DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Extravaganza - JF3

Fashion Parade Wastra Indonesia dalam Busana Siap Pakai

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Kiri ke kanan: Priyo Oktaviano, Didi Budiardjo, Chossy Latu, Stephanus Hamy, Ari Seputra, Era Soekamto, Auguste Soesastro

Cita Tenun Indonesia (CTI) menggandeng 8 desainer Indonesia untuk melestarikan keindahan kain nusantara dengan menjadikannya busana siap pakai.

CTI didirikan oleh beberapa perempuan dengan latar belakang berbeda, tapi sama-sama mencintai dan bertekad untuk melestarikan kebudayaan dan wastra Indonesia. Sejak berdiri tahun 2008, CTI merealisasikan ide melestarikan wastra Indonesia dengan merangkul industri terkait dan terjun langsung dalam program pembinaan di setiap daerah.

Termasuk menggandeng para desainer tekstil, mode, sampai interior. Tujuannya agar kain tenun yang dibuat perajin selaras dengan kebutuhan. Hasilnya pun tak hanya sebatas kain, tapi juga menjadi produk akhir siap pakai dengan harga yang layak. Salah satu hasilnya adalah karya 8 desainer yang diperagakan di Fashion Extravaganza, Jakarta Fashion and Food Festival (JF3), 17 Mei 2014.

Tema yang dipilih oleh 8 desainer adalah Jalinan Lungsi Pakan. Lungsi berarti benang yang terletak memanjang pada alat tenun. Sedangkan pakan adalah benang yang masuk dan keluar pada lungsi saat menenun sehingga menghasilkan lembaran tenun yang indah.

“Perhelatan Jalinan Lungsi Pakan pada JFFF 2014 merupakan wujud apresiasi kami terhadap pencapaian berbagai daerah binaan CTI, melalui bentuk presentasi mode. Tujuannya adalah agar masyarakat mengenal keindahan kain tenun nusantara sebagai elemen penting dari industri mode saat ini, seperti tertuang dalam koleksi mode karya kedelapan mitra desainer kami,” kata Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI. Jalinan ini bisa kita saksikan dari karya Stephanus Hamy hingga Didi Budiardjo.

Stephanus Hamy

Sebagai desainer pembuka parade show Jalinan Lungsi Pakan, Stephanus Hamy menggunakan Kain Tenun Sulawesi Tenggara dalam desain busana siap pakai. Dengan penambahan detail berbahan lace, Stephanus Hamy mencoba menerjemahkan kain tenun Sulawesi Tenggara agar dapat diterima sebagai busana perempuan urban dengan berbagai karakter yang ada.

Koleksi terdiri dari midi dress, blazer dengan kerah lebar, hingga shirt dress tampil dengan palet warna terakota, turquoise, cream, gold, dan hitam. Para model tampil dengan tatanan rambut up-do yang dibuat rapi dan riasan nude menguatkan kesan perempuan perkotaan dengan tambahan koleksi sepatu dari Rotelli.

Lihat koleksi

Barli Asmara

Eksplorasi kain tenun Garut ke dalam koleksi yang lebih young dan modern, dengan tidak meninggalkan detail embroidery, payet, dan bulu yang telah menjadi ciri khas dari Barli Asmara. Koleksi Barli Asmara dari parade show Jalinan Lungsi Pakan menampilkan warna – warna cerah yang berbeda dengan koleksi Barli pada malam sebelumnya.

Kain tenun Garut yang diolah menjadi mini dress dengan potongan body fit, dress bervolume, cape, serta blazer yang diberikan tambahan material sequin, satin dan taffeta menjadikan koleksi Barli terlihat modern, glamor, dan fresh.

Lihat koleksi

Priyo Oktaviano

Lampu panggung runway belum menyala, namun kelima model sudah berpose. Diterangi lampu background bertuliskan Spous by Priyo Oktaviano mengawali fashion parade Jalinan Lungsi Pakan karya dari Priyo Oktaviano. Ia menerjemahkan tema ini menjadi Paris to Sambas. Koleksi yang mengangkat keindahan kain tenun Sambas dengan penambahan detail payet yang terispirasi dari bunga – bunga di Paris.

Classy, feminin dan ladylike adalah kesan yang ditangkap saat melihat koleksi Priyo kali ini. Dengan memadukan material lain seperti organdi, shantung dan tile serta penggunaan warna redup yang memberikan efek tenang, koleksinya kali ini terasa lebih dewasa dan elegan.

Lihat koleksi

Ari Seputra

Belakangan Ari Seputra lebih dikenal dengan brand miliknya, Major Minor. Seolah ingin mengukuhkan kesuksesannya dalam membuat rancangan ready to wear, Ari Seputra merepresentasikan kain tenun Lombok menjadi busana yang lebih siap pakai. Kain Lombok yang biasanya didominasi warna terang dan kontras, Ari mencoba memberikan sentuhan warna lembut pada koleksinya kali ini.

Kain ini ditampilkan dalam bentuk mini dress, cropped top, celana panjang dan jaket, merupakan perpaduan dari motif songket dan motif sabuk anteng (garis). Potongan busana dibuat asimetris serta penggunaan kaos kaki pada setiap model menciptakan kesan playful dan modern.

Lihat koleksi

Era Soekamto

Masyarakat Badui menjadi inspirasi bagi Era Soekamto dalam fashion parade Jalinan Lungsi Pakan bersama Cita Tenun Indonesia. Sepotong kain tenun yang hampir selalu menjadi bagian yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari Suku Badui diolah Era Soekamto menjadi busana siap pakai yang sarat dengan unsur etnik.

Koleksi Era kali ini menggunakan warna kontras, cream dan biru, memberikan nafas baru bagi kain tenun masyarakat Badui. Drape skirt, jacket, coat dengan silhouette loose ditambah dengan koleksi aksesoris rancangan dari Rinaldy A. Yunardi menjadikan koleksi Era Soekamto terlihat eklektik dan segar.

Lihat koleksi 

Auguste Soesatro

Garis rancang brand KRATON Auguste Soesastro yang simple dan elegan membuat Kain Songket khas Bali menjadi lebih istimewa. Inspirasi warna dari keheningan meditasi dan kelembutan hasil bumi melahirkan koleksi yang kontemporer.

Auguste Soesastro membiarkan kita untuk mengeksplorasi keindahan kain songket buatan tangan secara utuh dengan membuat detail rancangan sederhana. Para model pun menggunakan riasan yang pucatdengan rambut dibuat berantakan. Dominasi warna monokromatik serta potongan busana yang minimalis menambah kesan elegan.

Lihat koleksi

Chossy Latu

Nagari Halaban berada di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Dari sanalah songket yang usung oleh Chossy Latu untuk koleksi malam ini berasal. Mengangkat tema Songket Sophistication, Chossy Latu merekomposisi songket Padang dalam penataan yang lebih modern, sesuai dengan perempuan urban.

Saat model berjalan membuka koleksi dari Chossy Latu, para penikmat fesyen langsung dibuat terpana oleh rancangan yang tidak hanya terlihat modern, namun juga diperuntukan bagi perempuan urban yang aktif. Deretan busana siap pakai dengan perpaduan warna gold, silver, dan merah serta potongan yang simpel dengan detail yang berkilap, seolah mengubah atmosfer runway menjadi kehidupan malam di kota besar.

Lihat koleksi

Didi Budiardjo

Parade show Jalinan Lungsi Pakan ditutup dengan koleksi dari Didi Budiardjo. Kita mengenal Didi Budiardjo sebagai desainer gaun malam dan bridal dengan garis desain romantis. Kali ini, ia menawarkan koleksi yang lebih casual dan ready to wear dalam koleksi resort. Terinspirasi dari kehidupan sehari – hari masyarakat Bali, Didi mencoba mengeksplorasi kain tenun motif lama Jembrana dari Bali Barat dengan metode pewarnaan alami serta penataan warna baru agar terasa lebih kekiniannya.

Warna cerah serta permainan material seperti lace, tile, kerang, dan sedikit detail batu mendominasi karya Didi Budiardjo kali ini, Dengan penambahan topi dan sandal kasual yang dipresentasikan para model, membuat kita serasa ingin berlibur ke Bali.

Lihat koleksi

Teks: Bayu Raditya / Foto: Sadikin Gani 

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *