Alexander Wang

Fashion Extravaganza - JF3

Kain Nusantara Warnai Hari Ke-3 Fashion Extravaganza, JF3 2014

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Rafi Ridwan

Ada 3 sesi peragaan busana di hari ke-3 Fashion Extravaganza, Jakarta Food and Fashon Festival (JF3), 18 Mei 2014 di Ballroom Harris Hotel, Kelapa Gading, Jakarta. Fashion show pertama dimulai sekitar pukul 16.00 WIB persembahan dari IKAT Indonesia oleh Didiet Maulana. Mengambil tema Garis-garis Budaya Nusantara, Didiet menampilkan koleksi Spring/Summer 2014. Garis-garis yang dimaksud Didiet adalah kreasinya menggunakan bahan kain lurik khas Klaten, Jawa Tengah. Uniknya, koleksi Spring/Summer yang identik dengan warna cerah, Didiet justru menampilan warna hitam dan putih. Menurut Didiet, keceriaan Spring/Summer dihadirkan dari model busana yang lebih playfull. Sejumlah 54 koleksi busana warna hitam, putih, dan kombinasi merah hadir di koleksi ini. Hadir pada kesempatan ini, Mike Lewis sebagai muse untuk IKAT Indonesia, menggantikan Nicholas Saputra.

Di fashion show kedua, tampil Rafi Ridwan. Penampilan di JF3 kali ini bagi Rafi menjadi momen yang istimewa. “Bagi Rafi, merupakan fashion show tunggal pertama di Indonesia,” kata Shinta Ayu Handayani, ibu Rafi, yang mewakilinya untuk menerjemahkan kata-kata Rafi. Desainer usia 9 tahun ini mewujudkan salah satu mimpinya hari ini. Bahwa ia akan tampil di JF3, pagelaran busana yang pertama kali ia lihat beberapa tahun lalu, dan menginspirasinya menjadi desainer fesyen.

Kali ini, ia menampilkan 40 set busana perempuan yang menggambarkan kesan effortless beauty, kecantikan sederhana, dan tetap memesona dalam balutan warna dominan merah. Bahannya berupa kombinasi kain ikat Bima dan tenun troso yang dipadukan dengan embroidery motif kerang dan kuda laut. Rafi memang terinspirasi dari kehidupan bawah laut, teruma putri duyung, yang ia gambar sejak sejak usia 3 tahun. Kali ini, koleksi bertema Sirena del Sur (Putri Duyung dari Selatan), menghadirkan intrepretasi Rafi tentang putri duyung dalam koleksi busana.

Hadir dalam fashion show, Marie Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk mendukung Rafi khususnya, dan kreasi kain tradisional Indonesia pada umumnya. “Diperlukan strategi pemasaran, branding, dan juga bagaimana berkomunikasi dengan perajin kain tradisional,” kata Marie. Tujuannya agar para perajin di daerah juga mendapat keuntungan dari karyanya.

Hal ini sejalan yang dikampanyekan oleh IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) di fashion show terakhir hari itu. Menampilkan 6 desainer yaitu Carmanita, Yongki Budisutisna, Yogie Pratama, Mel Ahyar, Barli Asmara, dan Era Soekamto. Semua desainer ini menampilkan kain tradisional Indonesia dalam interpretasi masing-masing. “Sejak tahun 1985, kami mengkat kain-kain tradisional yang kami sebut sebagai kain negeri. Tujuannya, agar para desainer punya tanggung jawab untuk mengangkat kain leluhur ini menjadi busana. Akhirnya, para perajin pun terangkat kesejahteraannya,” kata Dipl. Des. Sjamsidar Isa, Ketua Dewan Pengurus IPMI. Masing-masing desainer menampilkan 8 karya, jadi total ada 48 busana.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *