Alexander Wang

News

Jurnalis Fesyen Beda dengan Jurnalis Gaya Hidup

By  | 
tas-sp-04-05-2014

Foto bersama seusai Sharing dan Pelatihan Menjadi Jurnalis Fesyen

Hal ini disampaikan oleh Sadikin Gani, Editor in Chief The Actual Style saat membuka sesi pertama Sharing dan Pelatihan Menjadi Jurnalis Fesyen di Phalie Studio, Kelapa Gading, 4 Mei 2014. Pelatihan yang diadakan oleh The Actual Style bekerjasama dengan Phalie Studio diikuti oleh 9 peserta yang mendaftar secara online melalui www.theactualstyle.com. Bertujuan untuk memberi wawasan tentang lingkup peliputan fesyen dan media fesyen.

Menurut Sadikin, sebagian besar media di Indonesia yang memuat fesyen bukan media fesyen melainkan media gaya hidup (lifestyle media). “Di media fesyen tidak akan membahas bagaimana cara merawat tubuh,” kata Sadikin mencontohkan. Mengisi ruang publik yang ingin membaca khusus fesyen dan lebih mendalam, The Actual Style hadir. Media daring (online) yang resmi diluncurkan pada 19 Oktober 2013 ini khusus membahas fesyen dan style.

Mengulas fesyen dan style di Indonesia dan manca negara menjadi tujuan The Actual Style. Selain itu juga menelisik berbagai hal di balik style dan fesyen melalui kekhasan rubrik-rubriknya. “Bukan hanya media, tapi kami juga menjadi ruang pertemuan para pelaku industri fesyen dan masyarakat,” tambah Sadikin yang juga founder The Actual Style. Misi ini diwujudkan dalam online dan offline. Di online, The Actual Style menyediakan kanal marketplace yang sedang dibangun. Kanal yang dikhususkan untuk showroom produk  fesyen Indonesia. Di ranah offline, The Actual Style mengadakan pelatihan dan sharing soal fesyen. Dari mulai media fesyen hingga bisnis fesyen.

Usai pengenalan The Actual Style, sharing dilanjutkan dengan membuka wawasan peserta soal fesyen. Sesi ini disampaikan oleh Patricia Sandjaja dan Firman Lie dari School of Art and Design Phalie Studio. “Kekinian, memahami peran dan kontribusi,” kata Firman Lie ketika mendiskripsikan tentang aspek peliputan fesyen. Kekinian yang dimaksud bukan hanya soal waktu, dalam arti baru saja terjadi, tapi juga menyangkut kebaruan. Hal yang belum pernah terjadi atau dilakukan. Patricia menjelaskan soal kekinian  dalam desain misalnya hal baru yang dilakukan desainer busana. Desainer yang membuat busana dari koleksi ke koleksi selalu sama cutting dan siluetnya, hanya mengubah warna dan bahan, maka jurnalis fesyen tidak selayaknya menuliskan bahwa desainer tersebut meluncurkan koleksi baru. Pengetahuan dan sensitifitas indera inilah ditekankan oleh Patricia sebagai modal seorang jurnalis fesyen.

Di sesi terakhir, merupakan sesi teknis bagaimana peliputan, wawancara, hingga menulis di The Actual Style. Sharing dan pelatihan ini akan menjadi bekal para peserta untuk tugas selanjutnya yaitu praktik menulis. Baik melalui liputan maupun menulis artikel dari studi literatur tentang isu fesyen.

Teks: Titik Kartitiani/ Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *