DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

Fashion Report

Para Ksatria Melintasi Waktu

By  | 

fbudi67ss17dr030

Dewi Fashion Knights selalu punya “ksatria” pilihan yang menutup Jakarta Fashion Week tiap tahun, kali ini untuk ke-9 kalinya. Mengusung tema besar Cycle of Time and Culture, Dewi Fashion Knights memperkenalkan keenam ksatria mode-nya yaitu Didi Budiardjo, Felicia Budi, Maha – Major Minor, Saptodjojokartiko, Toton, dan Vinora.

Maha – Major Minor membuka Dewi Fashion Knights 2017. Lini luxury ready-to-wear dari label besutan trio Ari Seputra, Sari N. Seputra, dan Inneke Margarethe ini menampilkan satu set koleksi yang terinspirasi oleh sang maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh beserta karya-karya lukisannya. Sebagaimana ciri khas Raden Saleh yang mengusung romantisme dan unsur realis tiap kali bercerita dalam kanvas, Maha – Major Minor menyuguhkan koleksi busana dengan garis rancang tegas dengan aksen militer namun tetap mempertahankan kesan romantis. Kesan ini ditampilkan melalui pemilihan palet warna lembut di antara dominasi warna-warna gelap misal  hitam, biru dongker, dan merah marun.

Mengungkap masa lalu, di bawah bendera label fbudi, Felicia Budi membuka kotak kenangan masa kecilnya di Kota Semarang. Pengalamannya dibesarkan di keluarga peranakan Tionghoa memberikan khasanah budaya yang ia miliki bercampur. Melalui koleksi busana yang diberi tajuk Anak, Felicia Budi seolah mendekonstruksi citra masyarakat peranakan. Koleksi fbudi lebih mengedepankan siluet feminin yang dipadukan inspirasi masyarakat peranakan yang tinggal di wilayah pesisir. Perpaduan warna cerah yang ringan seperti kuning, merah muda, biru pun dipilihnya untuk menampilkan keragaman budaya peranakan. Sementara itu, gaya androgini yang memperlihatkan keluwesan ukuran dan padupadan busana, semisal rok sebagai gaun atau jubah) ia jadikan bagian utama dari koleksi busananya kali ini.

Bila fbudi menampilkan warna-warna cerah, kesan dingin dan misterius kita dapatkan di koleksi-koleksi busana yang dihadirkan Toton. Deretan busana kaya detail dalam warna-warna pucat dan gelap membawa perasaan muram. Di koleksinya kali ini, Toton memang ingin menyampaikan sisi gelap perasaan karena inspirasi merancangnya datang dari syair-syair tentang kehilangan, rasa yang tidak terungkapkan, dan sebentuk salam perpisahan. Baginya koleksi kali ini serupa lapisan-lapisan karakter dan kepribadian manusia yang terbentuk dari keragaman latar budaya yang dimiliki masing-masing individu. Lapisan-laporan karakter inilah yang ingin ditranslasikan Toton melalui delapan koleksi busana yang terdiri dari 8 look itu diperkaya teknik bordir dalam bahan tenun wol, sutra, dan kain kinran.

Dari rasa, berpindah pada pergolakan identitas di koleksi Vinora. Pengalamannya tinggal di luar negeri memberikan pergolakan tentang identitas dalam dirinya. Ia menolak terkungkung dalam satu identitas etnis dan menawarkan pendekatan warga dunia (world citizen) dalam memandang berbagai fenomena kebudayaan. Dalam koleksinya 3rd Culture Kids, Vinora menuangkan gagasannya tentang warga dunia dalam rangkaian busana berwarna monokromatik. Warna putih, hitam, abu-abu, dan krem mendominasi koleksi terdiri atas gaun, celana panjang, atasan berpotongan asismetris, jaket, dan kulot.

Pada kali keempat keterlibatannya dalam Dewi Fashion Knights, Saptodjojokartiko  melansir koleksi Prét-A-Couture 2017. Mengambil inspirasi dari gaya busana film fiksi ilmiah The Man Who Fell To Earth yang rilis di tahun 1976, Sapto dengan jeli memotret gambaran The Thin White Duke, tokoh utama film yang diperankan secara apik oleh David Bowie. Melalui koleksinya, Sapto mengadaptasi dan merekonstruksi ulang teknik menjahit dalam tiap pasang koleksi hingga mendapatkan kesan yang tidak hanya feminin dan anggun, namun sesekali berkesan androgini. Dalam permainan detail busana, ia menyelipkan motif-motif unik yang diilhami oleh motif anyam-anyaman tradisional Indonesia seperti janur, kembang mayang, bleketepe, penjor, dan rotan. Di koleksinya kali ini Sapto secara konsisten mengaplikasikan warna-warna dari berbagai elemen di bumi semisal warna timah, warna tanah liat, warna awan, dan warna-warna kayu.

Sekaten oleh Didi Budiardjo menjadi penutup gelaran Dewi Fashion Knights. Diawali oleh arak-arakan tandu yang membawa model Paula Verhoeven diatasnya, Sekaten segera mencuri perhatian. Didi Budiardjo turut bercerita mengenai prosesi adat Grebeg Sekaten melalui rangkaian koleksinya. Gaya dandy military barat ia padukan dengan cara bangsawan Jawa mengenakan beskap dan kain yang sebenarnya memang terpengaruh gaya mode Eropa yang diperkenalkan oleh petinggi-petinggi kolonial di masa penjajahan. Salah satu yang paling menarik dari rangkaian koleksi Didi Budiardjo adalah aksesoris pelengkap berupa tutup kepala atau topi yang khas dikenakan abdi dalem kraton pada busana seragamnya. Koleksi kali ini sebagai wujud penghormatan pada sosok Pia Alisjahbana.

Demikian pemaknaan waktu dan budaya para ksatria mode yang dipilih melalui berbagai pertimbangan dan olah pikiran enam individu istimewa yang tergabung dalam Fashion Panel. Mereka adalah Jati Hidayat (Editor At Large Dewi), Herlina Widjaja (perwakilan Galleries Lafayette), Dian Sastrowardoyo (aktris), Chitra Subiyakto dan Jo Elaine (fashion stylish), serta Novie Susanti (Redaktur Pelaksana Mode Majalah Dewi).

Teks: Armadina Az / Foto: JFW

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *