DKNY Spring 2017 Collection

Stories

Refleksi 25 Tahun Didi Budiardjo Berkarya

By  | 
Photo by Bayu Raditya Pratama

Didi Budiardjo

Fashion itu bukan seni, tapi memerlukan jiwa seni untuk membuatnya supaya bajunya ada soul-nya. Kalau tidak, just a piece of garmen. Sehelai kain aja.

Kalimat tersebut diucapkan oleh Didi Budiardjo, desainer busana, saat The Actual Style berkunjung ke studionya di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Didi tengah mempersiapkan fashion show untuk memperingati 25 tahun berkarya, 1 Oktober 2014. Rentang waktu yang tak singkat untuk seorang desainer bertahan dan mengembangkan karyanya.

“Dua puluh lima tahun bagi saya adalah satu perjalanan,” kata Didi. Sebuah proses yang akan dituangkan dalam 3 event perayaan yaitu fashion show Didi Budiardjo Couture 2015, Pameran Pengembaraan Mode Didi Budiardjo di Museum Tekstil Jakarta, dan pameran art instalation dengan tema sawunggaling. Rencana pameran di Museum Tekstil pada bulan Januari 2015. Sedangkan seni intalasi pada Februari 2015.

Peringatan berkarya tersebut bukan hanya sekadar perayaan, tapi ada yang ingin disampaikan Didi melalui tiga acara ini. “Saya ingin bahwa pecinta fashion Indonesia, masyarakat Indonesia mulai aware bahwa fashion is a serious business. Sehingga kita harus menyikapinya dengan lebih apresiatif,” harapnya. Didi merasa belakangan ini fashion karya desainer Indonesia sudah diterima dengan baik sekali. Para desainer merasa sangat beruntung. Karenanya, perayaan ini juga merupakan ungkapan terima kasih Didi bahwa ia bisa diterima setelah 25 tahun.

Elegi Industri Fashion Indonesia

Karya Didi yang terkenal memang gaun, khususnya gaun-gaun dengan sentuhan Eropa. Tapi sebenarnya, Didi banyak sekali memasukkan unsur tradisional di dalam karyanya. Mulai sulam, bordir, tenun, ikat, dan batik. Ia pun membina perajin di berbagai daerah untuk mengembangkan kain tradisional agar bisa sejalan dengan kebutuhan desainer. Salah satunya melalui YSI (Yayasan Sulam Indonesia) dan CTI (Cita Tenun Indonesia). Harapannya, minat masyarakat untuk kembali mempelajari dan memproduksi kain tradisional meningkat dengan adanya pasar yang terbuka. Pendapatannya bisa meningkat.

Berkomunikasi dengan perajin tradisional merupakan bagian dari perjalananannya dalam berkarya. Ada seni tersendiri untuk bisa menerjemakan bahasa dalam arti yang harfiah, juga ‘bahasa’ dalam arti sesuai dengan keinginan desain yang diinginkan. “Di beberapa daerah, walau kita sama-sama menggunakan Bahasa Indonesia, tapi tidak bisa saling mengerti,” kata Didi. Karena beragamnya logat yang menjadikan bahasa yang sama menjadi berbeda saat diucapkan.

Soal bahasa desain, desainer memang harus menjelaskan sesuai dengan pemahaman perajin. “Misalnya kalau kita ingin tenun warna merah, bukan pink, maka kita cukup bilang bikin yang warna merah. Kalau kita bilang merah ya jangan pink, nanti yang keluar pink,” kenang Didi dengan senyum. Selain warna, untuk motif yang bukan motif sakral, diubah ukurannya sesuai dengan kebutuhan desain. Dengan cara ini, maka kain tradisional bisa tampil menyesuaikan perkembangan. Motif-motif asli bisa dipelajari dan dibuat kembali.

Hanya saja, permasalahannya tidak hanya sampai pada desain. Ketersediaan bahan baku juga menjadi kendala yang harus diurai. Benang menjadi kendala utama untuk perajin tenung. Kain dan malam menjadi kendala untuk perajin batik. Karena sebagian besar masih impor. Hal inilah yang menjadikan biaya produksi tinggi, sehingga harga jualnya pun tinggi dan tidak bersaing. “Ini salah satu yang kami ajukan dalam usulan untuk presiden baru. Kebetulan saya menjadi salah desainer busana yang masuk dalam tim untuk memberikan usulan ke presiden baru. Draft-nya sudah selesai kami serahkan,” tambah Didi. Usulan itu salah satunya agar Indonesia punya fashion industry yang mandiri, dari hulu ke hilir. Mulai dari bahan mentah (kapas, serat, bahan pewarna), bahan baku (benang, kain), hingga menjadi bahan jadi. Bila kita punya industri busana yang mandiri, maka kita akan punya daya saing yang kuat. Bukan hanya sebagai buruh yang tergantung dengan negara lain.

Ready to Wear dan Buruh

“Katakanlah brand internasional produksi barang di Indonesia. Tapi kita kan hanya menjadi labour,” kata Didi. Bila ada tuntutan gaji buruh naik dan brand memindahkan pabriknya, maka Indonesia tidak punya kekuatan untuk melawan. Pengangguran akibat PHK (pemutusan hubungan kerja) dari pabrik garmen dan sepatu akan meningkat. Sementara brand akan mencari buruh semurah mungkin dari seluruh dunia.

Lain halnya jika Indonesia bisa membangun sendiri industrinya. Tenaga kerja Indonesia punya posisi tawar yang lebih kuat. Seperti dikatakan Didi bahwa fashion adalah bisnis yang serius. Seperti saat ini yang sudah berlangsung, fashion designer selalu membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membuat busananya. Seperti gaun buatan Didi yang semuanya buatan tangan, maka proses ini padat karya.

Dalam skala besar, industri garmen membutuhkan banyak tenaga kerja. Hanya sayang, menurut Didi, belum ada sinergi antara desainer, pengusaha tekstil, dan pelaku industri garmen. Masing-masing masih berjalan sendiri-sendiri.

Sudah ada perkembangan memang. Misalnya desainer busana mendesain untuk brand, dengan menggunakan namanya. Karya desainer terwadahi, brand juga punya desain yang lebih bagus. Hanya saja, di Indonesia, desain karya desainer walau pun untuk brand terkadang masih tinggi harganya. Ini karena keterbatasan kuantitas produksi bila dibandingkan dengan international brand. Brand skala internasional bisa memproduksi satu desain untuk pasar beberapa negara, maka biaya produksi bisa ditekan. Karya desainer ternama pun masih bisa terjangkau.

“Saya pernah punya ready to wear. Tapi ternyata tidak kepegang,” kata Didi. Membutuhkan pengawasan khusus, manajemen yang serius, dan tentu saja modal. Juga industri ready to wear akan menghadapi permasalahan rantai fashion industry di Indonesia. “Kalau ada partner, saya mau juga untuk bikin ready to wear lagi,” tambahnya. Kini ia masih konsen dengan style-nya, mendesain gaun. Seperti yang akan digelar 1 Oktober 2014.

Melibatkan Scenografer

Mulai awal tahun 2014, Didi sudah mulai mempersiapkan show ini. Selain mempersiapkan busana yang akan tampil, juga mempersiapkan acara panggungnya. “Rencananya lebih dari 50 looks, 3 di antaranya dengan songket Padang. Kebetulan saya dapat songket kualitas bagus,” jelas Didi. Songket tersebut akan diaplikasikan menjadi gaun, bagian dari ide fashion show dengan tema Curiosity Cabinet.

Curious cabinet itu idenya. Orang-orang sering mengumpulkan barang-barang yang ditaruh di curious cabinet. Ada kelompok kerang, serangga, dan lain-lain. Seperti ini,” kata Didi, menunjukkan mood board di belakangnya.

Di mood board itu terpajang banyak sekali gambar yang menginspirasi Didi. Dari mulai foto moment, gambar animasi, lanskap, busana, dan banyak sekali yang lain. Foto J.F. Kennedy bersalaman dengan Bill Clinton saat masih muda. Foto itu menarik perhatian Didi karena moment yang tak terduga. Tak seorang pun mengira, anak muda yang diajak bersalaman Kennedy itu pun kelak jadi presiden Amerika.

Juga foto tertawa seorang anak sambil mendekap sepatu. Sebuah foto anak di negeri yang sedang dilanda konflik saat mendapatkan bantuan sepatu. Ekspresi bahagia itu yang menarik Didi. Apalagi tak lupa fotografer menunjukkan pula sepatu si bocah yang sudah rusak.

Selain itu, Didi juga menunjukkan satu bait puisi bertuliskan huruf Arab. “Ini puisi cinta. Saya tidak bisa membaca. Seperti itulah cinta,” kata Didi. Cinta memang tidak perlu dibaca, tapi dirasakan. Begitu kurang lebih artinya.

Puisi itu yang menjadi ide dari tema pagelaran busana ini. Puisi cinta karya Jacques Prevert, penyair Perancis. Ada satu kalimat ‘in the forest of memory’, menginspirasi Didi untuk mengajak masyarakat menyusuri memorinya. Ingatan dari awal ia berkarya, 25 tahun silam hingga kini.

Ada 3 inspirasi yang direkatkan di mood board yaitu bucolic garden (bunga, serangga, kebun), dragon empire (kerajaan Tiongkok, naga, dan simbol-simbol), dan mermaid (sesuatu yang berhubungan dengan laut).

Untuk menerjemahkan ide itu, Didi melibatkan scenogafer. Termasuk untuk menggambar wujud makhluk-makhluk legendaris yang ingin disajikan dalam desain busana. Beberapa wujud makhluk legendaris ini akan menghiasi perayaan Didi. Ada dari Indonesia yaitu sawunggaling. Makhluk campuran antara ayam dan merak yang menjadi salah satu batik terkenal Iwan Tirta. Motif ini yang akan dijadikan ide dasar Didi membuat pameran instalasi bekerjasama dengan Iwan Tirta.

Selain itu hippocampus. Makhluk dengan kepala kuda, kendaraannya Poseidon. Juga hippocamus merupakan bagian dari otak yang menyimpan memori. “Saya akan mengajak masyakat masuk ke dalam memori saya,” ujar Didi di akhir perbincangan kami.

Teks: Titik K. / Foto: Bayu Raditya Pratama

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *