DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

Fashion Business

Belanja Busana dengan Saran Pengarah Gaya

By  | 
looklab-

Looklab.com Screenshot

Looklab menawarkan satu cara pemasaran baru di industri fesyen. Memadukan teknologi dengan campur tangan manusia secara langsung. Situs ini memberi ruang interaksi antara calon pembeli dan pengarah gaya. Looklab menjawab kelemahan pendekatan yang sepenuhnya mengandalkan kerja mesin pencari yang tak punya rasa dan selera dalam soal gaya busana.

“Saya mencari busana musim gugur  ¾  lengan atau lengan panjang yang bisa dikenakan saat mengajar dan pergi makan malam di luar,” kata Saralynne.

“Saya sudah mengambil beberapa pilihan harga yang cukup rasional untuk kamu periksa. Termasuk shift dress dan pinafore dress yang bisa kamu kenakan dengan baju lengan panjang maupun ¾. Sungguh manis!” balas Ainy Naim, pengarah gaya sekaligus desainer dari London.

“Coba salah satu gaun tersebut. Terutama motif cetak dari Madewell. Kamu akan tampak sempurna mengenakannya setiap hari. Bisa juga dengan menambah aksesoris saat dikenakan di malam hari,” jawab pengarah gaya lain dari Moskow, Alexandra Osina.

Kate Spade Saturday adalah salah satu label favoritku yang harganya moderat. Memiliki banyak gaun ramping dan profesional dengan harga yang masuk akal. Saat ini tokonya hanya ada di Jepang, tapi kamu bisa membelinya secara online,” saran Katherine Nicole John, pengarah gaya asal New York.

Itu adalah percakapan daring (online) antara seorang pembeli (Saralynne) dengan tiga orang pengarah gaya di Looklab. Looklab adalah situs komunitas yang mempertemukan calon pembeli pakaian dengan pengarah gaya. Melalui situs ini kita bisa mengemukakan pertanyaan dan meminta saran tentang busana yang kita inginkan sesuai anggaran yang kita punya. Para pengarah gaya akan memberikan beberapa pilihan busana sesuai yang kita inginkan.

Untuk itu, ada tiga tahap yang harus kita lalui. Pertama, kita harus membuka halaman Ask. Melalui halaman ini kita diminta mengemukakan penjelasan tentang busana yang kita inginkan lengkap dengan besar anggarannya. Jika kita mencari pakaian untuk dipadupadankan, misalnya dengan sepatu yang sudah kita miliki, kita bisa mengunggah gambar sepatu tersebut sebagai referensi bagi para pengarah gaya. Tak hanya itu. Kita pun bisa memasukkan brand pakaian yang kita inginkan. Termasuk tipe gaya yang diinginkan (kasual, busana malam, pakaian kerja dan seterusnya), serta bentuk tubuh kita (tinggi, pendek, ramping dan seterusnya).

Setelah mengisi formulir di halaman Ask dan mengirimkannya, kita tinggal menunggu tanggapan dari para pengarah gaya. Mereka akan memberikan penjelasan singkat tentang pakaian yang sesuai dengan yang kita inginkan, lengkap dengan gambar dan link ke toko daring (online) yang menjualnya. Jika cocok, tinggal menekan tombol “buy” dan melakukan transaksi di toko yang bersangkutan.

Looklab adalah cara pemasaran baru yang berkembang di industri fesyen. Kehadirannya menjadi jawaban atas kelemahan Boutiques milik Google yang sepenuhnya mengandalkan pada kerja mesin berbasis pencarian. Terobosan Looklab mampu menjawab kekurangan algoritma dan mesin pencari yang tidak memiliki pertimbangan selera dan rasa dalam soal gaya. Di Looklab, setiap pengguna dapat berkomunikasi one-on-one dengan para pengarah gaya untuk memperoleh saran gaya personal. “It’s like having your own free stylist, online,” kata Kapoor, pendiri Looklab, seperti dikutip BOF (Business of Fashion).

Konsep pemasaran yang ditempuh Looklab tampaknya cukup menjanjikan. Memadukan perkembangan teknologi dengan melibatkan campur tangan manusia secara langsung. Langkah ini tepat, karena saran soal gaya berbusana tak bisa diserahkan pada mesin pencari yang tak punya selera dan rasa personal.

Teks: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *