DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Issue

Fashionable People, Sustainable Planet

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Koleksi Deden Siswanto

Tampil fashionable mengikuti pergantian tren tentu sah-sah saja. Asal tidak berdampak menambah beban sampah dunia dan merusak lingkungan. Kampanye “Fashionable People, Sustainable Planet” yang diusung oleh Indonesia Fashion Week 2015 menawarkan solusinya.

Seperti halnya London, Paris, New York, dan Milan yang punya pengaruh sangat besar dalam industri mode secara global, kita punya mimpi menjadi pusat mode dunia di tahun 2025. Pusat mode yang dimaksud sebagai pusat penciptaan inspirasi dan tren, pusat produksi, dan pusat aktivitas dan perdagangan.

Mimpi itu tentu bukan muluk-muluk melihat aset sumber daya manusia, alam, bahkan budaya yang dimiliki negeri kita. Toh, selama ini industri garmen kita telah dipercaya untuk memproduksi brand-brand besar dari negara orang. Namun, sayangnya selama ini kita terbuai hanya menjadi “tukang” yang sekadar membuat pesanan, bukan menjadi “kreator” yang disokong oleh pondasi bisnis yang solid. Akibatnya, langkah kita masih terseok-seok untuk menuju kiblat mode dunia, apalagi para pelaku di dalamnya dari hulu hingga hilir – desainer, produsen tekstil, garmen, perajin/UKM, retailer – masih berjalan sendiri-sendiri.

Ready to wear merupakan komoditi fashion yang potensial untuk dikembangkan ke pasar ekspor. Bermain di lini ready to wear, tantangannya kita harus mampu bersaing dengan Cina yang tersohor meniru tren terkini dari panggung pekan mode dalam jumlah massal dengan waktu super cepat dan harga murah. Industri mode kita tampaknya belum sanggup mengarah ke sana. Untuk itulah, kita harus menawarkan ready to wear dengan kemasan baru. Apa itu?

Melihat kekayaan budaya yang bisa dijadikan inspirasi yang tak ada habisnya, kemudian ragam wastra Nusantara dan kerajinan tangan menjadi potensi untuk membuat suatu tawaran baru, yakni ready to wear dengan konsep craft fashion. Melalui ready to wear craft fashion pula, Indonesia diharapkan dapat mewujudkan mimpinya menjadi sentra mode dunia. Seperti yang tertuang dalam blueprint Ekonomi Kreatif Subsektor Mode.

Local & Green Movement

Indonesia Fashion Week (IFW) yang disebut-sebut sebagai the biggest fashion movement di Indonesia mengusung arus gerakan baru, local movement dan green movement melalui kampanye “Fashionble People, Sustainable Planet” yang menekankan pada kekayaan lokal dan kepedulian akan lingkungan.

IFW yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan PT. Kerabat Dyan Utama (Radyatama) ini bertujuan menggerakkan industri mode dari segala sisi yang melibatkan sinergi seluruh pihak terkait dengan 4 instansi pemerintahan, yakni Kementerian Pariwisata, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.

Di tahun keempat penyelenggaraan IFW yang berlangsung pada 26 Februari-1 Maret 2015 akan menampilkan pameran dagang yang menyuguhkan 747 brand ready to wear craft fashion dan 32 fashion show yang menyajikan 2.522 outfits karya 230 desainer tanah air dan manca negara (Jepang, Korea, India, dan Australia). Ditunjang pula dengan ragam program yang menekankan pada perkuatan sektor bisnis, antara lain Indonesia Fashion Business Develompment, inkubasi bisnis bagi label lokal agar siap menjadi pemain B2B (Business to Business). Menyadari pentingnya generasi penerus dalam industri mode yang punya kepedulian terhadap konten lokal, IFW juga mengadakan Indonesia Fashion Design Competition presented by Dulux. Ditujukan untuk menjaring bibit baru yang sarat bakat di dunia mode.

IFW mengimplementasikan local movement dengan menggagas Indonesia Trend Forecasting, suatu acuan tren dengan muatan konten lokal sebagai inspirasi namun tetap mengarah pada kecenderungan global. Apalagi dengan cita-cita sebagai pusat inspirasi dunia, maka kita dituntut untuk menawarkan suatu acuan tren tersendiri yang diharapkan bisa menarik perhatian dunia.

Tren ala Indonesia ini mengarahkan para kreator mode di Indonesia untuk menggali konten lokal, seperti material tradisional dan kerajinan tangan lainnya, yang dituangkan dalam desain berciri urban dan sesuai tren terbaru agar dapat diterima pasar global. Melalui local movement, IFW giat mensosialisasikan tren ini agar dikenal dan diterapkan oleh produsen maupun konsumen fashion di Indonesia. Sebab tren adalah suatu consensus atau kesepakatan bersama. Apabila praktisi mode di Indonesia memiliki satu suara mengenai tren, maka suara kita tersebut dapat didengar bahkan dapat mempengaruhi dunia internasional. Salah satu cara sosialisasi yang dilakukan adalah menyediakan panggung bagi para perwakilan dari 13 sekolah mode di Indonesia untuk menginterpretasi trend 2016/2017 bertema “Resistance” dalam rancangan mereka.

Segencar apapun sosialisasi mengenai proyeksi tren Indonesia tak dapat memberikan dampak optimal tanpa adanya kesadaran dan kepedulian masyarakat kita untuk mendukung dengan cara membeli dan memakai produk lokal. Menyadari hal itu, IFW menggaungkan kampanye “Show Your Local Style” dan “Sarong is The New Denim”. Penggunaan sarung yang dikreasikan menjadi busana keseharian sesuai tren global, khususnya kalangan anak muda. Tujuannya tak lain untuk mengenalkan dan memberikan gaya pilihan baru dari Indonesia ke pentas dunia.

Dukung produk lokal tak lepas pula dari komitmen IFW untuk mengarahkan pada green movement. Yakni ajakan bagi pelaku maupun pengguna produk fashion agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui sustainable fashion atau lebih akrab dikenal dengan eco atau green fashion. Dengan memakai produk lokal berarti mengurangi jejak karbon yang menjadi bagian dari gerakan hijau.

Melalui program edukasi mengenai sustainable fashion, IFW yang didukung oleh Kementerian Perindustrian, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan Chamber Trade of Sweden mengarahkan pelaku mode untuk menggunakan material lokal yang ramah lingkungan, pewarnaan alam, menekan buangan limbah, dan mengolah kembali sisa bahan yang tak terpakai. Ajang ini telah menetaskan pula komunitas hijau Fashion Loves Earth. Tahun ini, IFW menerapkan kampanye “Bring Your Own Shopping Bag”. Bagi pengunjung akan diberikan tas daur ulang sebagai pengganti kantong belanja plastik. Hadir, dukung, dan jadilah bagian dari arus gerakan “Fashionable People, Sustainable Planet”!

Teks: Siti Rahma / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *