DKNY Fall 2017 Collection

Jakarta Kongkow Fashion

Ngobrol Street Style dan Peluncuran The EDIT Post

By  | 

Photo by Ria Penta

Siapa yang melahirkan tren busana? Perusahan busana? Media? Atau, masyarakat sendiri? Pertanyaan ini menjadi penting bagi masyarakat mode. Alasannya macam-macam. Bagi pemakai, mereka tak mau ketinggalan jaman. Bagi pengusaha, bila bisa mengintip tren ke depan, tentu akan bisa merencanakan produksi yang akan terserap pasar. Kembali pada pertanyaan, tren itu lahir dari mana?

Di era internet, informasi bisa datang dari segala arah. Bukan hanya dari media mainstream, tetapi juga dari masyarakat sendiri (citizen journalism). Blogger punya peran penting dalam melahirkan opini soal tren fashion. Juga, masyarakat di jalan yang style-nya difoto oleh street style photographer bisa menjadi referensi tren. Di jalan, kita bisa melihat kenyataan, termasuk bagaimana busana dikenakan. Fenomena inilah yang dibahas di “Jakarta Kongkow Fashion”, 26 Februari 2015 di mini stage, Indonesia Fashion Week. Bincang-bincang santai yang rencananya akan menjadi agenda bulanan dari The Actual Style. Kali ini, hadir sebagai pembicara, Eric Putra Saujana (Founder OOTD Indonesia), Kay Mori (street style photographer), Ajeng Dewi Swastiari (stylist), Lulut Marganingtyas (fashion blogger), Savira Lavinia (Juara I IFDC IFW 2014), dan Sadikin Gani (founder dan Editor in Chief The Actual Style).

“Setiap orang punya gayanya sendiri. Cara duduk, cara pemakaian busana, semua itu ada story-nya yang bisa menjadi inspirasi fotografi (street style),” kata Eric. Ketika memotret street style, ia tidak harus menyuruh seseorang untuk melakukan pose tertentu. Karena itulah style seseorang. Personal, yang memberikan cerita dari sebuah foto. Dari sanalah lahir style dari masing-masing orang yang kemudian dibagikan ke masyarakat oleh para street style photographer melalui karyanya.

Masyarakat pun mulai menerima karya mereka sebagai salah satu referensi cara berbusana. Opini blogger dipandang sebagai referensi untuk melihat tren. Lulut melihat street style sebagai cara orang berbusana di jalanan. “Street style identik dengan sandal jepit dan celana robek-robek kalau di Indonesia. Tapi kalau di luar (merujuk ke negeri empat musim), identik dengan sunglasses dan cape,” kata Ajeng. Sementara Kay Mori mengatakan bahwa street style selalu mengingatkannya pada Anna Dello Ruso (Editor at Large and Creative Consultant for Vogue Japan). Anna menunjukkan cara berbusana androgini dan tak kenal batas usia. Ia tampil menjadi dirinya sendiri. “Street style itu keberanian untuk mengeskpresikan dan percaya diri,” tambah Eric.

Street style adalah “saya”,” kata Sadikin. “Saya” dalam makna bahwa busana yang dikenakan seseorang merupakan ekspresi personal. Penampilan seseorang tampak nyaman bila mengenakan busana sesuai dengan karakter masing-masing. Hal tersebut yang menjadikan Sadikin—yang juga menekuni street style photography—untuk memotret seseorang. Baginya, penampilan seseorang yang dapat menggerakkan kameranya untuk memotret tak harus mengenakan busana bermerek internasional dan mahal. Berbusana sesuai dengan dirinya. Menurut Sadikin, street style bisa menjadi referensi pengusaha fashion untuk melihat bagaimana produk mereka dikenakan di masyarakat.

Melihat fenomena fashion yang tak hanya lahir dari runway dan media fashion yang belum banyak mengangkat hal-hal di balik selembar busana, merupakan konsen pemberitaan The Actual Style. Selain itu, juga menjadi penghubung antara label dan masyarakat pengguna.

Untuk lebih mengenalkan label ke masyarakat, pada Jakarta Kongkow Fashion kali ini, The Actual Style meluncurkan tabloid baru dalam bentuk cetak, The Edit Post. Sedikit berbeda dengan The Actual Style, The Edit Post lebih banyak memberitakan label dan bagaimana produk mereka dikenakan. Tabloid bulanan ini menjadi wadah bagi semua label busana untuk memasarkan dirinya dengan sudut pandang penulisan yang belum banyak disajikan di media yang ada. Harapannya, masyarakat mode akan lebih banyak mendapatkan informasi dari berbagai sudut pandang. Karena informasi menjadi hak siapa saja untuk menyampaikan dan juga menyerapnya.

Teks: Titik K. / Foto: Ria Penta

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *