DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Issue

Mengenakan Produk Lokal itu Keren!

By  | 

sdk-7905

Local Movement merupakan salah satu cara merealisasikan Indonesia menjadi pusat mode dunia tahun 2025. Karena Indonesia kaya dengan budaya lokal yang selayaknya dibanggakan.

Bila Paris identik dengan adibusana, Korea rekat dengan fesyen untuk anak muda, Cina punya produk massal yang modis dengan harga murah, dan London punya street wear yang diakui dunia, lalu Indonesia apa? Untuk bisa menjadi pusat mode dunia di tahun 2025, sebagaimana pemerintah canangkan, Indonesia harus punya sesuatu yang yang ditawarkan. Produk lokal yang menjadi kelebihan Indonesia tapi negara lain tidak punya.

Ready to wear yang punya konsep craft fashion,” kata Dina Midiani, direktur Indonesi Fashion Week (IFW) menyebutkan konsep fesyen yang bisa diunggulkan.  Produksinya harus massal, ready to wear, tapi ada sentuhan tangan yang menjadi kelebihan dari Indonesia. Bukan berarti meniadakan produk yang dihasilkan oleh mesin. Justru dengan mesin akan memasalkan produk sehingga bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dengan harga terjangkau. Tapi sentuhan tangan tetap menjadi poin penting yang diunggulkan.

Penerjemahan konsep ini bisa beragam. Selama ini, para desainer Indonesia sudah banyak menggali potensi produk lokal ini untuk menghasilkan desain kreatif. Mulai dari batik, tenun, dan kerajinan tangan lainnya. Hanya saja tidak berkelanjutan. Satu desainer bekerja sama dengan beberapa perajin menghasilkan busana dan aksesorisnya. Tapi tidak banyak. Setelah desainer berganti desain, ia akan berhenti dan perajin itu tak punya pasar lagi. Karenanya, IFW punya konsep menjadikan pemanfaatan produk lokal ini menjadi gerakan berkelanjkutan yang dinamakan Local Movement.

“Kita mengangkat lokal melalui tren. Sehingga yang menggunakan industrinya. Banyak yang akan pakai, sehingga banyak produk yang terserap. Sehingga kekuatan lokal bisa menikmati,” ujar Dina.

Salah satu gerakan yang menjadi pilot project adalah penggunaan sarung. Jenis kain ini diproduksi oleh perajin di banyak daerah di Indonesia. Masing-masing daerah punya ciri khas yang dihasilkan oleh desain dan sentuhan tangan para perajinnya. Bila selama ini sarung hanya dijual sebagai kain, maka pembeli hanya membeli satu saja. Lain halnya bila penggunaan sarung lebih kreatif lagi. Digunakan sebagai busana yang dikreasikan sesuai tren, khususnya anak muda. Maka diharapkan permintaan sarung meningkat, perajinnya pun akan lebih giat membuat, sehingga industri fesyen bisa berkembang.

Local Movement merupakan kerjasama IFW dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), satu dari 4 kementrian yang mendukung IFW. Kegiatan Local Movement berkelanjutan, mulai dari seminar, workshop, flash mob, hingga nanti rencananya ada buku tentang sarung. Tujuannya tak lain untuk mengenalkan produk lokal dan menunjukkan bagaimana produk ini bisa dikenakan sebagai busana ready to wear. Tidak harus acara adat atau kondangan untuk mengenakan sarung, batik, atau kain tenun. Tapi dikreasikan hingga menjadi busana keseharian.

Kegiatan ini terbuka untuk siapa saja. Bila ingin bergabung, Local Movement berikutnya dinamai Jakarta (Sunday) Dress Up yang akan dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2014. Rencananya akan berjalan dari Gedung Sapta Pesona-Bundaran HI-Deutche Bank dari pukul 06.00-10.00 WIB. Sila datang dengan outfit kreatif dari kain tradisional, khususnya sarung. Untuk informasi dan pendaftaran personal maupun kelompok ke arcky.karfiansyah@indonesiafashionweek.com,  HP. 081290483238.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

3 Comments

  1. sancaya rini

    17/02/2014 at 6:01 AM

    kereeeeee…!!!

  2. sancaya rini

    17/02/2014 at 6:03 AM

    kereeeennnn..:):):).. selamat pagi mbak titik dan mas sadikin…

    • Sadikin Gani

      17/02/2014 at 9:07 AM

      Pagi bu… terimakasih. Terus maju untuk Kanawida membangun brand lokal ramah lingkungan.

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *