DKNY Fall 2017 Collection

News

“Pilgrimage”, Ada Kisah di Setiap Langkah

By  | 

Photo by Arselan Ganin

Keseluruhan ruang pameran adalah kisah. Dari awal perjalanan Didi Budiardjo menjadi perancang busana, hingga kini. Kita bisa membaca kisah itu di setiap karya yang dipamerkan.

“Dalam rumah mode, saya adalah seorang ibu. Anda akan menyaksikan putri-putri saya. Yang sulung lahir di tahun 1989 dan yang paling bungsu lahir pada Oktober 2014 yang lalu,” kata Didi membuka Pilgrimage, pameran perjalanan Didi di dunia fashion selama 25 tahun. Bertempat di Museum Tekstil, Jakarta, pameran ini dibuka oleh istri gubernur DKI Jakarta, Veronica Tan Basuki Tjahaja Purnama pada tanggal 15 Januari 2015. Pameran yang berlangsung sampai tanggal 25 Januari 2015 ini merupakan rangkaian dari peringatan 25 tahun Didi berkarya. Dimulai dari peluncuran koleksi Couture 2015 Curiosity Cabinet dan koleksi Resort 2015 Criterion yang diperagakan pada tahun 2014.

Melihat pameran busana karya Didi di museum ini, seperti melihat kembali tapak demi tapak Didi berkarya. Felix Tjahjadi, art director, membagi peletakan busana berdasarkan tema. Bagian paling depan, disebut The Reflection. Di ruangan ini kita menemukan 2 busana rancangan Didi Budiardjo pada saat memenangkan lomba perancang busana. Di sinilah awal Didi berkarya. Lomba ini ia menangkan ketika masih bersekolah di Sekolah Mode Susan Budihardjo. Di ruangan ini dipamerkan juga coat merah karya Susan Budihardjo yang dibuat pada saat Didi masih bersekolah di Sekolah Mode Susan Budihardjo. “Karya coat merah ini tampak sederhana. Tapi lihat cutting-nya. Itu sangat sulit,” tambahnya. Di dinding, sketsa busana dan pola juga dipamerkan. Ada juga kolase karya Peter Sie, tokoh fashion Indonesia yang sangat dikagumi oleh Didi.

Berhadapan dengan ruang The Reflection adalah ruangan yang diberi nama The Atelier. Di ruangan ini kita menemukan tumpukan buku yang menjadi referensi Didi dalam mendesain. Kita juga bisa melihat mood board, inspirasi dan konsep dari beberapa koleksi busana. Selain itu, di sini juga ada dua busana yang pernah dipilih oleh editor fashion Muara Bagdja yang dimuat menjadi foto spread di majalah nasional. Pemuatan ini penting artinya bagi Didi. Sebuah perhatian yang menyemangati Didi pada saat itu, karena Didi masih desainer baru dari daerah.

Masuk lebih dalam lagi ke The White Forest. Di ruangan ini kita akan menemukan busana rancangan Didi Budiardjo yang berwarna putih dari masa ke masa. Meskipun hanya satu warna, namun terlihat sekali eksplorasi material di setiap koleksi busana. “Saya menyukai tekstur,” ujar Didi. Karenanya, selalu ada detail yang menjadikan warna putih polos ini menarik jika didekati.

Ruangan Boudoir atau yang disebut juga ruang Embroidery, kita akan melihat tekstur yang lebih rumit. Dipamerkan 3 busana Didi Budiardjo dengan detail sulam yang pernah dipamerkan dalam Embroidery Fashion Festival di Jakarta. Sulaman tersebut berasal dari Agam, Bukit tinggi, Sumatra Barat. Ada juga korset karya desainer Eddy Betty, sahabat Didi.

The voyage merupakan ruangan yang dipersembahkan untuk wastra nusantara. Ruangan ini berisi busana dan koleksi kain Didi Budiardjo. Mulai dari kain lunggi, tenun songket Sambas, kain tapis Lampung dengan tulisan Arab, dan gambar motif buraq. Ada juga sulaman umbul–umbul Bali, kain batik karya Panembahan Hardjonagoro Go Tik Swan, kain gringsing, dan kain tenun ikat ganda.

Ruangan The Voyage menyambung dengan ruangan “Gula Kelapa”. Ruangan yang menampilkan kebaya dan kain Indonesia. Disebut “Gula Kelapa” karena terinspirasi dari lambang dan semboyan kerajaan Majapahit yakni getih-getah. Getih (dalam Bahasa Jawa berarti darah) berwarna merah dan getah berwarna putih yang berarti tulang. Karenanya, di ruangan ini, semua kebaya yang ditampilkan berwarna putih dan kain berwarna merah. Salah satunya kebaya putih rancangan Didi Budiardjo yang dipakai Veronica Tan, istri Gubernur DKI Jakarta (2014-2019), ketika pelantikan suaminya tahun 2014. Juga kain batik karya Ibu Soed. Nama aslinya Saridjah Niung Bintang Soedibjo yang kita kenal sebagai pencipta lagu, khususnya lagu anak-anak, ternyata bisa membatik. Menurut Didi, kain ini dibuat atas perintah Bung Karno yang ingin ada kain batik campuran tradisional dan modern.

Tepat di depan ruangan “Gula Kelapa” terdapat ruang yang diberi nama Nocturne atau The Moonless. Ruangan ini merangkum koleksi busana Didi Budiardjo yang berwarna hitam. Di ruangan ini terdapat busana yang dibuat pada tahun 1994 dengan tema Nocturne yang artinya malam. Merupakan koleksi Didi sewaktu pertama bergabung dengan IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia). Dibuat dari material leather dengan detail emboss motif kawung. Dihias dengan aksesoris kalung dari Papua. Ada juga busana dari era Victoria, koleksi pribadi Didi Budiardjo.

Ruangan Paradisaea merupakan ruangan yang memamerkan koleksi busana berdetail bulu. Detailnya pun unik. Ada bulu yang dilukis motif dots, satu persatu menggunakan tangan. Selain itu, juga memamerkan karya desainer aksesoris asal London, Philip Tracey. Koleksi ini pernah dipakai Didi untuk show pada tahun 2000. Karya desainer aksesoris dari Indonesia, Rinaldy A. Yunardi juga dipamerkan.

Backstage merupakan ruangan yang dibuat serupa dengan area belakang panggung pada sebuah fashion show. Didi memamerkan koleksi busana berwarna merah yang ia pinjam dari klien–kliennya. “Saya pernah mengadakan fashion show pada tahun 1997 di museum ini. Tempat ini pada waktu itu merupakan backstage dari fashion show saya,” kenang Didi ketika menjelaskan ruangan Backstage. Tepat di sebelah kanan ruang Backstage terdapat ruangan yang disebut ruang Finale. Terdapat video fashion show Didi Budiardjo dari tahun ke tahun.

Berseberangan dengan ruangan Paradisaea terdapat ruangan Celestial atau The GleamingLights. Di ruangan ini terdapat 3 busana karya Didi dengan detail kristal. Salah satu busananya berasal dari koleksi Didi di tahun 2009, Liebestraum yang berarti “mimpi cinta”. Kedua baju lainnya berasal dari koleksi Didi, Clair De Lune dengan motif yang terinspirasi dari batik tirta teja.

Dalam ruangan The East terdapat koleksi busana Didi ketika ke Rusia. “Saya ingin bahwa ketika saya melakukan kunjungan ke suatu negara, ada emotional bound dengan penontonnya. Jadi saya mengambil tema Russian Ballet ketika show di Rusia. Sehingga mereka tidak merasa asing, meskipun dengan penambahan unsur budaya kita. Seperti songket Bali, tenun NTT, dan supaya lebih dekat, saya membuat busana yang terinspirasi dari matryoshka dan babushka yang merupakan baju tradisional mereka,” kata Didi saat menjelaskan busana di ruangan ini.

Ruangan The East ini terkoneksi dengan ruangan Orient. Di ruangan ini terdapat koleksi aksesoris koleksi Didi Budiardjo dari dinasti Qin abad ke-19. Selain itu juga busana koleksi Didi yang menggunakan material jacquard dari Tibet, vintage obi dari Jepang, busana dari dinasti Qin, rok dari suku Hmong perbatasan Thailand utara. Dalam ruangan ini ada juga beberapa kain nusantara dengan maksud bahwa semua motif yang ada di Indonesia kebanyakan merupakan motif yang berasal dari negara lain. Tepat di atas pintu ruangan terdapat plang pintu dari Tiongkok yang berarti “setia”. “Sebelum meninggalkan ruangan ini, saya ingin mengajak pengunjung untuk setia pada wastra nusantara,” kata Didi menjelaskan plang bertuliskan huruf Tiongkok berwarna emas.

Faith adalah ruangan terakhir dalam pameran Pilgrimage. Ruangan ini didedikasikan Didi Budiardjo kepada agama yang ia yakini. “Saya adalah seorang pemeluk agama Katolik, dan saya dibesarkan dengan pendidikan sekolah Katolik dari TK hingga SMA,” jelas Didi. Dalam ruangan ini terdapat koleksi busana Reverie (2013) dan Orient Express (2005).

Melalui pameran yang didukung oleh Museum Tekstil Indonesia, Perusahaan Gas Negara, dan Bakti Budaya Djarum Foundation, Didi Budiardjo bercerita melalui karya dari waktu ke waktu. Berawal dari lomba perancang busana, lantas mendapat kesempatan bertemu dan berkerja sama dengan orang–orang yang akhirnya sangat berjasa dalam perjalanan karir fashion. Pilgrimage, perjalanan fashion saya selama 25 tahun. Setiap exhibit membawa cerita tersendiri. Semoga cerita ini dapat Anda bawa semua ke dalam kotak memori Anda,” kata Didi Budiardjo.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Arselan Ganin

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *