Alexander Wang

News

HAKI untuk Karya Iwan Tirta

By  | 
haki-iwan-tirta-8603

Lydia Kusuma Hendra, PT. Pusaka Iwan Tirta

Pembajakan karya bukan hal baru di Indonesia. Cenderung menjadi biasa. Seakan bukan sesuatu yang salah. Lantas, tidakkah lebih enak menjiplak daripada harus berpikir untuk berkarya?

Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) itulah yang menjadi topik pembicaraan dalam pembukaan Gebyar Museum Tekstil 2013, 10 Desember 2013 di Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta. Pakar HAKI, perajin, dan desainer hadir dalam acara yang khusus membahas HAKI untuk karya Iwan Tirta.

“Agar lebih bisa dilestarikan dan dikembangkan, almarhum Bapak Iwan Tirta menyerahkan/mengalihkan semua desain hasil karyanya kepada PT. Pusaka Iwan Tirta,” kata Lydia Kusuma Hendra, PT. Pusaka Iwan Tirta.

Hingga kini terkumpul 6.000 desain karya Iwan Tirta yang dihimpun oleh PT. Pusaka Iwan Tirta. Meliputi Pusaka Nusantara, Pusaka Indonesia, Pusaka Mahakarya, dan Pusaka Iwan Tirta. Karya ini bukan hanya kain batik sebagaimana dedikasi Iwan Tirta sepanjang hidupnya, tapi juga adi wastra dan pattern dari berbagai daerah di nusantara.

Persoalannya kemudian, bagaimana HAKI untuk warisan leluhur? Misalnya corak batik yang sudah ada dan diwariskan secara turun temurun? Apakah harus membayar untuk pengembangannya? Lantas, siapa yang berhak mengklaim royaltinya?

Pro.Dr. Ahmad Ramli, SH.MH, Dirjen HAKI, Kementrian Hukum dan HAM menjelaskan bahwa HAKI untuk batik ada dua sisi pandang. Pertama untuk warisan budaya, maka negara yang melindungi dan tidak boleh ada yang mengklaim. Hak cipta ada pada negara. Dalam konteks itu, karya tersebut sudah menjadi domain publik.

“Kalau batik kontemporer, misal bikinan Iwan Tirta, maka boleh didaftarkan,” kata Ahmad.  Pemegang HAKI tersebut memiliki hak ekslusif untuk mengembangkan. Bisa menjadi kain, wallpaper, dan kriya lainnya. Hak cipta melekat semur hidup. Sila seorang desainer sudah meninggal, masih mendapatkan perlindungan hingga 50 tahun kemudian. Setelah itu baru menjadi domain publik. Kini, hak cipta itu sedang diperjuangkan menjadi 70 tahun setelah pemiliknya meninggal.

Hal menarik dari diskusi tersebut ketika Asmoro, salah satu desainer dan perajin batik mengusulkan pendokumentasi wastra di Indonesia dan kesadaran hak cipta bagi perajin di daerah.

“Saya ingin menekankan kesadaran dari kawan-kawan perajin. Bahwa mereka penggarap ya penggarap, bukan desainer,” kata Asmoro. Artinya, hak cipta ada pada desainer.  Penggarap tidak boleh memperbanyak karya desainer tanpa seijin desainer yang mengorder karya tersebut.

“Memang desainer tak bisa hidup tanpa perajin, tapi perajin bisa hidup tanpa desainer. Saya ingin menekankan kesadaran itu,” tambah Asmoro.

Acara yang dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini menandai pembukaan Gebyar Museum 2013 yang digelar di Alun-Alun Indonesi, 11-14 Desember. Selain pagelaran busana karya Musa Widyatmodjo, pameran ini juga menampilkan batik, aksesoris, dan keramik yang terinspirasi dari karya Iwan Tirta.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *