DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

Stories

Kostum Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk

By  | 
samuel-wattimena-9179

Samuel Wattimena

Sebuah perpisahan berlatar senja samar.  Zainuddin meminta Hayati memberikan sesuatu sebagai ‘teman’ saat ia merantau ke Padang Panjang. Hayati pun melepaskan kerudung putih sulaman khas Sumatera Barat. Dari kerudung ini dan busana pemain, setting film pun tergambar.

Adegan di atas merupakan salah satu scene film Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk. Film dari novel karya Buya Hamka, mengisahkan kisah cinta Zainuddin (Herjunot Ali) dan Hayati(Pevita Pearce) yang ditentang karena perbedaan strata sosial dengan setting tahun 1930-an di Sumatera Barat. Setting waktu dan tempat, memengaruhi busana yang dikenakan agar film tak tampak janggal dan menemukan realitanya. Adegan perpisahan mirip, sama-sama memberikan kerudung. Hanya kerudung yang yang diberikan oleh Hayati tentu beda dengan kerudung yang diberikan Anjali kepada Rahul dalam film Kuch-Kuch Hota Hai yang ber-setting di India akhir tahun 1990. Membandingkannya dengan film India karena kebetulan sutradara, produser, sekaligus salah satu penulis skrip film ini berdarah India, Sunil Soraya.

Kerudung milik Hayati  berwarna putih, dengan renda di pinggiran dan motif sulaman khas Sumatera Barat. Detail busana yang tersorot kamera tersebut punya cerita saat The Actual Style menemui Samuel Wattimena, desainer busana yang menggarap desain kostum film tersebut.

“Produsernya orang India. Orang India tidak mau sesuatu yang berat, yang orijinal, tapi tidak ada yang nonton,” kata Samuel. Sesedih apapun kisah yang dihadirkan, tetap harus menghibur. Begitu pula dengan kostumnya. Tidak harus memaksa sesuai dengan realita pada tahun 1930-1936 saat cerita tersebut berlangsung. Karena kisah ini bukan cerita sejarah dan bukan tradisi yang tak bisa diubah, maka Samuel lebih bebas berkreasi. “Yang penting flavour-nya pada tahun itu,” tambahnya.

Busana menunjukkan kelas sosial

Flavour atau ‘ruh’ dari busana masa itu yang coba dihadirkan di sini. Samuel mencontohkan, perbedaan busana bagi kaum kelas atas dan kelas bawah. “Kelas ekonomi tertentu pasti bajunya apik. Aku bos, kamu pembantu,” ujar pemilik label Samuel Wattimena. Pada masa itu, perbedaan strata sosial, jenis pergaulan, berpengaruh dalam berbusana. Dalam bahasa film, cara berbusana merupakan bahasa tanpa dialog untuk menunjukkan karakter tokoh tersebut.

Kita bisa lihat, cara berbusana Aziz (Reza Rahadian), tokoh yang kemudian menikah dengan Hayati ,berbeda dengan cara berbusana Zainuddin. Aziz mengenakan setelan jas sebagaimana yang dikenakan orang Belanda pada zaman itu dengan sepatu mengilap. Menunjukkan Aziz orang kaya dan sukses sebagai pegawai Belanda dan pergaulan dianggap modern. Sementara Zainuddin mengenakan baju koko dengan sulaman sederhana, celana bahan, berkopiah dan mengenakan sandal. Bertahun kemudian, saat titik balik kehidupan Zainuddin menjadi orang sukses, maka busananya pun berubah seperti busana yang dikenakan Aziz.

Sementara untuk busana perempuan, sebelum menikah dengan Aziz, Hayati digambarkan sebagai perempuan Minang yang taat adat. Ia mengenakan kebaya, kain, dan kerudung. Saat ia bermetamorfosa menjadi istri Aziz, maka busana khas Minang tersebut ditanggalkan. Menjadi terusan tanpa lengan dengan sepatu vantopel tanpa kerudung. Di sini, perubahan busana bisa menggambarkan perubahan.

“Panjang rok sebetis, tidak mini. Sesuai derap masa itu,” kata Samuel.  Selain ukuran, motif akan mudah tertangkap kamera yang akan membawa kita ke era di setting film. Karenanya, desainer busana mempertahakan motif pinstraip dan floral, motif yang tren kala itu. Untuk material, tidak sama persis. Begitupun soal detail siluet. Dahulu ketat, tapi kostum di sini dibuat agak longgar.
Demikianlah konsep dari kostum di film ini. Menurut Samuel, yang penting adalah pesannya sampai, ceritanya bisa ditangkap dan menghasilkan perenungan. Kesemuanya merupakan hiburan. Bila ada ada kesedihan diharapkan bisa menyentuh penontonnya tapi tidak sampai merengek. Hasil akhirnya, sebuah keindahan yang membuat semua penonton senang.

Konsep dan Sistem Kerja

Sejumlah 300-an kostum ia buat untuk film ini. “Saya pegang bintang utama, produksi figuran dibantu orang lain,” ujar Sammuel menceritakan cara kerjanya.  Proses membuatnya pun tidak lama. Walau harus survei dan membuat kostum yang sesuai karena ia sudah punya pengalaman soal kostum dan punya sistem kerja yang bagus. Sejak tahun 1980-an, Sammuel sudah terbiasa dengan kostum panggung dan film. Pada masa itu, ia mengerjakan kostum teater untuk pementasan Ratna Sarumpaet dan Ratna Riantiarno. Juga untuk film Teguh Karya, Arifin C Noor, hingga Garin Nugroho.

Tak hanya untuk film dan teater, kostum untuk penyanyi pun pernah ia kerjakan. Tahun 1979, Samuel mengerjakan busana yang dikenakan Titi Hamzah, Vivian Hutoru, dan Anton Sudibyo untuk Pop Song Festival yang kala itu dihadiri Celine Dion. Pengalaman inilah yang tidak bisa diabaikan sehingga saat menyelesaikan kostum untuk film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck menjadi lebih cepat dibandingkan desainer yang belum pernah punya pengalaman.

Ia sudah bisa memperkirakan, kostum untuk menghasilkan suasana gembira bagi 100 orang akan berbeda dengan suasana gembira untuk 2 orang. Bila untuk banyak orang, maka warnanya harus diperlembut. Begitupun untuk menghasilkan efek sedih, menggunakan warna gelap tapi tak terlalu hitam sehingga saat melebur dengan scene kamera, bisa pas. Hal inilah yang ia dapat dari pengalaman berinteraksi dengan tokoh teater dan sutradara. Konten ‘klasik’ atau dasar-dasar dari kostum panggung dipelajari dari sini. Tinggal pengembangan untuk berbagai jenis film.

Selain itu, ia berpengalaman soal bagaimana merealisasikan ide desain dalam jumlah banyak dan waktu terbatas. “Tahun 1980-an itu masa-masa sulit bagi fashion. Tidak ada sekolah fashion,” kenang Samuel. Semua dipelajari dengan otodidak. Saat ia mendapatkan order dalam jumlah besar, maka ia menciptakan sistem kerja yang ia bangun dari pengalaman. Hingga kini, sistem itulah yang bekerja. Desainr hanya konsentrasi dalam hal ide desain dan estetikanya.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *