DKNY Ready-To-Wear Fall 19 Collection

News

Kain Tradisional Indonesia dalam Tango

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Tango in Paradise kembali digelar pada tanggal 27-30 November 2014 di Bali. Kali ini, untuk ketiga kalinya. Bukan sekadar ajang kumpul para maestro/maestras tango dari berbagai negara, juga bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia melalui busana yang dikenakan, yaitu kebaya.

Setiap tahun acara yang diprakarsai oleh Tango Lovers Jakarta didukung Kedutaan Besar Republik Argentina dan Indonesia Tatler ini mengangkat tema berbeda. Tahun 2013 bertema kain songket dan kain endek. Tahun 2014, pilihan jatuh kepada kain tenun rangrang. “Kita mempelajari tango yang merupakan kebudayaan Argentina, karena kebetulan profesi saya dulunya model fashion, jadi saya ingin mempertemukan atau mix culture antara kebudayaan Indonesia dan Argentina. Mix culture between Indonesia fashion and tango,” kata Ratih Soe Kosasih, penggagas dan Ketua Tango in Paradise.

Kain tenun rangrang dihasilkan oleh penduduk Desa Karang, Nusa Penida. Kata rangrang berasal dari kata ‘jarang–jarang’. Karena kain tenun rangrang mempunyai ciri khas permukaan kain bertekstur dan berlubang–lubang dengan benang lungsi renggang. Pengenalan kain tenun rangrang dilakukan pada tanggal 29 November 2014 pada sesi Traditional Milonga Dinner.

Menyajikan Perpaduan Dua Budaya

Bertempat di Padma Hotel, Seminyak, Bali, acara dibuka joged bumbung. Tarian asal Bali ini punya kemiripan dengan tango. Tarian pergaulan yang dipentaskan dalam acara kemasyarakatan di Bali. Tarian ini dibawakan oleh penari perempuan. Saat pentas, penari ini mengajak penonton, biasanya laki-laki untuk diajak menari bersama. Sama halnya dengan tango, joged bumbung diawali dengan saling memandang dengan tatapan menggoda, mengirimkan sinyal untuk diajak menari bersama.

Selanjutnya, milonga (menari bersama). Hal menarik adalah busana yang dikenakan peserta yaitu kebaya dan kain tradisional Indonesia. Busana dengan atasan bustier, kebaya, dan baju kurung menjadi pilihan para penari tango malam itu. Bentuk atasan busana tidak berpengaruh terhadap tarian tango karena tarian ini lebih mementingkan gerakan kaki.

Kain tenun Sumba, songket Bali, songket Palembang, kain endek, dan batik menjadi pilihan para penari tango dalam acara malam itu. Hampir seluruh jenis kain Indonesia dapat menjadi busana dalam tarian tango, dengan catatan kain tersebut tidak menggunakan material yang berat. Kain dengan material sutera cocok sebagai bawahan busana dalam menari tango. Bentuk busana yang disesuaikan dengan tarian tango berupa uneven hem skirt, rok panjang dengan belahan tinggi, midi skirt, hingga harem pants.

Acara Traditional Milonga Dinner ini juga dimeriahkan dengan pemberian hadiah untuk best dress kepada para undangan yang hadir. Best dress untuk busana perempuan jatuh kepada Paphin dengan mengenakan busana atasan kebaya kutu baru berbahan lace dengan warna lime green dan dusty pink. Ia mengenakan bawahan rok panjang berbahan tenun serta detail lace yang serupa dengan kebaya. Rok panjang tersebut diberi belahan di keempat sisinya agar memudahkan bergerak saat menari tango. Sedangkan best dress untuk laki–laki jatuh kepada Fuchong dengan menggunakan jas berbahan tenun Sumba. Bawahan celana panjang hitam berpotongan straight.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *