DKNY Ready-To-Wear Spring 19 Collection

Fashion Report

Ingatan Penuh Makna Didi Budiardjo

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Lihat Koleksi →

Terinspirasi dari kotak tempat ia menaruh benda koleksinya, Didi Budiardjo mengajak kita melihat memori paling dalam selama 25 tahun berkarya.

Fashion show kali ini bukan sekadar menampilkan keindahan busana karya Didi, tapi ingin memberi kesan bagi para tamu usia show. Berlokasi Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, 1 Oktober 2014, Didi dan tim di belakang panggung menggarap semua unsur show dengan detail. Mulai undangan, souvenir, tata panggung, musik, pencahayaan dan tentu saja busana. Karena show ini istimewa bagi Didi. Mengajak para undangan untuk menyelam ke dalam memorinya. Baik itu memori bahagia dan memori sedih dalam tema Curiosity Cabinet.

Pintu terbuka, sebuah lorong kaca dengan dekorasi papan catur. Sejenak kita berdiam di sana untuk mendengarkan puisi berbahasa Perancis, Cet Amour karya Jacques Prevert. Puisi tersebut merupakan salah satu inspirasi Didi untuk mendesain busana kali ini. Puisi cinta yang cukup panjang, yang kita tak perlu memahami kata demi kata, tapi cukup merasakan. Bukankah seperti itu ‘cinta’?

Kemudian kita masuk ke runway. Focal point yang langsung tertangkap mata adalah hippocampus, makhluk mitos, salah satu inspirasi dalam mendesain busana. Hippocampi, yang juga merujuk nama bagian otak tempat menyimpan memori (hippocampus). Makhluk mirip kuda dengan sayap dan berekor ikan tersebut ada yang terbang, ada yang terpanah tepat di dada. “Bukan mati, tapi itu menunjukkan trance,” kata Alvian Gita, Muara Bagdja, event organizer show kali ini. Dalam limit kesadaran, maka kita diajak untuk membuka memori terdalam dari seorang Didi Budiardjo.

Tak hanya itu, detail kristal yang meyerupai tetesan air, backdrop yang dibuat seperti gletser hingga alunan musik khas film–film fantasi dengan ambience suara burung dan jangkrik membuat para undangan seperti benar–benar masuk ke dalam suatu dimensi memori.

Konsep yang apik dari seorang Didi Budiardjo berhasil diterjemahkan oleh seorang scenographer Indonesia, Felix Tjahyadi. Tata panggung yang indah serta penambahan detail kertas berbentuk kupu – kupu yang diterbangkan dari atas panggung serta efek asap menambah dramatis pagelaran 25 Tahun Didi Budiardjo berkarya.

Show dimulai dari panggung yang gelap. Dengan cahaya remang kebiruan, kita mendengarkan voice over (VO) Didi. Menjelaskan tentang show dan juga ucapan terima kasih kepada semua pihak yang membantu Didi dalam berkarya, termasuk para perempuan yang mengenakan desainnya.

Kesederhanaan yang Rumit

Umumnya fashion show dibuka dengan busana yang lebih ringan, namun tidak dengan show Didi kali ini. Ball gown bridal putih berdetail organza justru menjadi pembuka pada pertunjukan koleksi busana Didi Budiardjo Couture. Deretan gaun midi dengan detail print bercorak bunga dan burung yang dipadu dengan penggunaan aksesories coat serta tehnik drapery ciri khas Didi muncul pada sesi pertama.

Disusul dengan busana bermotif oriental dengan potongan cheongsam dan aksesoris berupa cape dan coat yang kaya akan detail. Selain motif – motif tersebut Didi Budiardjo juga menggunakan kain songket kualitas terbaik khas Sumatra Barat sebagai pelengkap koleksinya kali ini. Bahan material yang tidak biasa seperti crochet, lame matelassé, jaquard, enamel, damask, digunakan untuk menghadirkan busana dengan cutting sederhana tapi kaya detail. Termasuk penggunaan bulu angsa dan burung pun dieksplor oleh Didi Budiardjo ke dalam suatu koleksi yang indah sekaligus glamor.

Sesi selanjutnya hadir 6 model sekaligus dengan busana berpotongan A-line yang mewakili setiap tema yang didi angkat yaitu bucolic garden, dragon empire dan Mermaid. Dalam koleksi ini hadir juga jumpsuit dengan hoodie, peplum dress, hingga mullet dress. Terlihat jelas dalam koleksi Didi Budiardjo bahwa untuk merancang sebuah koleksi busana couture tidak perlu dengan bentuk busana yang rumit. Potongan simpel namun bermain dengan kreativitas penggunaan material justru menghasilkan koleksi busana couture yang terlihat classy dan lebih wearable.

Bukan Didi Budiardjo namanya bila tidak memperhatikan detail setiap koleksinya, termask aksesoris. Bekerja sama dengan desainer aksesoris Rinaldy A. Yunardi, hiasan kepala menambah indah show. Para model mengenakan aksesoris berupa head piece berbentuk serangga, kupu – kupu, dan bulu angsa.   Body piece berupa bros, gelang, kalung, dan cincin yang dikenakan setiap model sebagai simbol engagement Didi kepada dunia fashion Indonesia.

25 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang desainer bisa tetap berkarya, begitu juga Didi Budiardjo. Perjalananan waktu yang memjadikan seperti sekarang pun tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Ada pengalaman di dalamnya. Pengalaman yang membuat seorang desainer dapat mengenali makna dari setiap apa yang buat dan kerjakan, tidak hanya sekadar bagus dan indah semata, namun juga sarat akan makna.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *