DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Report

Kain Songket untuk Busana Muslim

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Lihat Koleksi →

Mengangkat kebudayaan Palembang, Dian Pelangi membuat koleksi busana muslim dengan detail batu dan kilau benang emas berbahan songket Palembang.

Kain songket adalah kain yang dibuat dengan sistem mencungkil dari selembar kain tenun, kemudian diselipkan benang emas atau perak. Pola ini biasanya mengandung makna tertentu. Dalam proses menenun, kain ini harus melalui delapan tahapan sebelum menjadi sepotong kain songket. Biasanya, songket Palembang dikenakan saat upacara adat dan perayaan. Dian Pelangi ingin menampilkan songket yang bisa dikenakan kapan saja, dalam bentuk busana muslim.

Think global wear local merupakan slogan yang selalu diucapkan Dian Pelangi dalam berbagai kesempatan. Salah satunya ketika press conference sebelum fashion show di Jakarta Fashion Week 2015 (01 November 2015). Dalam show-nya kali ini, Dian Pelangi terinspirasi dari kecantikan gadis Palembang dan kecintaannya terhadap tanah kelahiranya, termasuk kecintaannya pada songket Palembang.

Busana Muslim yang Berkilau

Koleksi busana Fall/Winter 2014 Dian Pelangi bertema Miss Palembang in New York. Peragaan busana dibuka dengan model yang mengenakan busana smock dress lengan panjang berbahan songket lepus, dengan detail embellishment batu di bagian kerah. Busana ini dipadu dengan celana berbahan velvet berwarna legion blue. Dilanjutkan dengan busana bodycon dress panjang berbahan velvet, dengan detail peplum bahan songket lepus yang dipadukan dengan jaket berbahan songket bungo cino berdetail embellishment batu.

Sederet busana dengan bahan songket benang emas dan perak dipadu dengan embellishment batu, membuat koleksi busana muslim ini tampak berkilau dan mewah. Busana muslim yang dihadirkan berupa midi dress, maxi dress, celana panjang, blazer, dan peplum blouse, serta “tabrak motif” kain songket dengan detail ruffle membuat koleksi ini kian ramai. Fashion show ditutup dengan busana mini cape dress berbahan songket putih, dengan detail embellishment batu yang dipadu dengan celana panjang berbahan velvet.

Selain mengangkat kain songket untuk koleksi busana muslim, Dian Pelangi juga menggunakan aksesoris khas Palembang seperti kalung tapak jajo, ikat pinggang, gelang kano, dan hiasan kepala. Koleksi ini juga menggunakan aksesoris modern berupa kaca mata dengan bingkai emas, tas wristlet clutch berwarna emas, serta pump shoes berwarna emas juga.

Penggunaan bahan songket dengan berbagai motif, ditambah aksesoris dan sepatu yang didominasi warna emas, membuat koleksi ini tampak sangat ramai. Dimeriahkan dengan penggunaan jilbab yang ditumpuk dengan turban berbahan velvet membuat bentuk kepala model jadi terlihat panjang dan “menjulang”.

Bukan Ciri Khas Busana Kota Besar

Penggunaan tema Miss Palembang in New York pada koleksi ini dirasa kurang pas dengan keseluruhan busana yang ditampilkan. Alih–alih menampilkan kain songket dengan bentuk yang modern, seperti tujuan dari koleksi ini, Dian Pelangi justru menghasilkan busana tradisional pada umumnya. Kain songket dan segala bentuk aksesoris justru terlihat seperti busana tradisional Palembang yang kita kenal.

Sementara kesan New York yang ingin Dian sampaikan pun terbantahkan dengan koleksi busana yang penuh dengan detail batu dan warna emas. Busana dengan detail batu lengkap dengan warna emas seperti ini sama sekali tidak mencerminkan kehidupan kota besar seperti New York. Ciri khas masyarakat kota besar adalah sibuk. Tentunya masyarakat dengan banyak aktivitas akan memilih mengenakan busana yang lebih simpel dan praktis.

Busana dengan detail emas seperti koleksi Dian Pelangi ini, kemungkinan akan diminati oleh masyarakat daerah yang masih menganggap busana berkilau dikenakan oleh masyarakat dengan strata sosial tinggi. Semakin tinggi status sosial, semakin banyak elemen emas yang melekat di tubuhnya. Karena bagi sebagian masyarakat, emas merupakan simbol dari kemakmuran.

Menampilkan Koleksi Lama

Mengacu pada makna sebenarnya, fashion week merupakan ajang bagi para desainer untuk memperkenalkan karya terbarunya kepada khayalak luas. Inovasi dan konsistensi dalam mengeluarkan koleksi menentukan layak tidaknya seorang desainer tampil di fashion week. Namun hal ini nampaknya tidak berlaku di ajang Jakarta Fashion Week 2015, khususnya bagi beberapa desainer Indonesia Fashion Forward (IFF).

Dian Pelangi merupakan salah satu dari 30 desainer anggota program Indonesia Fashion Forward. Saat sebagian dari desainer IFF lainya membuat koleksi Spring/Summer 2015, Dian Pelangi bertahan dengan menampilkan koleksi Fall/Winter 2014-nya yang pernah ditampilkan di New York, Washington DC Fashion Week’s Haute and Modesty Show (September 2014), dan trunk show Galleries Lafayette, Jakarta (17 Oktober 2014).

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *