear.

“Coba lihat corak megamendung. Desainnya sederhana, tapi itu sangat rumit dalam pembuatannya,” tandas Era. Batik megamendung merupakan bentuk awan. Garisnya disusun berlapis-lapis berasal dari gradasi satu warna. Semakin tipis lapisannya, maka semakin rumit pembuatannya.

Demikianlah, kesederhanaan tidak selamanya sederhana. Kesederhanaan bisa jadi berasal dari sebuah proses yang kompleks yang melahirkan pemahaman. Bila itu sebuah desain busana, mampu menampilkan sisi teranggun dari seseorang.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *