DKNY Fall 2017 Collection

News

Pilgrimage, Perjalanan Didi Budiardjo Berkarya

By  | 
Didi Budiardjo

Didi Budiardjo

Di Indonesia, seorang desaigner fashion memamerkan karya-karyanya yang pernah dibuat selama dia berkarir bukan hal biasa. Dari sekian banyak desainer Indonesia yang tergerak menggelar pameran semacam itu adalah Didi Budiardjo. Dalam rangka memperingati perjalanan karirnya selama 25 tahun. Harapannya, upaya itu bisa menjadi salah satu sumbangan bagi penyusunan sejarah fashion Indonesia dari masa ke masa.

“Supaya pada jamannya bisa berbicara kepada generasi pada masa itu,” kata Didi saat bercerita tentang pameran fashion yang akan dilaksanakan pada tanggal 16-25 Januari 2015 mendatang, di Museum Tekstil, Jakarta. Pameran bertema Pilgrimage, akan memamerkan 70 set busana karya Didi dari tahun 1989, awal Didi berkarya di dunia fashion, sampai karya tahun 2015. Setiap busana bagi Didi adalah “cerita” pada saat busana itu dibuat.

Fashion itu jawaban dari tuntutan jaman,” tambahnya. Pengunjung yang melihat pameran diharapkan akan mendapat gambaran perkembangan dunia fashion selama 25 tahun terakhir melalui karya Didi. Busana yang akan dipamerkan merupakan karya otentik sesuai pada saat busana itu dibuat. Jadi bukan replika. Karenanya, beberapa busana yang sudah terjual dipinjam untuk keperluan pameran ini.

Setiap Ruang Punya Tema

Felix Tjahjadi, kali ini sebagai pengatur ruang pameran, menempatkan koleksi di 11 ruangan, mulai dari sketsa hingga busana. Tak hanya busana, tapi proses berkarya pun bagi Didi adalah sejarah dalam menemukan dirinya melalui karya. Karenanya, proses dia berkarya pun akan bisa kita lihat di pameran ini.

Proses ini akan kita lihat di ruang The Atelier, berupa reprensentasi saat ide mulai digarap. Ruangan ini akan berisi sketsa, foto-foto, tumpukan buku-buku, moad board, dan langkah awal selembar busana dibuat.

Dilanjutkan dengan The Reflection, menyajikan koleksi awal rancangan Didi. Ia menyebut busana pada koleksi ini sebagai “saudari tertua”. Kita juga akan melihat foto semasa sekolah, piagam, dan piala ketika memenangkan lomba rancang busana. Pada event inilah perjalanan Didi berkarya di dunia fashion dimulai.

The White Forest, berisi koleksi busana-busana berwarna putih. Berkebalikan dengan The Moonless, berisi busana serba hitam. Tak hanya itu, kebaya karya Didi juga akan dipamerkan di The Gula Kelapa. Keseluruhan kebaya nyonya/kebaya renda putih yang dipadupadankan dengan ragam batik akan dipamerkan di ruangan ini. Inspirasi warnanya dari bendera kerajaan Majapahit.

The Eastern, akan menampilkan karya busana yang dipengaruhi oleh budaya Tiongkok dan Jepang. Karya ini pernah digelar di Rusia bersama dengan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan.

The Gleaming Lights, menampilkan busana yang berkilauan. Sedangkan busana yang dibuat dengan sulam embroidery akan ditampilkan di The Embroidery. Karya ini pernah dipamerkan dalam Embroidery Fashion Festival di Jakarta atas dukungan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional, YSI (Yayasan Sulam Indonesia), dan PGN (Perusahaan Gas Negara). Ada juga busana dengan detail bulu akan dikumpulka di The Birds dengan aksesoris karya Rinaldi A. Yunardi.

Tak hanya karya busana, Didi juga mengoleksi kain tradisional yang akan kita lihat di The Gazing Room. Di sini juga akan ditampilkan kain koleksi Museum Tekstil.

Kemudian pengunjung akan diajak kembali ke ruangan yang menunjukkan proses Didi menyajikan karya. The Day Before, replika sebuah ruang belakang panggung seperti sedang mempersiapkan sebuah fashion show lengkap dengan busana berwarna merah.

The Day Before juga menunjukkan bahwa desainer tidak seorang diri berkarya. Ada orang-orang di balik layar, dari ide hingga busana bisa tampil di runway dan akhirnya ke pemakai. Pun dalam berkarya, beberapa orang punya arti penting bagi Didi. Karenanya, dalam Pilgrimage, hadir pula karya kolase Pieter Sie (1929-2011) yang dimenangkan Didi di sebuah lelang. Pieter Sie ini banyak menginspirasi Didi dalam berkarya dengan kain batik. Juga koleksi karya Muara Bagdja (1957-2012) yang telah berperan membawa Didi ke dunia fashion.

Tak hanya itu, karya desainer lain yaitu Susan Budihardjo, Adrian Gan, Eddy Betty, dan Sebastian Gunawan juga akan memperkarya pameran ini. Pada akhirnya, sebuah karya fashion bukan hanya ekspresi desainer tapi juga bagaimana pemakai bisa menangkap pesan yang disampaikan desainer. Bagi Didi, penghargaan tertinggi dari klien yang senang mengenakan karyanya. Kata Didi,” Busana bukan hanya tentang kain, tapi juga tentang kebahagian.”

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *