DKNY Spring 2017 Intimates, Sleepwear & Hosiery Collection

Stories

Presiden Joko Widodo, Sarung, dan Bahasa Keragaman

By  | 

Busana bukan sekadar material penutup tubuh. Busana adalah identitas. Busana bisa jadi adalah bahasa perlawanan terhadap sesuatu, tergantung bagaimana kita “membaca”.

Karpet merah itu digelar di depan tangga pesawat. Tampak foto Presiden Joko Widodo yang bersarung sedang melakukan hormat di hadapan sepasukan Paspampres yang berseragam militer.  Pada hari Minggu, 8 Januari 2017, Presiden menarik perhatian dengan sarung yang dikenakan dipadu dengan jas dan sandal selop saat kunjungan kerja di Pekalongan. Perpaduan busana macam itu tak umum digunakan Presiden RI dalam kunjungan kerja. Biasanya, bila mengenakan jas maka paduannya celana panjang dan sepatu pantofel. Bila mengenakan sarung, biasanya untuk acara yang berhubungan dengan acara umat Islam. Memang, menurut tempo.co pada hari yang sama menuliskan alasan Presiden mengenakan sarung yang disampaikan Kepala Biro Pers Istana Kepresidenan, Bey Machmudin, karena diagendakan akan menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pekalongan.

Lepas dari kepraktisan tanpa harus ganti busana untuk beberapa acara yang tentu saja mudah dilakukan oleh seorang presiden, apa yang dikenakan oleh seorang presiden bisa menarik perhatian bila dibandingkan dengan apa yang dikenakan bukan tokoh. Kita bisa membahas tentang bahasa apa yang ingin disampaikan, karena apa yang dikenakan seorang tokoh akan bisa diikuti penggemarnya.

Sarung dan Slogan My New Denim

Menurut Lenny Agustin, desainer busana, sarung tidak harus kain silinder sebagaimana yang umum kita kenal sehingga kita mengenal sarung Bugis, sarung Toraja, sarung Kalimantan, sarung besurek (Bengkulu), dan lain-lain. Kata “sarung” lebih ke teknik melilitkan kain atau membungkus. Maka kita mengenal istilah menyarungkan keris, artinya memasukkan keris ke “sarung” alias rangkanya (wadahnya). Menurut Lenny, kita bisa mengenakan kain batik atau kain tenun lain ke dalam tubuh dan menyebut diri kita bersarung. “Sarung yang dijahit sehingga membentuk kain silinder hanya soal kepraktisan saja,” kata Lenny ketika mengunjungi Kediri, September 2016.

Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, sarung (n) adalah selongsong yang dibuat dari kayu, kulit, atau logam tempat memasukkan keris (pedang dsb). Arti ke-dua adalah sampul, salut, pembungkus (bantal, tangan). Arti ke-tiga adalah kain sarung. Jadi KBBI pun tidak mendeskripsikan lebih lanjut tentang kain sarung itu apa.

Lepas dari soal definisi kamus, pemaknaan sebuah kata bisa disepakati oleh satu komunitas meski kemudian tak harus menjadi kata baku sesuai KBBI. Lenny memaknai sarung mewakili makna sarung bagi IFW (Indonesia Fashion Week) yang mengkampanyekan slogan sarong is my new denim. Slogan ini kemudian dilanjutkan oleh IFC (Indonesia Fashion Chamber), sebuah organisasi yang dibentuk tahun 2015 setelah Lenny dan kawan-kawan keluar dari IFW. Ali Charisma, national chairman IFC, mengatakan bahwa Indonesia perlu punya identitas yang bisa ditunjukkan dengan pemakaian sarung.

Jauh sebelum IFC dibentuk, Dina Midiani, desainer fesyen dan juga penggagas kampanye Sarong is My New Denim mengatakan bahwa semua orang punya denim, mengapa tidak semua punya sarung. Kampanye ini salah satu tujuannya adalah menjadikan sarung mendunia sebagai busana urban. IFW pada saat itu dan IFC kini punya cita-cita menjadikan salah satu budaya Indonesia (dalam hal ini produk budaya yaitu sarung) menjadi penyumbang fesyen dunia. Sebagaimana China menyumbang cheongsam dan Jepang terkenal dengan kimononya.

Cita-cita untuk menjadikan sarung “go international” bukan cita-cita sederhana ketika kita menilik bagaimana kisah denim mendunia.

Denim Yang Diterima Dunia

Denim merupakan kain yang dibuat di kota Nimes, Prancis. Sebuah material kokoh yang dibuat dari katun twill, ada pula yang menyebut dari wool maupun campuran sutra dan wool. Merujuk pada tempat, maka bahan ini dinamai Serge de Nimes kemudian disingkat menjadi de Nime, lama-lama populer sebagai denim.

Di Prancis, denim tidak seterkenal di Amerika ketika Jacob Davis dan Levi Straus membuat celana dari bahan denim dengan merek Jeans pada tahun 1873. Kekokohan meterial denim ini cocok untuk celana orang-orang pekerja tambang dan para koboi.

Kemudian bahan denim ini semakin meluas digunakan di Amerika, tak hanya oleh pekerja tambang dan koboi. Buku Fashion The Whole Story (2013) mencatat konsep desain yang bisa merajai Amerika pada tahun 1940-an mengalahkan dominasi fesyen Prancis. Salah satunya digagas oleh Claire McCardell, desainer ready to wear di Amerika, ia menerjemahkan desain Prancis ke dalam desain Amerika dengan tujuan produksi massal. Maka desain itu harus kasual, mencerminkan style pemakainya, dan tentu sangat Amerika. Tepatnya pada tahun 1942, Harper’s Bazaar meminta McCardell mendesain dengan memasukkan materi linen dan denim.

Kisah itu yang menjadikan material denim lebih luas digunakan bahkan diterima dunia. Soal bagaimana “menjejalkan” produk Amerika ke dunia memang ada konstruksi budaya. Ada masanya memang kita bangga menggunakan produk luar negeri dalam hal ini Amerika untuk menunjukkan tren dan modern. Lepas dari itu semua, konstruksi itu takkan berhasil jika produk yang dipromosikan tidak nyaman dikenakan dan tidak fungsional. Denim memenuhi kriteria sebagai busana kasual yang praktis untuk dikenakan sesuai dengan aktivitas orang modern yang sibuk. Selain itu, bisa diproduksi massal sehingga sebarannya meluas dan harganya terjangkau segala lapisan.

Dari kisah itu kita bisa melihat sebuah busana bisa diterima dunia ketika cocok dengan pemakainya di segala belahan bumi dan bisa diproduksi massal. Soal material, tentunya materi itu bisa didapat dengan mudah dan bisa dibentuk dengan berbagai desain. Untuk menjadikan sarung (baik itu sarung sebagai kain silinder) maupun kain Indonesia mendunia, kita juga harus melihat apakah sarung itu fungsional dan sesuai dengan aktivitas warga dunia. Juga bahannya, apakah materi ini bisa diproduksi massal dalam jumlah tertentu yang memungkinkan menjangkau seluruh dunia.

Busana Adalah Bahasa

Kembali kepada Presiden Indonesia yang mengenakan sarung yang kemungkinan menjadi viral di netizen. Di dunia nyata, bisa jadi paduan jas dan sarung di acara resmi yang tak terkait upacara keagaaman maupun upacara tradisional bisa ditiru banyak orang. Sebuah upaya untuk mengingatkan kembali soal keberagaman, khususnya keberagaman busana Nusantara.

“Gaya sarung ini dimiliki juga oleh negara-negara Asia lainnya. Tapi kata-kata sarong atau sarung itu populer di Indonesia,” kata Lenny. Maka menurut dia, tidak ada salahnya dengan gerakan mengenakan sarung ini. Kalau melihar dari sejarah Indonesia, dulu para pejuang memakai sarung dan peci untuk melawan mode penjajah dan menunjukkan sikap nasionalisme.

Busana memang tak sekadar bahan penutup tubuh. Pada awalnya, ketika manusia masih berburu dan meramu dan orientasi hidup masih seputar makanan, tempat tinggal, dan busana hanya berfungsi sebagai penutup tubuh untuk melindungi diri dari lingkungan. Oleh karena itu, bahan dan model penutup tubuh ini dari lingkungan sekitar dan fungsional, merupakan cara bertahan dari lingkungan yang merugikan tubuh. Misalnya di daerah dingin, manusia mengenakan kulit beruang untuk menghangatkan tubuh. Sementara busana ini tak cocok untuk manusia yang tinggal di iklim tropis. Selain terlalu panas, bisa menyebabkan jamuran di kulit.

Pada perkembangannya, busana meluas menjadi budaya dan ekspresi seni dari manusia. Buku Fashion The Whole Story mencatat bahwa warga dunia berbusana selain untuk memuja tubuh juga untuk menunjukkan identitas. Dari sana, kita mengenal busana khas dari berbagai negara. Di Indonesia, kita mengenal busana khas dari berbagai provinsi yang bisa kita kenali dari busana pengantin dan busana upacara adat. Beberapa masih mengenakan busana adat dalam keseharian.

Identitas ini tak hanya soal negara namun soal agama. Busana Timur Tengah yang kemudian dikenal umum sebagai busana muslim meluas di Indonesia karena sebagian mengakui berbusana model demikian adalah perintah agama. Kita tidak sedang memperdebatkan apakah berbusana “muslim” itu wajib atau tidak, hanya saja karena agama menjadikan busana ini meluas digunakan.

Tarik menarik dan dominasi dari satu kultur ke kultur lain kerap terjadi, sama halnya dengan menonjolkan identitas dalam hal ini identitas sebagai muslim. Meski sudah ada kompromi misalnya busana Timur Tengah itu dibuat dengan kain batik maupun tenun seperti yang kerap dilakukan oleh Dian Pelangi, beberapa orang masih ingin mengenakan busana dan kain Nusantara sebagaimana adanya. Mengenakan sebagaimana sarung dan peci bukan menggunakan kain sarung diubah menjadi kemeja misalnya. Sebagaiaman Presiden Joko Widodo mengenakan sarung untuk mengingatkan, Nusantara punya keragamanan berbusana karena keragaman geografisnya. Keragaman berbusana menunjukkan keragaman berpikir dan Indonesia dibangun dari keberagaman, bukan keseragaman.

Teks: Titik Kartitiani / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *