DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Issue

Fashion Revolution Day: Gerakan Keadilan bagi Buruh Industri Fashion

By  | 

tas-frd-2015

Jauh sebelum tragedi Rana Plaza terjadi, persoalan ketidakadilan di industri tekstil dan garmen sudah menjadi sorotan utama para aktivis buruh. Kebanyakan berasal dari kalangan NGO (Non Governmental Organization) dan gerakan mahasiswa. Namun, di Indonesia paling tidak, perhatian terhadap isu itu tidak pernah keluar dari lingkaran para aktivis gerakan buruh. Isu yang merebak pun masih dalam cakupan yang sangat luas, isu perburuhan secara umum. Belum mengerucut pada konteks yang lebih spesifik, buruh industri fashion.

Jika kita merujuk pada film dokumenter John Pilger, The New Rulers of the World (2001), analisis terhadap persoalan buruh pun masih berada dalam konteks yang sangat luas, yaitu kapitalisme. Pada masa itu belum berkembang istilah fast fashion. Analisis terhadap persoalan perburuhan masih berputar-putar pada soal sistem kerja sub-kontrak. Konsekuensinya, persoalan buruh terlisolasi di lingkungan kaum buruh. Variabel non-buruh dan konsumen yang terkait dengan itu, praktis tidak ada. Sehingga gerakan perubahan yang ingin diwujudkan—seperti upah layak, keamanan kerja dan kesejahteraan kaum buruh—belum menjadi kesadaran bersama antara kaum buruh dan mereka yang bukan buruh. Antara kaum buruh dan mereka yang menjadi pengguna hasil kerja kaum buruh.

Tragedi Rana Plaza mengubah itu. Kesadaran terhadap usaha memperbaiki kondisi kehidupan kaum buruh dan keadilan untuk mereka—yang diaktualisasikan dalam gerakan Fashion Revolution—justru lahir dari kalangan industri fashion, bukan aktivis buruh (lihat Jalan Panjang Menuju Fashion Revolution Day). Menariknya, kalangan yang oleh kaum aktivis cenderung direpresentasikan sebagai kelompok hedonis pecinta kehidupan glamor—model, designer, dan orang-orang di lingkungan fashion—terlibat aktif mengkampanyekan perbaikan kehidupan kaum buruh industri fashion. Gerakannya tidak lagi terisolasi di kalangan aktivis buruh. Meluas melibatkan para pengguna/konsumen produk fashion.

Ini adalah angin positif yang sudah selayaknya terus dikembangkan, terutama di Indonesia. Alasannya, pertama, Indonesia merupakan salah satu negara penyuplai tenaga kerja murah; dan kedua, merupakan negara pemasaran produk-produk fast fashion—Zara, Mango, H&M, Forever 21, Uniqlo, Bershka, GAP, Pull and Bear, Top Shop dan Next—yang sangat potensial.

Kenyataan itu bila dikelola dengan baik akan meningkatkan posisi tawar kaum buruh versus label-label fast fashion. Tekanan untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka secara manusiawi tidak hanya datang dari kaum buruh itu sendiri, melainkan dari konsumen pemanfaat hasil kerja mereka.

Dikaitkan dengan kepentingan Indonesia untuk meningkatkan posisi tawar produk lokal versus gempuran fashion murah ala fast fashion, kondisi tersebut bisa dijadikan jalan masuk. Dengan catatan, para produsen produk lokal tidak mengulangi kesalahan serupa seperti para produsen fast fashion di satu sisi; dan ada kesadaran masyarakat luas untuk terlibat aktif dalam mewujudkan kehidupan industri fashion yang beretika di sisi lain.

Teks: Sadikin Gani / Poster: Fashion Revolution [dot] Org / Foto: Greta Danisova

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *