DKNY Fall 2017 Collection

Brands

Mario Minardi, Teknologi Italia untuk Sepatu Buatan Indonesia

By  | 

mario-minardi-5778
Cutting halus, jahitan rapi, bahan berkualitas, dan model elegan untuk sebuah sepatu memberikan imej bahwa sepatu Mario Minardi impor dari Itali, padahal buatan Indonesia.

Italia terkenal dengan sepatunya, paling tidak itu yang dikenal konsumen di Indonesia. Karenanya sampai ada syair lagu terkenal era 1980 karya Ari Wibowo: “parfummu dari Paris, sepatumu dari Itali, kau bilang demi gengsi, semua serba luar negeri”.

Kini, konsumen Indonesia sudah mulai cerdas dalam memilih barang. Buatan Indonesia pun sudah mendapat tempat untuk sebuah sepatu kelas atas, asalkan kualitasnya memang bagus. Sebagaimana pelanggan yang datang ke gerai Mario Minardi di Kota Kasablanka, mereka tidak menyangka jika sepatu ini buatan Indonesia. Keheranan dalam nada positif, artinya bahwa produk Indonesia pun bisa sebagus produk luar negeri dalam hal ini Italia.

Teknologi dan Keahlian Perajin

Untuk menghasilkan sepatu berkualitas bagus, butuh proses panjang. “Product license-nya dari Italia, register di Italia tapi manufaktur dan industri ada di Jakarta,” kata Faiq Suwoto, Deputy General Manager, PT Mario Minardi Indonesia. Tahun 1982, merek Mario Minardi terdaftar sebagai merek man shoes yang mengimpor teknologi dan standar kualitas dari Italia dan dikerjakan di Indonesia.

Untuk mendapatkan sepatu dengan kualitas bagus, dimulai dari pelatihan staf dari mulai dari tingkat dasar hingga ahli. Pelatihan ini tidak selesai hanya dalam setahun dua tahun, bisa belasan tahun. Dikatakan Rihan, TGW (Mario Minardi juga membuat sepatu untuk TGW), di luar negeri, untuk menjadi perajin sepatu yang bisa mengerjakan keseluruhan proses butuh waktu pelatihan antara 15-20 tahun.

“Bagian tersulit adalah cutting dan membentuknya,” kata Rihan. Bagian ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang sudah terlatih. Itulah kenapa, ada sepatu yang sekilas bentuknya sama tapi setelah dilihat dengan detail, potongannya tidak rapi. Atau sepatu dengan model yang bagus, tapi tidak enak dipakai. Keahlian masing-masing perajin sangat menentukan walau sudah memakai mesin. Fungsi mesin lebih kepada membantu menjadikan proses lebih cepat dan hasilnya lebih kuat. Misalnya saat pressing, bila manual hasilnya tidak akan sekuat mesin.

Selain keahlian perajin, bahan juga menentukan. Hingga kini, Mario Minardi masih mengimpor bahan kulit dari Italia dan Amerika. “Memang di sini banyak industri kulit, penyamakan juga banyak. Hanya untuk mendapatkan kualitas yang sama dalam jumlah banyak itu yang susah,” tambah Faiq.

Satu desain yang dibuat Mario Minardi, terkandang diproduksi ratusan pasang dengan ragam ukuran dan warna. Tapi terkadang juga hanya sedikit. “Tergantung feeling dan market research,” terang Rihan. Walau feeling terkadang juga tidak pas. Misalnya saat Mario Minardi membuat sepatu model double monk streap shoes dua tahun silam. Sepatu klasik formal yang sudah lama, tapi masih jarang dipakai di Indonesia pada tahun itu. Desain ini ingin merombak tren desain pada masa itu, karenanya sifatnya masih coba-coba. Dibuatlah hanya 1 warna saja. Tapi ternyata menjadi tren dan laris. Kini sudah banyak sepatu serupa yang diproduksi.

(Koleksi Mario Minardi bisa dilihat di www.mariominardi.com / Mal Kota Kasablanka Lt. 1 # 111, Jakarta Selatan)

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *