Alexander Wang

Fashion Report

Ladies First Menutup IFW 2014

By  | 
cover-ladies

Kiri ke kanan: rancangan Jeanny Ang, Gregorius Vici, Espen Salsberg, Anne Avantie

Semua tetang perempuan. Perempuan yang menginspirasi, perempuan yang romantis, dan perempuan yang peduli dengan budaya serta jerih para perajin tradisional, disajikan dengan kemasan megah dalam sebuah rancangan busana bertema Ladies First. Fashion show puncak acara Indonesia Fashion Week (IFW) 2014, 23 Februari 2014 di Plenary Hall, JCC. Persembahan Garuda Indonesia ini menampilkan 4 desainer: Gregorius Vici, Jeanny Ang, Espen Salsberg, dan Anne Avantie.

Sebagai pembuka, Ladies First menampilkan kemegahan perempuan melalui busana karya Gregorius Vici, The Glitz. Menurut Gregorius, glitz atau kemewahan memiliki sudut pandang yang berbeda. Baginya, kemewahan memiliki kecantikan sempurna untuk perempuan yang mempunyai pribadi individual, romantis, berjiwa bebas, suka berburu busana maupun aksesoris di pasar antik. Semua itu akan menghadirkan kemewahan yang baru tanpa harus terlihat kuno atau berlebihan. “Jadi kemewahan menurut saya tergantung dari pribadi dan sudut pandang masing-masing individu dalam memandang suatu kemewahan,” tambahnya.

Untuk koleksi kali ini, ia menekankan kemewahan yang ready to wear. Unsur megah dihadirkan melalui desain bold, sederhana, tapi tetap elegan untuk perempuan usia 20-50 tahun. Warna yang mengesankan elegan yaitu hitam, abu-abu, dan merah. Ada detail bordir dan payet yang dikerjakan secara massal (pabrikan) sehingga gaun ini bisa dijual di pasar dengan harga terjangkau.

Sama halnya dengan Jeanny Ang. Busana yang disajikan di Ladies First ini diharapkan bisa diproduksi massal dengan harga terjangkau tanpa menghilangkan kemegahannya. Ia menampilkan gaun cocktail dan minidress bertema Tea Rose. Bunga Tea Rose merupkan jenis bunga mawar yang tumbuh sebagai semak, dengan bunga kecil-kecil dan semarak. Kesan ini yang ditampilkan Jeanny dalam rancangan busana berwarna pastel. Detail rose semarak yang disajikan dengan bordir tiga dimensi memberikan busana ini tampil semarak walau dalam satu warna dominan.

Dari warna pastel, fashion show membawa kita ke karya Espen Salsberg yang dominan hitam. Bahkan 90% warna yang ditampilkan hitam, Femme de la Nuit. “Selalu tentang perempuan. Bagi saya perempuan adalah sumber inspirasi. Siluet perempuan, sosok, dan caranya untuk menjadi funky adalah inspirasi saya,” kata Salsberg.

Inspirasi tersebut tampil sebagai gaun yang elegan dan sensual. Setiap tampilannya terlihat personal dan menjadikan perempuan menjadi percaya diri. Memang, semua serba hitam. Hitam dengan terjemahan yang tak terbatas. Seperti hitam dalam Legong Srimpi, Anne Avantie.

Kain Dekoratif jadi Bahan Kebaya

Hitam dalam terjemahan Anne Avantie adalah aksi panggung yang atraktif. Kerudung hitam yang ditampilkan oleh seorang model yang mengenakan kebaya menarikan gerakan tari Legong di ujung runway. Gerakan itu membuka fashion show bertema Legong Srimpi karya Anne Avantie.

“Perbedaan yang bisa disatukan untuk menghadirkan kebahagiaan Indonesia,” kata Anne tentang makna Legong Srimpi. Perbedaan budaya Bali dan Jawa yang dirangkum dalam sajian tema kebaya anggun khas Anne yang sudah 25 tahun berkarya dengan kebaya.

Bukan hanya soal desain, tapi cerita di balik desain itu yang tak kalah mengesankan. “Ada sentra perajin kain dekorasi di Bali. Kain itu biasanya hanya untuk dekorasi saja. Kalau hanya untuk itu, penggunaannya tidak banyak. Kalau saya bikin busana, karya mereka akan lebih banyak digunakan,” ujar Anne. Kain dekoratif yang tidak pernah dilirik orang selain hanya untuk hiasan dan ritual keagamaan digunakan untuk manfaat yang lebih luas yaitu busana. Harapannya, akan lebih meningkatkan omzet penjualan bagi perajin tradisional. Pertanyaannya, apakah nyaman dikenakan?

Di tangan Anne, kain dekoratif menjadi kain yang indah dan wearable, lekat di siluet tubuh para perempuan. Kain dekoratif bercorak emas dan kotak-kotak khas Bali ini melengkapi bahan kebaya dan sutra yang digunakan untuk kebaya. Kelenturan dan kenyamanan mengubah imej kain dekoratif yang kaku dan berjarak dengan tubuh. Bahkan kita bisa melihat, gerakan model yang lincah melakukan gerakan srisik, gerakan penutup di Tari Srimpi, tarian asal Jawa Tengah. Gerakan yang tak mudah dilakukan dengan high heels dan berkebaya. Tak heran jika penutupan itu mengundang standing applause penontonnya. Sampai jumpa di IFW 2015.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *