DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

From The Pit

Menengok Sejarah Fashion Week di Dunia

By  | 
fs-4716

Ilustrasi: Karya Oscar Lawalata di Jakarta Fashion Week 2014

Kurang lebih sejak enam tahun silam istilah fashion week mulai akrab di telinga masyarakat perkotaan Indonesia, khususnya Jakarta. Seiring dengan hadirnya beberapa pagelaran fesyen dengan label fashion week. Apa sebenarnya fashion week itu, mari kita telisik sedikit tentangnya sehingga menjadi lebih jelas.

Perjalanan Fashion Week

Cikal bakal fashion week dapat kita telusuri dari tahun 1858, saat Charles Fredrick Worth untuk pertama kalinya mengembangkan konsep menggelar busana rancangannya ke hadapan klien (kaum aristokrat Perancis). Bisa dibilang momen inilah yang menandai cikal balak dimulainya peragaan busana yang sekarang mewujud dalam rupa fashion week.

Gagasan Worth berkembang. Dia ikut membantu mendirikan Chambre Syndicale, sebuah asosiasi perdagangan (kamar dagang) dengan misi mengembangkan industri fesyen Perancis (Dylan Essertier, A Brief Story of Fashion Week). Salah satu fungsi pentingnya adalah mengatur legalitas “haute couture”—yang artinya hanya dapat digunakan oleh anggota Chambre Syndicale. Asosiasi ini pun menentukan jumlah minimum koleksi para perancang busana yang menjadi anggotanya.

Awalnya peragaan busana digelar secara rahasia (tertutup). Hanya ditujukan bagi sales dan para buyer. Pelaksanaannya pun benar-benar diawasi untuk menghindari terjadinya pembajakan. Masyarakat umum tidak memiliki akses untuk hadir.

“Sekalipun datang dengan surat rekomendasi, atau memiliki koneksi, atau kaya, tetap sukar sebelum memperoleh cukup kepercayaan,” papar Caroline Evans, penulis buku The Mechanical Smile: Modernism and the First Fashion Shows in France and America, 1900-1929 (DuJour, The Secret History of Fashion Week).

Tradisi penyelenggaraan peragaan busana seperti itu terus digelar secara rutin di Perancis hingga pada abad ke-20 Paris mendapatkan reputasi sebagai kota fesyen dunia.

Perjalanan sejarah fesyen di Perancis mengalami perubahan tatkala berkecamuk perang Dunia II. Tahun 1943 Perancis berhasil dikuasai Nazi. Keadaan itu tak memungkinkan para jurnalis fesyen mendatangi Paris.

Adalah Eleanor Lambert, seorang praktisi humas fesyen Amerika yang jeli memanfaatkan kondisi itu untuk menarik perhatian dunia ke industri fesyen Amerika. Dengan cekatan Lambert mengundang para jurnalis fesyen ke New York, mengatur peragaan busana, dan mengiklankan bahwa “Press Week”—istilah yang kemudian berubah menjadi fashion week—digelar di New York.

Upaya Lambert tak tanggung-tanggung. Seperti dicatat majalah Time, Lambert bahkan menawarkan biaya perjalanan bagi para jurnalis fesyen yang bertandang ke New York untuk meliput Press Week. Dalam perhelatan itu ada 53 desainer yang menggelar peragaan busana di Hotel Plaza.

Usaha serius Limbert tak sia-sia. Dia berhasil mengangkat citra fesyen Amerika yang sebelumnya dipandang sebelah mata. Berkat upayanya itu pula karya para desainer Amerika bisa tampil di majalah fesyen bergengsi, Vogue.

Tahun 1944 Ruth Finely meluncurkan kalender fesyen untuk pertama kalinya. Dia bertugas menyusun penyelenggaraan peragaan busana selama seminggu. Selama tiga dekade pagelaran busana selama seminggu itu terus diselenggarakan sebanyak dua kali dalam setahun (Februari dan September). Peristiwa itulah yang sekarang dikenal dengan nama New York Fashion Week.

Kesuksesan Lambert mengangkat industri fesyen Amerika menginspirasi seorang aristokrat Italia, Giovanni Battista Giorgini untuk melakukan langkah serupa pada tahun 1952 di Palazzo Pitti, Florence. Dia pun meraup sukses dalam mengangkat industri fesyen Italia sehingga tahun 1975 harus memindahkan penyelenggaraannya ke Milan guna mengakomodasi antusiasme orang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Pada tahun itu pulalah  untuk pertama kalinya diluncurkan kalender “Settimana Della Moda” (Fashion Week).

Penyelenggaraan fashion week mewabah di Eropa. Tahun 1961, British Fashion Council menggelar London Fashion Week untuk pertama kalinya. Dua tahun kemudian (1963) lahir Madrid Fashion Week dan Copenhagen Fashion Week. Di Asia, Jepang adalah negara pertama yang menyelenggarakan fashion week dengan nama Japan Fashion Week pada tahun 1985. Sampai tahun 2007 tercatat lebih dari 40 fashion week digelar di dunia, diantaranya Hongkong, Barcelona, Stockholm, Maroko, Mumbay, Los Angeles, dan Berlin.

Berdasarkan Musim

Fashion week yang digelar di empat kota fesyen dunia (Paris, New York, Milan, dan London) dilaksanakan dua kali dalam setahun mengikuti pergantian musim (autumn/winter dan spring/summer). Fashion week yang menggelar koleksi busana perempuan autumn/winter dimulai di New York pada bulan Februari dan berakhir di Paris pada bulan Maret. Begitupun koleksi busana perempuan spring/summer dimulai di New York pada bulan September, dan berakhir di Paris pada bulan Oktober.

Fashion week yang khusus menampilkan koleksi busana laki-laki autumn/winter dimulai di Milan pada bulan Januari, kemudian di Paris. Sedangkan koleksi busana laki-laki spring/summer diselenggarakan pada bulan Juni. Khusus di Paris, setelah penyelenggaraan fashion week koleksi busana laki-laki spring/summer diselenggarakan juga fashion week koleksi haute couture.

Selain koleksi busana musiman, ada pula koleksi busana antarmusim. Resort/cruise adalah koleksi busana yang ditampilkan menjelang spring/summer, dan pre-fall adalah koleksi busana yang digelar sebelum autumn/winter. Pagelaran busana koleksi antarmusim tidak ada jadwal tetap sebagaimana penyelenggaraan fashion week pagelaran busana musim utama (autumn/winter dan spring/summer).

Di samping fashion week yang menampilkan koleksi busana berdasarkan pembagian musim, ada pula yang didasarkan pada jenis pakaian.

Miami Fashin Week dan Rio Summer misalnya, adalah pagelaran busana yang khusus menampilan baju renang. Pret-a-Porter Fashion Week, khusus menampilkan koleksi busana siap pakai (ready to wear). Ada pula Couture Fashion Week dan Bridal Fashion Week, serta Portland Fashion Week yang khusus menampilan koleksi busana ramah lingkungan.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

1 Comment

  1. Emilia

    10/11/2014 at 4:11 PM

    Mohon koreksinya bila salah.
    Charles Fredrick Worth juga sewa wanita-wanita cantik untuk jalan-jalan dengan bajunya. Jadi kasarnya kalau ditanya:
    “Bajunya bikin di mana, cyiinn..”
    “Bikin di Charles Fredrick Worth dong..”
    ealah pinter. Great post!

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *