DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Issue

Jalan Panjang Menuju Fashion Revolution Day

By  | 
7_FRD_dateFesyen merupakan industri kreatif penting di dunia. Lebih besar dari industri film, musik dan buku. Namun, keuntungan yang diraup sektor ini tidak serta-merta membawa kesejahteraan bagi para buruh yang menopangnya. Fashion Revolution Day mengajak kita berbuat nyata untuk mengubah itu. Oleh Sadikin Gani.
Prev2 of 3Next
Tragedi Rana Plaza, “Enough is Enough”

Bangladesh merupakan eksportir garmen terbesar kedua setelah Cina. Menyerap sekitar 3,6 juta orang buruh dari total populasi lebih dari 150 juta (The Asia Foundation). Sebagian besar adalah perempuan. Pabrik-pabrik tersebut mensuplai produk pakaian untuk sedikitnya 27 brand global. Empat brand di antaranya yang cukup populer di Indonesia adalah Zara, Mango, H&M dan GAP.

Dari tiga juta lebih buruh garmen di Bangladesh, Selim Reza adalah salah satunya. Pagi itu, 24 April 2013, seperti hari-hari sebelumnya dia melangkahkan kaki menuju pabrik garmen tempatnya bekerja. Terletak di salah satu lantai Rana Plaza. Setiba di sana, dia dan beberapa kawannya enggan meneruskan langkah. Mereka khawatir dan takut bangunan pabrik tempatnya bekerja akan runtuh setelah melihat ada beberapa bagian gedung yang retak.

“Tapi mereka (manager pabrik-ed) mengancam kami semua. Memukuli beberapa orang dari kami, dan mengatakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak akan terjadi apa-apa. Ini hanya retak ringan,” kenang Selim seperti dikutip Shahnaz Parveen (Rana Plaza Factory Collapse Survivors Struggle One Year on, BBC, 23 April 2014).

Kekhawatiran Selim dan kawan-kawannya terbukti. Tak lama berselang gedung berlantai sembilan yang menjadi kompleks pabrik garmen itu runtuh. Tak mampu menopang beban para pekerja dan segala isi di dalamnya. Tak ayal lagi, ribuan orang yang sebagian besar adalah kaum buruh terbawa ambruk, tertimbun reruntuhan beton.

Meski terendam selama 8 jam, pengalaman Selim tak seburuk 1.133 buruh lain yang tewas tertimpa bongkahan beton. Juga tak semenderita Mossammat Rebecca Khatun, seorang buruh perempuan yang terpaksa kehilangan kedua kakinya, dan ibu kandungnya yang juga buruh.

“Di hari kejadian itu ibu saya menghampiri dan berkata, ‘Rebecca kamu belum sarapan. Mari kita makan sebelum mulai bekerja’. Dia pergi membeli makanan. Itulah terakhir kalinya saya melihat dia. Hanya dalam beberapa menit bangunan runtuh.” kenang Rebecca yang tertindih bongkahan beton selama dua hari itu (Shahnaz Parveen, 2014).

Di Bangladesh, kecelakaan di pabrik garmen yang menelan korban jiwa bukan peristiwa baru. 14 Desember 2010 terjadi kebakaran di pabrik pakaian olah raga untuk brand JC Penney, VF corporation, GAP, Philips Van Heusen, Abercrombie & Fitch, Carters, Kohls, dan Target. Kecelakaan itu menewaskan 29 orang. Lima bulan sebelum Rana Plaza runtuh, tercatat ada 117 buruh tewas dalam kebakaran yang melanda pabrik garmen Tazreen di pinggiran Dhaka, Bangladesh (One Year after Bangladesh’s Rana Plaza Tragedy, has Anything Changed?, CNN, 24 April 2014). Dua bulan kemudian terjadi lagi kebakaran di Smart Export Garment Ltd, Dhaka, dan menewaskan 7 orang buruh perempuan (Bangladesh Factory that Burned had Locked Exit, Worker Alleges, CBC News, 27 Januari 2013).

Jauh sebelum peristiwa itu terjadi Asia Times melaporkan (16 Desember 2010), sepanjang tahun 2006—2009 telah terjadi 213 kebakaran pabrik garmen di Bangladesh, dan menewaskan 414 orang buruhnya. Dan dalam rentang waktu 10 tahun (2003-2013) kecelakaan yang terjadi di pabrik-pabrik garmen di Bangladesh sudah menelan korban jiwa sebanyak 2.200 orang (Calorine Leaper, 8 Things You Need To Know About Fashion Revolution Day, Marie Claire, 23 April 2014).

Kenyataan itu semakin melengkapi kesaksian Pilger kurang lebih tiga belas tahun lalu tentang buruknya kondisi tempat kerja buruh industri fesyen di Jakarta. “Kami menemukan lebih dari 1.000 orang, kebanyakan perempuan muda bekerja dalam keadaan penuh sesak di bawah lampu neon bersuhu 40 derajat celsius. Satu-satunya ruangan ber-AC ada di lantai atas untuk para bos,” tutur Pilger usai mengunjungi sebuah pabrik garmen yang memproduksi pakaian merek GAP (John Pilger, 2001, The New Rulers of the World).

Sebagian dari kita mungkin menganggap ambruknya Rana Plaza sebagai masalah konstruksi bangunan yang buruk. Tidak salah. Tetapi, bukan satu-satunya masalah. Banyak aspek di luar itu yang memungkinkan bencana terjadi. Masalah perlindungan dan jaminan keselamatan kerja, serta pengawasan terhadap pengoperasian pabrik adalah dua di antaranya. Jika dijalankan dengan baik, besar kemungkinan kaum buruh yang menjadi korban reruntuhan Rana Plaza tak akan pernah menempati bangunan yang tak bisa menjamin keselamatan. Mereka pun tak akan diperlakukan semena-mena seperti pengalaman Selim Reza dan kawan-kawannya yang dipaksa memasuki pabrik yang tak layak huni. Atau terperangkap hingga tewas terbakar seperti yang dialami para buruh Smart Export Garment Ltd, karena pintu darurat pabriknya terkunci (CBC News, 27 Januari 2013).

Prev2 of 3Next
Tragedi Rana Plaza, “Enough is Enough”

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *