DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Report

Kebahagiaan Imlek dalam Busana Cheongsam

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Lihat Koleksi →

Kebahagiaan sebagai harapan menyongsong Tahun Baru Imlek diterjemahkan Sebastian Gunawan ke dalam sebuah koleksi busana berpotongan Cheongsam.

Masyarakat Tionghoa mempunyai kalender yang berbeda dengan kalender Masehi, disebut kalender Qamari Cina. Awal kalender ini dinamai Tahun Baru Imlek (Lunar New Year), melambangkan permulaan baik dalam nasib maupun kehidupan. Sanak saudara akan berkumpul pada malam Tahun Baru Imlek. Hutang piutang akan dilunasi dan rumah akan dicuci, kemudian dihiasi dengan buah limau sebagai simbol murah rezeki.

Kebiasaan merayakan Tahun Baru Imlek ini hanya terdapat di negara–negara yang menpunyai banyak penduduk etnis Tionghoa, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Macau, dan Indonesia. Masyarakat yang merayakan Imlek mempunyai kebiasaan memakai pakaian serba baru dan berwarna merah. Warna merah dipercaya akan menakuti roh jahat dan mengusir nasib malang.

Hal ini yang menjadi pertimbangan Sebastian Gunawan meluncurkan koleksi khusus untuk Tahun Baru Imlek. Bertempat di Grand Ballroom, Hotel Mulia, Jakarta, Sebastian Gunawan (Seba) dan Cristina Panarese meluncurkan koleksi busana dengan tema Moon Dance (Yue Liang Wu) pada tanggal 3 Februari 2015. Menurut Seba, malam Tahun Baru Imlek juga diartikan sebagai kebahagiaan, di mana bulan seolah ikut menari menemani perayaan Tahun Baru Imlek.

Panggung fashion show kali ini didesain dengan dekorasi bertema budaya Tionghoa, karya desainer interior Agam Riadi. Panggung dihias lampion dan tata lampu bernuansa merah. Fashion show dimulai dengan para model berdiri di atas stage dengan pencahayaan temaram. Model pertama berjalan mengenakan busana mini dress berwarna citron, dengan kombinasi kerah cheongsam (qi pao) berwarna lavender. Busana pembuka, Seba menggunakan bahan silk mikado dengan detail embroidery.

Model selanjutnya mengenakan busana shift dress berwarna blush, dengan detail border hitam bermotif bunga. Kemudian hadir mini dress berwarna hitam dan putih dengan potongan A-line, dengan detail border berupa bordir bunga khas Tionghoa. Pada sesi pertama ini hadir sederet busana berpotongan cheongsam (qi pao) dengan warna–warna yang lebih berani seperti citron, orange, blush, dan lavender.

Sederet busana berpotongan cheongsam dengan aplikasi detail dan teknik yang rumit hadir dalam pilihan gaun pendek dan panjang. Detail embellishment beads, mutiara, dan kristal hasil kolaborasi Sebastian dengan Swarovski menambah kesan mewah pada koleksi ini.

Sesi ke-2 dibuka dengan model yang mengenakan busana atasan putih dengan detail bunga organza dan fringe, serta bawahan celana panjang putih. Selanjutnya tampil busana shift dress berbahan organza dengan detail embroidery dan fringe pada bagian bawah dress.

Pada sesi ini hadir sederet busana berwarna putih, hitam dan merah dengan potongan cheongsam yang dimodifikasi menjadi shift dress, body-con dress, peplum dress, hingga ballgown. Kesan Tionghoa terasa pada kerah, bordir yang terinspirasi dari kancing Tionghoa. Juga penggunaan tassel khas Tionghoa pada aplikasi detail setiap busana.

Pada sesi ke-3, hadir sederet busana perpaduan dari unsur Tionghoa dan Eropa yang sering kali Seba hadirkan dalam koleksinya terdahulu. Bentuk permainan drapery, peplum, dan uneven hem pada setiap busana seperti dapat dengan mudah ditebak. Hal ini diperparah dengan penggunaan motif fabric yang mirip dengan koleksi Mélange de Sens, mengingat jarak munculnya yang tidak terlalu jauh, membuat koleksi Seba pada sesi ke-3 ini terasa monoton.

Fashion show koleksi Moon Dance ini ditutup dengan penampilan model yang mengenakan busana Sebastian Sposa. Busana pengantin dengan tema internasional dengan detail kerah cheongsam, ditambah embellishment batu kristal Swarovski yang membentuk pola seperti sayap kupu–kupu.

Para model mengenakan headpiece dari Heliopolis. Make-up hasil kolaborasi dengan W2 salon. Untuk aksesoris kali ini berupa sarung tangan yang sama dengan koleksi Sebastian sebelumnya, yaitu pada tema Mélange de Sens. 

Seba menghadirkan 68 potong busana dengan tema Tionghoa. Busana yang diperuntukkan khusus untuk merayakan Tahun Baru Imlek ini kental dengan sentuhan percampuran antara Tionghoa dengan gaun Eropa. Hal ini merupakan ciri khas dari garis desain Seba selama ini. Detail bunga pun seperti tidak bisa lepas dari sosok Seba, meskipun beberapa kain dari koleksi ini dapat dengan mudah ditemui di web-store. Namun sentuhan hasil akhir dari Sebastian Gunawanlah yang membuat para pencintanya selalu ingin memiliki koleksinya.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani 

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *