DKNY Spring 2017 Collection

From The Pit

Menyaksikan Fashion Show di Jakarta Fashion Week

By  | 

jfw2017

Sampai saat ini Jakarta Fashion Week mungkin masih menjadi ajang mode paling ditunggu-tunggu oleh mereka yang memiliki kedekatan finansial dan emosional dengan dunia fashion. Ibarat melting pot, selama bertahun-tahun Jakarta Fashion Week menjadi tempat bertemunya berbagai elemen di dunia fashion, mulai dari desainer mode, fashion event organizer, calon pembeli potensial, para model, wartawan hingga mereka yang mereka menganggap mode sebagai kenikmatan gaya hidup.

Fashion show adalah suguhan utama yang paling mencuri perhatian di Jakarta Fashion Week. Namun, kali ini saya tidak akan membahas itu, karena saya yakin ada ratusan bahkan mungkin ribuan tulisan di media massa yang mengulas itu. Saya justru lebih penasaran pada mereka yang “duduk manis” sebagai tamu di setiap peragaan busana di Jakarta Fashion Week.

Tingkah polah para tamu yang memadati bangku-bangku panjang berundak di dalam tenda Jakarta Fashion Week telah mengalihkan perhatian saya dari rangkaian parade busana beraneka bentuk, nuansa, dan warna yang diperagakan para model. Dengan dandanan “khas OOTD” alias outfit of the day yang tidak kalah semaraknya, saya sempat hampir percaya bahwa mereka yang datang ke peragaan busana akan khusuk mencermati setiap pakaian yang diperagakan, tapi nyatanya masih jauh dari benar.

Sebelum peragaan, secara bergelombang para tamu dan pewarta memasuki tenda Jakarta Fashion Week. Kesibukan berikutnya adalah memilih tempat duduk paling nyaman atau sesuai dengan tanda di undangan. Setelahnya, saat lampu dipadamkan, musik mengalun keras dan satu persatu model melintasi panggung peragaan busana.

Sebagian dari tamu yang hadir memang tampak serius memerhatikan setiap busana yang ditampilkan. Terlepas dari seberapa besar kemampuan mereka memahami fashion, setidaknya bisa menghargai apa yang disuguhkan di depan mata. Karena itu, sangat disayangkan, saat ada sebagian tetamu lain yang justru lebih konsentrasi menatap layar telepon genggam setelah puas mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengarahkan fitur kamera ke panggung peragaan busana. Mereka asyik mengunggah hasil bidikan dadakannya ke berbagai akun media sosial, mulai dari instagram, path sampai snapchat.

Di jaman serbadigital seperti sekarang, perilaku semacam itu adalah hal biasa, tetapi menjadi masalah bila itu dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Dan menjadi semakin mengganggu saat mereka mengambil gambar dengan telepon genggam menggunakan lampu kilat.

Jika kita meluaskan pengamatan, pemandangan lain yang juga kerap muncul di sepanjang peragaan busana di Jakarta Fashion Week adalah aktivitas mengobrol yang tidak jarang diselingi tawa.

Saya lantas bertanya-tanya, apa kira-kira yang ada di benak mereka saat duduk di barisan depan sebuah peragaan busana. Dan semakin bertambah pertanyaan saya saat melihat beberapa tamu yang mengenakan kacamata hitam. Bukankah ketika mengenakan kacamata hitam, warna-warni busana yang ditampilkan akan terlihat samar? Maksudnya, ya warna asli busana tidak akan terlihat jelas. Lantas kenapa betah sekali mengenakan kacamata hitam saat menyaksikan peragaan busana? Apakah karena itu adalah gaya andalan di hari itu? Bagian dari outfit of the day? Atau mata mereka memang sensitif terhadap cahaya seperti halnya Anna Wintour? Entahlah.

Rasa heran dan kegelian saya semakin menjadi setiap kali (dan selalu saja ada) orang yang melintas ke depan area pit fotografer sebelum acara peragaan busana benar-benar selesai yang disusul tereakan dan sorakan heboh dari para juru foto.

Teks: Armadina Az / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *