DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

Fashion Issue

Jalan Panjang Menuju Fashion Revolution Day

By  | 
7_FRD_dateFesyen merupakan industri kreatif penting di dunia. Lebih besar dari industri film, musik dan buku. Namun, keuntungan yang diraup sektor ini tidak serta-merta membawa kesejahteraan bagi para buruh yang menopangnya. Fashion Revolution Day mengajak kita berbuat nyata untuk mengubah itu. Oleh Sadikin Gani.
Prev1 of 3Next
Kisah Buram di Balik Panggung Industri Fesyen

Setiap kali duduk di pit fotografer pikiran saya hampir selalu tergoda untuk menelisik hal-hal di balik panggung pagelaran fesyen. Tentu bukan backstage dalam arti harfiah. Seperti memotret aktivitas para model di balik panggung misalnya. Tetapi, siapa dan berapa banyak orang yang bekerja hingga sebuah pagelaran fesyen terselenggara. Lebih jauh lagi, berapa banyak tangan terampil yang menghasilkan sekian banyak pakaian hingga sampai di tubuh para model yang berjalan di runway. Bagaimana kondisi kehidupan mereka, kesejahteraan, keamanan kerja, jaminan kesehatannya, dan seterusnya.

Pikiran saya senantiasa disentil, bahwa seorang desainer dan brand tertentu tak akan pernah eksis dan meraup banyak keuntungan tanpa ditopang sekian banyak tangan terampil di baliknya. Sayang, masih sedikit dari kita yang tergelitik dan mau melemparkan perhatian ke arah sana walau mungkin hanya sejenak. Bagi pembeli kebanyakan, bicara pakaian adalah bicara kualitas dan harga. Cukup berhenti sampai di situ. Pertanyaan “nakal”, seperti bagaimana sebuah brand pakaian global merumuskan cara produksi yang mampu menjual produk kelas A dengan harga kelas C nyaris luput dari perhatian.

Sentilan kritik memang ada, tapi orang baru gemar menyoroti keglamoran dunia fesyen, desain buruk, kualitas rendah, atau tiru-meniru rancangan. Tak banyak yang berusaha menelusuri perjalanan panjang segenggam kapas yang ditanam petani menjadi benang. Lalu ditenun jadi kain hingga berganti rupa menjadi pakaian siap dikenakan. Tertata rapi di rak-rak toko dan ritel pakaian, lalu menggoda hasrat kita untuk membelinya.

Dari sedikit orang yang tergerak menelusuri sebagian perjalanan itu adalah John Pilger. Melalui film dokumenternya berjudul The New Rulers of the World (2001), kita diajak menyaksikan satu sisi kondisi kehidupan kaum buruh di Jakarta yang mengerjakan produk brandbrand global seperti GAP, Nike, Levi’s, Reebok, Adidas, Calvin Klein Jeans dan lain-lain. Mereka diupah murah. Tinggal di pemukiman kumuh dengan sanitasi buruk yang rentan penyakit. Keadaannya tak jauh berbeda dengan tempat tinggal para buruh yang tersebar di negara-negara Asia lainnya, Afrika, dan Amerika Latin, di mana brand-brand global diproduksi dengan murah.

Hal seperti itu luput dari perhatian kita sebagai pembeli. Sedikit orang yang tahu bahwa “brand-brand global, mulai dari sepatu olah raga hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara miskin dengan upah buruh sangat rendah, nyaris seperti budak,” papar Pilger.

Pilger mengisahkan, dari harga 112 ribu rupiah (sekitar tahun 2000-2001) untuk sepotong celana pendek bermerek GAP yang dibuat di Indonesia, buruh yang mengerjakannya hanya memperoleh 500 rupiah. Sementara dari sepatu lari seharga 1,4 juta rupiah, seorang buruh hanya memperoleh 5 ribu rupiah. Uang sebesar itu bahkan tak cukup untuk sekadar membeli tali sepatunya, kata Pilger.

Apakah perusahaan pemilik brand menyadari itu? Salah satu brand global yang menanggapi pertanyaan Pilger mengaku bahwa mereka memiliki program pengawasan pabrik yang komprehensif. Namun ironis, karena mereka pun mengakui tidak dapat (atau tidak mau?) memaksa perusahaan kontraktornya mengikuti ketentuan yang mereka buat.

Paparan Pilger adalah kenyataan pahit di balik panggung fesyen, deretan toko dan ritel pakaian yang tersebar di mall-mall kota besar. Namun, kisah itu belum benar-benar mengusik perhatian masyarakat dunia (di luar para buruh dan aktivisnya) terhadap kondisi kehidupan para buruh industri fesyen hingga terjadi bencana runtuhnya Rana Plaza di Dhaka, Bangladesh yang menewaskan 1.133 buruh garmen, dan melukai lebih dari 2.500 orang.

Prev1 of 3Next
Kisah Buram di Balik Panggung Industri Fesyen

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *