DKNY Spring 2017 Collection

Stories

Metamorfosis Sulam

By  | 

sulam-DSC_0238

Mendengar kata kerajinan sulam, ingatan kita pada motif feminin yang melekat di busana perempuan. Samuel Wattimena dan Didi Budiarjo mengubah anggapan itu.

Sejumlah 9 desain busana ready to wear tampil dalamfashion show yang digelar dalam acara Temu Perajin dan Pengusaha Sulam Indonesia,  1 November 2013 di Grand Inna Muara, Padang, Sumatera Barat. Selain itu, 3 busana couture rancangan Didi Budiarjo dipamerkan di acara yang diselenggarakan Yayasan Sulam Indonesia (YSI) dan Perusahan Gas Negara (PGN).

Busana yang ditampilkan bukan hanya kemeja (baju koko) sebagaimana yang umum disulam, namun jugatshirt bahkan jubah bermotif. Tidak hanya itu, walaupun menampilkan baju koko, tata letak dari sulamannya berbeda. Bila dilihat lebih detail, teknik sulamnya masih sama seperti tradisi turun temurun dari 3 sentra sulam: Bali, Jember, dan Sumatera Barat. Semua itu, dikenakan oleh laki-laki remaja. Sebuah terobosan desain yang menarik untuk dicermati.

“Konsepnya adalah mengangkat karya tradisi untuk generasi muda,” kata Samuel Wattimena, desainer busana. Menurutnya, tradisi kerajinan nusantara yang sudah berusia ratusan tahun ini bakal punah jika tidak ada penerusnya. Bukan hanya penerus penyulam, tapi juga yang mengenakan. Generasi muda adalah target dari upaya meneruskan keberadaan sulam.  Kalau generasi muda  tidak disentuh makan pasar mati.Hanya saja, bila para remaja disuguhi hal yang sama sebagaimana leluhurnya memakai, maka akan bosan dan merasa ketinggalan jaman. Karakter orang muda ingin menjadi yang pertama. Termasuk untuk berbusana. Karenanya diperlukan terobosan dalam hal desain.

Kemeja putih yang dikenalan salah satu model dihiasi sulam open work yang sudah dikerjakan perajin sulam di Sumbar sejak dulu. Hanya saja dengan komposisi di lengan kanan dan kiri dengan pola yang berbeda beda, baru diterapkan oleh Samuel.

Begitupun motif kupu-kupu termasuk motif klasik dari Jember. Hanya saja, saat motif tersebut diletakkan di atas kaos yang dipadu dengan bahan lurik, menjadi tampil beda. Bahkan tidak menjadi feminin saat dikenakan oleh laki-laki. Padupadan warna dan corak yang dipilih mengubah imej bahwa sulam kupu-kupu hanya menempel di busana perempuan.

Selain itu, kita bisa melihat motif sulam Bali yang menempel di kain bercorak untuk jubah. Paduan warna ungu dan permukaan berkilauan tetap menampilkan kesan maskulin. Jadi, permasalahan bukan di sulam melainkan keahlian untuk berkreasi dan memadupadankan.

Couture Karya Didi Budiarjo

“Jangan bicara berapa harga gaun itu. Tapi mari kita lihat, bagaimana penyulam tradisional ini berubah, bermetamorfosis,” kata Trisna Jero Wacik, Ketua YSI yang menjelaskan soal rancangan Didi. Kebetulan, saat acara, desainer tersebut tidak bisa hadir. Yang hadir adalah 3 rancangannya berupa 2 busana perempuan dan satu busana laki-laki. Warna yang dipilih adalah warna krem hingga coklat tua.

Yang menarik, teknik sulam motif suji cair menutupi seluruh permukaan busana. Motif ini merupakan motif yang sudah dikuasai dengan baik oleh perajin sulam di Kabuten Agam (Sumbar). Biasanya menempel di sprei, sarung bantal, dan taplak. Saat Didi menggunakan untuk busana, warna dan desain dikomposisi ulang hingga membentuk busana yang elegan.

Pelatihan yang dilakukan oleh YSI dan PGN bukan mengajari teknik yang sudah dikuasai oleh perajin secara turun temurun. Apalagi mengubah motif yang menjadi ciri khas dari masing-masing daerah. Pelatih tersebut mengubah cara berpikir dan kemampuan mengubah tata letak dari motif yang sudah ada menjadi lebih inovatif. Dengan bantuan desainer busana, maka taste dari pemilihan warna dan bahan pun menjadi lebih bisa diterima di kalangan atas. Sulaman bisa masuk ke dalam fesyen diperagakan runway yang akhirnya membuka peluang pasar dan penghargaan lebih layak bagi para penyulam.

Teks dan Foto: Titik K.

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *