DKNY Fall 2017 Collection

From The Pit

Mereka yang Duduk di Kursi Barisan Depan Fashion Show

By  | 

front-row-2028

Fashion show berbeda dengan pertunjukan musik, film maupun drama. Tak ada ticket box yang menjual karcis untuk itu. Mereka yang hadir berdasarkan undangan. Tidak dipungut bayaran.

Tempat duduk yang disediakan tidak diberi nomor seperti kursi biskop. Biasanya diberi label kode tertentu secara hierarkis, seperti gold, silver, dan white. Tak hanya itu, beberapa kursi di barisan depan dilengkapi juga dengan nama pemegang undangan. Hanya pemilik nama yang bersangkutan yang bisa duduk di kursi itu. Crew yang bertugas di dalam area fashion show akan mengarahkan setiap undangan agar duduk sesuai dengan label undangannya.

Mengapa tidak ada tiket yang diperjualbelikan untuk fashion show? Mengapa tempat duduknya diatur secara hierarkis? Atas dasar apa aturan itu dibuat jika bukan atas dasar harga tiket?

Fashion show berbeda dengan pertunjukan musik. Dalam pertunjukan musik, penonton yang datang adalah para penikmat musik yang sebelumnya sudah tahu dan penggemar musik yang akan dipertunjukkan. Sebuah pertunjukan musik tidak mungkin digelar sebelum konsumen musik mengetahui musiknya. Beyonce misalnya, tidak mungkin menggelar pertunjukkan sebelum album musiknya dilempar ke pasaran.

Dalam fashion show terjadi sebaliknya. Seorang desainer tidak mungkin menggelar fashion show untuk koleksi busana yang sudah dipasarkan/diketahui publik. Fashion show adalah momen pertama seorang desainer mengenalkan karyanya ke hadapan publik. Transaksi jual-beli atas karya tersebut baru akan terjadi seusai fashion show.

Itu sebabnya kesempatan seseorang untuk menyaksikan fashion show tidak didasarkan pada seberapa mampu dia membeli tiket pertunjukan seperti dalam pertunjukkan musik. Melainkan atas dasar seberapa besar kapasitas seseorang mempengaruhi publik untuk meminati busana yang dipertunjukkan dan seberapa besar kemampuan seseorang untuk membeli busana-busana tersebut.

Mereka yang dianggap dapat mempengaruhi publik adalah kalangan media fashion (fashion editor dan fashion journalist), serta kaum selebritas yang memiliki banyak penggemar/pengikut. Belakangan, yang juga dianggap mampu mempengaruhi publik adalah fashion blogger. Sedangkan pihak yang diharapkan menjadi pembeli adalah para buyer dan para klien desainer yang menggelar fashion show.

Dalam sebuah fashion show yang sebenarnya—sebagai event bisnis fashion—dua kelompok undangan itulah yang diperlakukan sebagai tamu istimewa. Mereka akan ditempatkan di kursi barisan depan agar bisa melihat dengan jelas dan memberikan penilaian pada setiap busana yang diperagakan.

Di negara-negara yang industri fashion-nya sudah berkembang pesat, keberadaan mereka berperan penting dalam menentukan baik buruknya masa depan bisnis seorang desainer dan brand fashion tertentu. Dari tangan merekalah opini dan penilaian publik atas karya seorang desainer akan terbangun.

Apakah setiap fashion show selalu seperti itu? Tidak selalu. Di Indonesia misalnya, belum sepenuhnya menjadi ajang bisnis. Keluarga, kerabat, dan kenalan baik seorang desainer yang menggelar fashion show masih bisa menduduki kursi barisan depan. Tidak bisa disalahkan, meski dari kacamata bisnis, mereka tidak relevan berada di situ. Tapi ke depan hal seperti itu akan berubah sejalan dengan semakin matangnya perkembangan industri fashion Indonesia. Sehingga fashion show benar-benar menjadi event bisnis dan pemasaran karya para desainer.

Teks dan Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *