DKNY Ready-To-Wear Fall 19 Collection

Fashion Report

Napas Kebaya dalam Butterfly

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Lihat Koleksi →

Lima belas ribu butir swarovski bertaburan di gaun dengan potongan ringkas itu menutup pagelaran busana malam itu. Gaun dengan potongan paling ringkas itu menjadi penutup yang mewah.

“Untuk mencuri perhatian saya tampilkan yang master piece,” kata Marga Alam, desainer busana, yang menampilkan fashion show tunggal pertamanya pada tanggal 11 Juni 2014, di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta. Busana adiwarna dalam fashion show bertema Butterfly ini merupakan inovasi yang khas dengan nafas kebaya yang kental dari garis-garisnya. Marga Alam berharap, inovasi ini akan memancing minat perempuan modern untuk menyukai dan melestarikam busana bernafaskan kebaya yang bisa tampil di dunia internasional.

Marga Alam dikenal sebagai desainer kebaya. Ide mentransformasikan kebaya modern yang dipadu dengan ballgown menjadikan busana pengantin dan memadukan unsur Timur dan Barat menjadikan Marga Alam dinobatkan sebagai The Best Designer 1995, Lomba Desain Busana Pengantin Modern Tingkat ASEAN. “Ia memperhatikan secara pribadi kliennya. Sampai bustier, kalau orang jaman dulu namanya long torso. Kalau orang lain dari depan ke belakang. Kalau Marga Alam dari kaki ke atas. Ini sangat unik,” kata Mien R. Uno, salah satu klien. Modifikasi ini menjadikan saat duduk tidak sesak napas, bustier tidak naik ke atas, dan tetap pada posisinya sehingga nyaman dipakai.

Tapi kali ini, Marga Alam tak hanya menampilkan kebaya. Bahkan kebaya hanya 5 outfit saja, ditampilkan di akhir fashion show. “Saya lebih dikenal orang sebagai desainer kebaya. Padahal saya mendesain semuanya. Seorang seniman itu tidak terbatas. Apalagi seorang fashion designer,” tambahnya. Bukan hanya kebaya saja. Sejak tahun 1991, saat memulai karirnya sebagai desainer busana, Marga Alam mendesain semua jenis busana, mulai dari casual, cocktail dress, evening dress, dan masterpiece. Ragam busana itulah yang mewarnai tema Butterfly malam itu.

Tema Butterfly dipilih bukan kebetulan. Ia selalu berdoa untuk mendapatkan inspirasi berkarya. “Pada suatu saat mendapat jawaban, kok (ada) butterfly nempel di tangan saya. Saya pegang, saya cium-cium, saya selfie foto-foto, kok nempel di tangan saya. Saya taruh di mobil. Saya tinggal masih ada. Ini jawaban (untuk) saya,” terang Marga Alam. Kehadiran kupu-kupu itu menginspirasinya untuk menampilkan karyanya. Ia menggali setiap bentuk, ragam, pesona, warna, dan bentuk sebagai inspirasinya. Hingga menghasilkan 22 cocktail dress, 33 helai gaun malam, 5 kebaya panjang, 5 setelan jas laki-laki, dan 10 busana premium.

Motif kupu-kupu dicetak dengan digital printing di cocktail dress berbahan sutera. Busana tersebut didesain dengan siluet gaun mini, gaun panjang hingga tent dress. Kesan genit, muda, ringan, dan easy ingin ditampilkan dalam desain busana ini. Kemudian dilanjutkan dengan gaun malam berbahan sutera, lace, dan sifon, hingga bahan transparan. Gaun ini provokatif tapi elegan.

Apalagi diiringin dengan busana jas untuk laki-laki. Semuanya mengenakan bow tie dan rompi. Busana ini mengiringi 5 kebaya dalam balutan warna krem, offwhite, abu-abu, pink muda, dan gading. Garis yang dibentuk oleh desain kebaya ini memang memukau. Menurut Marga Alam, setiap garis dan ukuran untuk mendesain kebaya sangat personal. Karena setiap perempuan punya detail garis dan ukuran yang berbeda. Karenanya, semua busana yang dipamerkan ini hand made.

Karya hand made ini ditampilkan hingga bagian akhir show. Menampilkan busana premium yang memiliki keragaman siluet seperti gaun balon, rok duyung, hingga sleekdress dengan punggung terbuka. Masing-masing memiliki tingkat kerumitan teknik menjahit khusus. Marga melakukan inovasi teknik ini.

Detail karya inilah salah satu hal yang menjadikan Marga Alam baru menggelar show tunggal perdana, walau sudah puluhan tahun berkarya. “Membuat show tunggal tidak mudah. Ini fashion show harus dipikirkan matang-matang. Harus memberikan informasi (kepada tamu yang datang), jadi ada isinya show itu. Bahwa saya membuat kenapa tahun ini. Karena prosesnya tidak mudah,” ujarnya.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

 

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *