DKNY Ready-To-Wear Spring 19 Collection

Fashion Report

Gambaran Kota Metropolitan di Label Number 1

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Lihat Koleksi →

Terinspirasi dari kehidupan kota besar, Number 1 hadirkan busana siap pakai untuk kaum urban.

Kecenderungan masyarakat Indonesia yang mulai percaya dengan produk lokal ditandai dengan mulai munculnya beberapa label busana asal Indonesia yang dapat diterima baik di dalam negeri maupun mancanegara. Lembaga Pendidikan Tata Busana (LPTP) Susan Budihardjo pun turut meramaikan dengan meluncurkan label Number 1.

LPTP Susan Budihardjo sebagai sekolah mode pertama yang melahirkan label busana siap pakai dan sebagai arena belajar untuk para siswa dan alumninya untuk terjun langsung ke masyarakat. Label Number 1 digawangi oleh 11 desainer alumni dari LPTB Susan Budihardjo. Berdiri pada tahun 2013 lalu dan telah mengeluarkan koleksi perdana mereka yang diberi judul Cardiomind. Pada Indonesia Fashion Week 2014 lalu mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan label asal Indonesia Colorbox.

Bertempat di The Hall Senayan City, Jakarta, 3 Oktober 2014, Number 1 mengusung tema  Ubiquitous Mod. Terinspirasi dari kehidupan masyarakat urban di kota besar. Segala aspek kehidupan, mulai dari gaya hidup hingga isu yang terjadi di dalamnya. Para desainer Number 1 dituntut untuk memnginterpretasikan sub-tema yang telah ditentukan ke dalam rancangan busana siap pakai.

“Saya membebaskan anak–anak untuk menginterpretasikan tema ini seluas-luasnya. Ide boleh diambil dari sisi mana saja, atau pun bentuk apa saja, bahkan termasuk problematika yang terjadi di kota besar,” ujar Susan Budihardjo pada saat konfrensi pers.

Mengangkat Kehidupan Metropolitan

Dilatarbelakangi kota metropolitan yang penuh dengan spanduk dan baliho yang menjamur dan menjadi pemandangan sehari – hari, beragam logo brand (termasuk logo brand fast food) hadir sebagai tema pembuka dalam fashion show Number 1 kali ini.

Diawali dengan model yang mengenakan atasan berwarna hijau neon dengan detail bahan plastik pada bagian lengan dan bawahan rok mini hitam dengan kantong segitiga terkspos berwarna pink dan hijau neon sebagai aksen.

Dilanjutkan denagan t-shirt dress hitam dengan detail bahan kulit sintetik pada bagian tangan. Sederet busana – busana kasual siap pakai berupa cropped top, midi skirt, celana panjang, dan jaket. Hadir dengan penggunaan material dari katun, kulit sintetis, dan plastik. Penambahan bahan organza dan zipper berwarna terang sebagai detail menambah kesan young dan modern pada koleksi ini.

Para model dilengkapi dengan aksesoris berupa tas yang terbuat dari kaleng biskuit, topi beanie dan headpiece berbentuk bungkus dari makanan cepat saji.

Berbeda seperti label asal Italia, Moschino, yang juga pernah mengusung tema yang sama, tema branding yang ditampilkan Number 1 merupakan konvergensi dari beberapa logo brand yang ada. Namun dalam penggunaannya hanya sebatas sablon kecil pada beberapa bagian sehingga koleksi ini lebih terasa seperti koleksi busana casual siap pakai dengan potongan yang asimetris.

Pada sesi ke-2, Number 1 mengangkat tema In-motion. Terinspirasi dari kegiatan masyarakat kaum urban, dari saat memulai aktivitas hingga senja menjelang. Lampu panggung fashion show pun seketika berubah menjadi biru saat sederet model keluar dengan busana kasual dengan potongan yang lebih sederhana. Three quarter pants, mini pants, pencil skirt, dan rok asimetris hadir dengan atasan cropped top berbahan katun, katun drill dan duchess.

Print bergambar abstrak dan siluet perkotaan menjadi detail yang digunakan pada koleksi sesi kedua kali ini. Meskipun warna asli busana dan detail lainnya tidak tampak akibat permainan lampu yang tidak biasa. Namum yang menjadi perhatian utama ialah aksesoris kaca mata unik berbentuk trapesium rancangan desainer aksesoris Rinaldy A. Yunardi serta sepatu yang tampak bercahaya pada saat model berjalan karya dari Yongki Komaladi.

Masyarakat Semakin Individualis

Pada era serba gadget sekarang ini membuat kehidupan masyarakat urban di kota metropolitan semakin individualis. Sosial media menjadi satu – satunya alat masyarakat untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Isu ini yang coba diterjemahkan oleh para desainer Number 1 dan merangkumnya dalam satu tema usai sesi ke-dua, Wifi.

Ada perubahan tata lampu. Kali ini lampu panggung fashion show pun kembali normal. Model berjalan dengan mengenakan long dress berwarna putih dengan belahan tinggi serta garis potongan bahu yang dibuat lebih rendah.

Dilanjutkan dengan mini dress putih berpotongan H-line berdetail stripe di bagian bawah. Ada penambahan jaket yang senada. Hadir juga sederet busana kasual siap pakai berwarna hitam. Walaupun dengan warna monochrome, koleksi ini menyuguhkan bentuk busana kasual yang lebih variatif. Penambahan detail laser cut menambah kesan modern dan edgy.

Aksesoris berupa bros dan ear-cuff berbentuk simbol wifi dengan ukuran besar pun disematkan sebagai daya tarik pencuri perhatian. Simbol sikap individualistik pemakainya.

Hadir sebagai penutup para model yang berjalan berpasangan dengan mengenakan busana unisex sebagai pelengkap dari keseluruhan koleksi ini.

Lahirnya label – label lokal Indonesia serta mulai menjamurnya acara fashion yang menampilkan label lokal sebagai pengisi utama acara, diharapkan dapat memajukan industri fashion Indonesia. Namun hal ini harus berjalan lurus dengan dibangkitkanya industri bahan baku dan sumber daya manusia sehingga lahirnya label lokal di Indonesia bukan hanya menjadi tren semata.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *