DKNY Fall 2017 Collection

Brands

Nyanyian Alam Tropis di Desain Sepatu

By  | 

Photo by Sadikin Gani

Sejumlah 15 pasang sepatu dikenakan 3 model siang itu, di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, 21 Mei 2014. Karya desainer sepatu Marista Santividya itu melenggang di runway yang didekorasi tanaman tropis, baik di pot maupun green wall. Dekorasi ini untuk menguatkan tema Le Tropique yang dipilih pada peragaan tunggal perdana desainer kelahiran 1 Mei 1985.

“Inspirasinya dari alam tropis. Saat saya denger lagu Rayuan Pulau Kelapa itu kesannya anggun, cantik, dan seperti Indonesia,” kata Marista. Lagu gubahan Ismail Marzuki itu mengajak imajinasi Marista untuk menghadirkan scene pantai di sepatu Koleksi Spring Summer 2014 untuk lini utama dengan label Marista Santividya. Ada garis ombak, bentuk daun pisang, dan bunga anggrek. Memilih palet warna natural yaitu coklat, hitam, ungu, hijau zaitun, dan hijau daun. Sedangkan gaya sepatunya tampak seperti era tahun 1970-an.

Total koleksi untuk musim ini sebanyak 25 pasang sepatu perempuan. Terdiri dari wedges (sepatu bersol pasak), heels, dan flatshoes. Sepatu wedges cocok untuk perempuan urban yang aktif dan ingin tampil feminin. Ombak sebagai inspirasi desain diaplikasikan dalam bentuk garis yang meliuk di hak sepatu. Insole dibuat dari kulit domba. Di bagian atas sepatu diberi detail menyerupai daun pisang.

Untuk heels, Marista mendesain medium heels dengan ketinggian 7-12cm. “Kenyamanan sepatu hi-heels ini pada tulang sepatunya,” ujar Marista yang pernah belajar sepatu di Ars Sutoria, Milan, Italia. Tulang sepatu yang didesain benar akan menjadikan berat tubuh tertumpu rata walau mengenakan hi-heels. Bukan tertumpu pada ujung kaki yang menyebabkan cepat lelah hingga kerusakan tulang. “Tulang di ujung kaki itu kecil-kecil dan lemah. Kalau menumpu beban berat, akan rusak,” tambahnya. Di jenis ini, Marista membuat sepatu hi-heels bersol gemuk/chunky dengan aksen kulit ulat di hak sepatu. Sedangkan sepatu yang berhak runcing (stilleto) menggunakan bahan satin untuk memberi kesan elegan pada pemakainya.

Selanjutnya jenis flat shoes, sepatu bertumit rata untuk memberi kesan santai bagi pemakainya. Bahan kulit domba yang lembut memberi kenyamanan pada sepatu desain ini. Tak sederhana, karena Marista menambahkan suede dan bling-bling untuk mempermanis koleksi. “Penambahan detail macam ini yang menjadi ciri khas saya dalam desain. Kalau hak ya nggak hanya hak saja, tapi ada aksen,” tambahnya.

Detail ini yang kerap dipasangkan senada dengan busana karya Deny Wirawan yang dikenakan pada saat itu. Di beberapa koleksi, Denny memuji karya Marista. Tidak hanya sekali ini mereka berkolaborasi walau belum ada showroom. Baru hari ini, showroom Marista Santividya dibuka di Jl. Kemang Raya no. 9E, Jakarta Selatan, dengan nama butik SHOE etc. Karena di sini bukan hanya sepatu, tapi juga busana karya Denny, dan aksesoris karya desainer lain. Untuk sepatu, butik ini juga memajang second line Marista dengan brand Shunique. Brand ini mengusung sepatu remaja dengan kisaran harga Rp 250.000,- hingga Rp 600.000,-. Sedangkan kisaran harga first line Marista Santividya antara Rp 700.000,- hingga Rp 4 juta.

“Saya butuh waktu 3 tahun sampai pede membuka showroom,” tambah Marista. Walau dari nenek dan ibunya juga desainer sepatu, Marista butuh belajar desain, bahan, hingga produksi untuk merealisasikan sepatu tersebut. Produksi merupakan bagian tersulit dalam menghadirkan sepatu. Tidak mudah mengubah mindset perajin yang sudah lama mengerjakan dengan mode sepatu tertentu, lantas mengerjakan desain Marista. Kini ia sudah punya 10 perajin sepatu yang cukup bisa diandalkan.

Selain perajin, bahan juga menjadi tantangan lainnya. “Saya menggunakan semua bahan ini bahan lokal. Kecuali aksen kristal masih impor,” jelas Marista. Karena bahan susah dan tidak beragam, maka harga sepatu menjadi lebih tinggi. Ia berharap, akan bermunculan desainer sepatu yang lain sehingga industri sepatu Indonesia berkembang. Bila industri berkembang, maka pemasok bahan tidak akan ragu-ragu untuk menghadirkan ragam bahan. Maka sepatu lokal Indonesia akan punya daya saing dan harga terjangkau. “Setiap desainer punya ciri khas,” tambah Marista untuk tidak takut bersaing dengan desainer lain, jika memang industri sepatu Indonesia lebih berkembang.

Koleksi Sepatu dan Butik Marista Santividya

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *